Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
30. Apartemen Baru


__ADS_3

Satria tidak membawa Firda ke mansion malam ini, ia takut di introgasi oleh bundanya, yah walaupun sekarang ayahnya pasti tahu dia sedang apa dan dimana.


Satria membopong tubuh Firda dan membawanya ke unit apartemen paling atas, ia tidak membawa Firda ke apartemen yang sama, melainkan ke apartemen baru.


Satria di bantu oleh salah satu bodyguardnya memencet tombol lip, tak lupa ia juga di bantu membuka pintu apartemen.


"Kau boleh pergi malam ini! Aku tak akan pulang ke mansion!" Ucap Satria dengan nada datarnya.


"Baik tuan! Saya permisi."


Satria membaringkan tubuh Firda dengan perlahan, ia juga ikut duduk di sisi Firda dan mengusap pelan mat sembab Firda.


"Ck!"


"Entah apa aku bisa sejauh ini masuk ke hidupmu!"


Satria langsung bangkit sambil menunggu Firda siuman, sebab Firda dan dirinya belum makan malam tadi sebelum pergi dengan alasan yang Firda buat yaitu ingin makan diluar.


Eungg…


Suara lenguhan panjang dari Firda terdengar jelas di telinga Satria yang sedang memainkan tabletnya, ia langsung menghampiri Firda yang perlahan membuka matanya.


"Aku dimana?" Tanya Firda pada sosok laki-laki yang ia lihat pertama kali.


"Kau ada di Apartemen!" Jawab Satria dan langsung membantu Firda untuk bangun.


"Ini apartemen baru!" Ucap Satria saat melihat wajah keterkejutan Firda.


"Hmm!" Firda. hanya mengangguk dan langsung menyandarkan kepalanya, ia menatap gedung yang menjulang tinggi dihiasi oleh lampu-lampu malam dari balik dinding transparan itu.


"Pukul berapa sekarang?" Tanya Firda saat melihat pergerakan Satria menuju kearahnya dengan membawa makanan dan paper bag berukuran besar.


"Masih pukul sepuluh malam, tapi kau melewatkan makan malam mu! Makanlah!!" Ucap Satria yang langsung menyerahkan makanan dan paper bag di sampingnya.


"Apa ini?" Tanya Firda menunjuk Paper bag.

__ADS_1


"Pakaian gantimu! Malam ini kau akan tidur disini, aku tak mau diintrogasi oleh Bunda karena membawamu dengan keadaan pingsan dan mata sembab!" Tutur Satria dan langsung duduk di sofa seperti posisi sebelum Firda bangun tadi.


"Kenapa kau begitu perhatian padaku?" Tanya Firda.


"Aku hanya tidak mau orang yang sudah ku beli mahal-mahal malah tiada!" Tutur Satria santai dan kembali memainkan tabletnya.


Hati Firda terasa terhantam ribuan batu mendengar perkataan Satria yang begitu menusuk, ia sadar akan dirinya yang hanya seorang wanita Belian, untung saja dia masih menjaga kehormatannya sampai saat ini.


Firda sedikit heran dengan laki-laki itu, kenapa ia ingin menikahi dirinya? Apakah ia belum cukup dengan membuatnya selalu terkekang dalam hidupnya? Pernikahan bukan sebuah permainan, Firda tak mau menikah dengan seseorang yang tak pernah ia cintai.


Firda menyuapkan makanan sedikit demi sedikit agar bisa memberikan energi pada tubuhnya yang kemas itu.


"Kau tak suka dengan makanannya?" Tanya Satria yang sejak tadi memang melihat wajah Firda yang berubah, apa karena perkataannya tadi? Apa ia terlalu berlebihan? Pikir Satria merasa bersalah, namun egonya bilang bahwa ia tak boleh merendahkan dirinya hanya karena seorang wanita.


Firda yang mendengar pertanyaan dari Satria hanya menggeleng sebagai jawaban dan melanjutkan makannya.


Firda hanya menghabiskan sebagian makanan di piring tersebut dan langsung turun dari kasur berjalan menuju Kamar mandi sambil membawa paper bag yang diberikan oleh laki-laki polisi itu.


Setelah berganti pakaian Firda menatap dirinya di cermin besar kamar mandi, ia menatap penampilannya saat ini, mata yang sembab, rambut yang tergerai dan sedikit berantakan, baju piyama tidur berwarna putih yang begitu kontras dengan warna kulitnya, untungnya piyama ini berlengan panjang, ia tak suka dengan piyama lengan pendek.


