Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
42. Demam


__ADS_3

Firda menatap gundukan tanah yang baru ia siram dengan air mawar dan di taburi bunga segar dengan tatapan sendu, matanya sudah sembab karena terus menangis selama Dafa di urus jenazahnya.


Sore ini, Firda mengikuti acara pemakaman Dafa untuk melihat kepergian Dafa yang terakhir kalinya, Dunia Firda sudah runtuh saat ini, tak ada lagi lentera penerang hatinya, semuanya sudah padam seketika, harapannya Dafa masih bisa selamat ternyata cuma khayalan semata.


"Ayah! Firda bakal rindu ayah terus! Maka dari itu, hadir saja walau hanya dalam mimpi pun!"


"Ayo kita pulang! Sebentar lagi hujan!" Satria mengulurkan tangannya yang langsung diraih oleh Firda untuk membantunya berdiri.


Selama di perjalanan Firda hanya diam tak bersuara, matanya sudah terlalu cape akibat terus menangis seharian ini, perlahan matanya tertutup dan terlelap dalam tidurnya.


Satria yang menyadari itu langsung menurunkan kursi penumpang disampingnya agar Firda nyaman dalam tidurnya dan tidak akan sakit jika terbangun nanti. Setelah itu, Satria melanjutkan perjalanan menuju mansionnya, yah sesuai permintaan Amera untuk membawa Firda ke mansionnya agar bisa Amera dan Sintia hibur.


Sesampainya di mansion Satria tentu di sambut oleh setiap pengawal yang berada di luar gerbang, dua mobil bermerek kini masuk ke halaman luas mansion keluarga William. Tak lupa Satria memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang kini sudah berjejer rapih bersama mobil keluarganya.


"Hey bangunlah! Kita sudah sampai!" Satria menepuk pipi Firda pelan untuk membangunkannya, namun ternyata tak ada pergerakan sedikitpun dari Firda.


Satria keluar dan langsung berjalan ke arah penumpang.


"Tuan apakah nona tertidur?" Tanya Juan yang baru saja keluar dari mobilnya.


"hmm!" Jawab Satria dan langsung membuka pintunya.


"Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Juan lagi.


"Apa kau berpikir aku akan memberi izin untuk menggendongnya? Bahkan siapapun itu!" Tanya Satria dengan nada datarnya.


"Mak…!" belum sempat Juan selesai berbicara Satria sudah terlebih dahulu menyela ucapannya.


"Pergilah ke dalam! Katakan aku sudah datang!" Ucap Satria dengan nada pelan, ia takut jika Firda terbangun karena suaranya.


"Baik tuan!" Ujar Juan sambil menunduk.


' Kena kau tuan! Ternyata benar bukan kau telah menyimpan rasa pada nona? Ouh ayolah tuan! Nona sekarang bagian tugasku juga untuk melindunginya! ' Juan tersenyum senang saat memasuki pintu yang menjulang tinggi di hadapannya. Juan barusan sengaja bertanya seperti tadi kepada Satria untuk memancing emosinya, ternyata dugaannya benar.


Para maid yang kini melihat Satria menggendong Firda ala bridal style yang tengah tertidur itu dengan tatapan bahagia, bagaimana tidak! Bahkan mereka pernah berpikir kalau tuan mudanya tidak akan pernah menyukai seorang wanita.


Saka dan Amera menatap putranya dengan bangga, mereka tidak bertanya apapun karena memang suasananya sedang tidak baik saat ini melihat Firda yang kelelahan dan tertidur di perjalanan.


"Satya! Kamarnya sudah para maid bersihkan lagi barusan!" Tutur Amera saat putranya masuk ke ruang utama.


"Ia akan ke kamarku!" Tegas Satria pada bundanya.


"Satya! Kalian…"


"Percaya pada Satria saja Bund!" ucap Satria menyela Amera yang mungkin saat ini sedang berpikir macam-macam.

__ADS_1


Satria melanjutkan langkahnya menuju Lip agar lebih cepat sampai di kamarnya yang tepatnya berada di lantai paling atas.


"Tenang saja honey! Satria juga tahu batasannya!" Saka merengkuh tubuh istrinya posesif saat melihat sikap Amera yang mungkin sedang takut saat ini.


Tidak tahu saja Amera pada putranya, bahkan Satria pernah tidur berdua di apartemen tanpa sepengetahuannya, bahkan mereka pernah tidur satu Hoodie Bund!.


Kini, Satria merebahkan tubuh Firda di atas ranjang ukuran king size yang di pasang seprai berwarna abu-abu tua itu dengan cara perlahan.


Sedangkan Firda langsung bergerak gelisah saat Satria turunkan di atas ranjang.


"Sttt… tidur lagi saja! Aku disini!" Bisik Satria yang kini duduk di samping Firda yang tengah mengusap pucuk kepala Firda lembut.


Setelah dirasa Firda tidur lagi, Satria langsung beranjak untuk mengganti pakaiannya dan langsung menuju ranjang menemani Firda yang tertidur pulas saat ini.


Satria menarik tubuh Firda agar masuk ke dalam dekapannya, ia juga mencium aroma rambut Firda yang begitu segar di rongga hidungnya.


"Kau milikku! Selamanya akan menjadi milikku!" Gumam Satria yang kini langsung menutup matanya mengikuti Firda menemui mimpinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ck… sial! Kenapa kau tidak becus menghapus rekaman begitu saja hah?!!"


"Maaf nona! Rekaman CCTV itu seperti permanen entah kenapa alasannya, mungkin karena apartemen itu bukan sembarang orang pemiliknya!"


"Saya pernah mendengar bahwa pemilik apartemen itu merupakan salah satu keluarga William! Tapi saya tidak tahu siapa orangnya!"


"Sial…Sial…!!!! Kau coba lagi nanti akan ku bayar kau sepuluh kali lipat dari ini!"


"Maaf nona! Saya takut komputer saya malah rusak gara-gara membobol CCTV berbahaya itu!"


"Pergi kau dari sini! Bayaranmu hanya setengah dari yang aku janjikan!" Wanita itu melempar amplop berwarna coklat itu ke hadapan pria yang ada di depannya.


Wanita itu tak lain adalah Ansela yang mencoba membobol CCTV di apartemen yang menunjukkan bahwa suaminya bersalah, Ansela tahu kalau Rangga melakukan hal menjijikan itu, tapi ia yakin Rangga seperti itu karena di goda oleh mantan kekasihnya yang tak lain adalah Firda.


"Jika wanita itu tidak ada disana saat ini! Bagaimana paket yang ku kirim itu? Apakah sudah ia buka? Ck… mengesalkan sekali!" Yaps… paket yang Ansela maksud adalah aksi teror yang di terima Firda malam hari kemarin.


Berbeda dengan Rani yang tengah menenangkan putrinya saat ini, saat Karina mendapatkan kabar bahwa sang ayah telah di temukan dalam keadaan wajah yang sudah hancur membuat ia sangat terluka.


"Sudahlah Karina! Apa yang perlu kamu tangisi saat ini hah? Dia sudah tiada! bukannya dulu kau juga setuju jika rem motor yang ayahmu pakai kita gunting?"


"Ibu! Aku merasa bersalah pada Ayah!" Ucap Karina di sela isakan nya.


"Sudahlah! Rasa bersalah mu tidak akan membawa Dafa lagi ke dunia ini!"


"Ibu apa kita tidak keterlaluan pada ayah? Ayah kan tidak bersalah, yang salah hanya Firda si wanita tidak tahu diri itu!" Ucap Karina kesal.

__ADS_1


Rani mencengkram kedua bahu Karina erat.


"Kalau Dafa tidak kita singkirkan, Firda akan terus berlindung padanya! Dan hal yang lebih parahnya lagi kita tidak akan hidup enak seperti sekarang! Lihatlah Firda yang kini mungkin sudah di gilir oleh para pria hidung belang di club malam! Dia tidak hidup enak seperti kita saat ini! Sadarlah Karina Sadar!!!"


Karina membenarkan ucapan ibunya saat ini, Firda memang pantas mendapatkan semuanya, tapi apakah ayahnya juga pantas masuk ke dalam rencana mereka? Apa ini tidak keterlaluan? Tapi nasi sudah menjadi bubur bukan?.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Di…dingin…!" Gumam Firda tak karuan sejak lima menit yang lalu sambil terus menggigil.


Satria terbangun saat mendapat pergerakan dari sampingnya, ia membual matanya walaupun seret karena masih ingin tidur.


"Kau kenapa hmm?" Tanya Satria dengan suara seraknya.


"Satya! Ini dingin!" Satria langsung meraih remote AC di samping tempat tidurnya dan Langsung mengaturnya.


"Tidurlah! Ini masih lama untuk makan malam!" Tutur Satria yang langsung memeluk tubuh Firda.


"Dingin…di…dingin…!" Firda terus menggigil dan merancau tak karuan.


Satria yang aneh pada sikap Firda langsung mengecek suhu tubuh Firda. Dan benar saja dugaannya, suhu tubuh Firda sangat panas saat ini.


"S*it! Kau demam!!"


Dengan cepat Satria terbangun dan langsung meraih jaket di lemarinya dengan asal, ia juga membawa sepasang kaos kaki dengan asal juga.


"Bangun dulu! Pak Jaket ini!" Satria membantu Firda agar ia bangun dan langsung menahannya takut tiba-tiba terjatuh.


Setelah selesai Satria langsung memberikan selimut yang tidak setebal tadi pada Firda agar tida step pada tubuhnya.


Setelah itu Satria memukul tombol darurat di kamarnya dan langsung kembali naik keranjangnya untuk memeluk tubuh Firda yang terus bergerak gelisah.


"Sttttt… sebentar lagi dokter akan sampai!" Berbeda dengan kondisi mansion Satria yang kini tengah panik karena mendapat alarm darurat yang berasal dari Kamar Satria.


Satria mengetikan sesuatu pada Juan dengan Satu tangannya yang ia gunakan sebagai bantal kepala Firda. Nafas Firda begitu panas saat menerpa tubuh Satria, dan itu membuat ke khawatiran Satria bertambah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2