"Andai ayah ada disini! Firda pasti bahagia sama ayah dan ibu hiks! Firda cape, Firda mau ikut ayah aja!" Firda menghapus kasar sisa air matanya ia harus kuat. Namun ternyata air mata itu bukannya berhenti malah semakin deras keluar.


"Ayah, ibu tega banget sampai bikin ayah pergi, ibu juga tega udah jual Firda, tapi untungnya Firda dibeli tapi tidak dicelakai olehnya, justru ia malah kasih aku fasilitas dan kasih sayang dari orang tuanya, ayah katanya kalau mau hutang Firda lunas Firda harus nikah sama dia! Tapi Firda takut, Firda gak mau nikah sama orang yang gak Firda cintai, apalagi orang itu tak mencintai Firda, mau jadi apa Firda nantinya?"


Hiks…hiks…


"Ayah tahu? Firda dengar dari Pak Cahyo kalau Ibu sudah menikah lagi hiks… bahkan ayah belum tentu ninggalin kita bukan? Ayah!! Firda gak kuat dengan semua ini!"


Firda langsung membasuh wajahnya setelah tangisnya mulai mereda, ia kembali menatap kaca dan melihat wajahnya dengan mata yang semakin sembab.


Firda keluar dari kamar mandi dan langsung melihat Satria yang berdiri di depan dinding transparan sambil menghadap ke depan.


"Apa kau tidur di kamar mandi? Lama sekali!" Ucap Satria tanpa mengalihkan pandangannya.


Firda diam tak menjawab pertanyaan Satria.

__ADS_1


"Apa kau bisu?" Tanya Satria geram saat tak mendengar jawaban dari Firda, ia juga langsung membalikkan badannya dan melihat Firda yang menatapnya dengan tatapan kosong.


"Kau kenapa?" Tanya Satria heran dengan mata sembab Firda yang semakin bengkak. Apa ia habis menangis barusan? Apa karena perkataannya tadi?


Hati Satria terasi tersentil dan terasa di peras, kenapa ia begitu peduli pada gadis itu? Apakah benar ia hanya ingin mempermainkan gadis itu? Atau ia mencintai gadis itu dan tak mau kehilangannya?.


Memikirkan hal itu membuat dirinya geram sendiri, bahkan ia tak pernah sebimbang ini sebelumnya dalam memikirkan hal apapun.


Satria menghampiri Firda yang hanya melamun itu.


"Ada yang mengganggu pikiranmu hmm?" Tanya Satria pada Firda.


Firda menatap Satria teduh.


"Jangan memberikan aku secuil perhatian apapun padaku! Ku mohon!" Pinta Firda memelas.


"Ada apa denganmu?" Tanya Satria heran dengan posisi masih berdiri di hadapan Firda.


"Sebenarnya aku tak mau menikahi orang yang tak aku cintai, itu prinsip hidupku sejak kecil!"


Satria yang tahu arah pembicaraannya pun langsung mengerti.


"Maka belajarlah mencintaiku!" Firda menatap laki-laki didepannya dengan tatapan yang sulit diartikan, apa ia tak memiliki rasa berprikemanusiaan? Ia menyuruhnya mencintainya sedangkan ia hanya menganggapnya sebag tawanan karena telah ia beli, Firda sungguh tak habis pikir dengannya.


"Kau memang tak akan mengerti!" Ucap Firda dan langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Satria.


Satria yang tak mengerti kali ini dengan gadis didepannya, apa sebenarnya yang ia mau? Bukankah ia sendiri yang bilang tak mau menikahi orang yang tak ia cintai, memangnya ia salah menyuruhnya untuk mencintai dirinya? Hidup itu harus simple bukan? Pikir Satria heran.


Satria yang melihat Firda sudah mengejar mimpinya langsung pergi keluar dari kamar itu dan beralih pada kamar yang disebelahnya, ia juga ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa letih ini.


Apartemen ini adalah apartemen yang luasnya dua kali lebih besar dari yang sebelumnya, pasalnya ini adalah hadiah pemberian dari Kakeknya Edward, kemarin tiba-tiba ia dikirim sertifikat kepemilikan sebuah Apartemen yang luasnya bukan main dengan pesan singkat secarik kertas didalamnya yang masih Satria ingat.


..."Hai Boy! Ini hadiah pertama untuk calon cucuku dan calon menantu William! Semoga ia suka!"...


...Edward Arnold William...

__ADS_1


Yah benar! Ini Apartemen atas nama Firda, Satria memang belum memberitahu Firda, menurutnya Firda harus tahu dari Kakeknya langsung saat kakeknya ke Indonesia nanti.


__ADS_2