Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
46. Peluk Manja


__ADS_3

Sore tadi Firda meminta Satria membawanya ke Apartemen dengan alasan ia tidak enak jika sering di mansion, tadinya Satria mau menolak , tapi setelah dia melihat wajah Firda yang memasang Puppy eyes nya membuat Satria enggan untuk menolak.


"Lukanya Sudah di obati?" Tanya Satria saat melihat Firda yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sudah kok!" Jawab Firda berbohong.


"Bagaimana caranya?" Tanya Satria datar karena tahu jika Firda berbohong.


"Kau tahu tanganku tak dapat menggapainya bukan?"


"Kenapa kau tak meminta bantuan?"


"Ish…kau gila ya? Disini hanya ada kau dan aku!"


Satria langsung meninggalkan Firda yang masih berada deka di ambang pintu.


"Ta…tapi aku akan memakan obatnya tenang saja!" Ucap Firda menyusul Satria ke ruang tamu.


Namun sayangnya ia tak mendapatkan jawaban apapun dari Satria.


"Kau marah?" Tanya Firda yang langsung duduk di samping Satria, namun satria tak menjawab dan malah Fokus pada benda pipih berbentuk persegi.


Firda mengerucutkan bibirnya karena kesal, ia tidak suka jika di abaikan seperti ini, jari Firda menekan-nekan perut Satria dari samping dengan pelan.


"Satya!" Panggil Firda pelan dengan lembut.


Tanpa Firda sadari telinga Satria kini kian memerah seperti kebakaran, sial sekali dia kali ini, kenapa dia bisa se salah tingkah ini karena panggilan Firda yang menurutnya lucu di telinganya. Biasanya panggilan ini tak ada yang berani memakainya kecuali keluarganya, tapi gadis ini?.


"Satya!!" Panggil Firda lagi.


Dengan sekali gerakan Satria langsung menarik tubuh Firda agar masuk ke dalam dekapannya.


"Satya!" Panggil Firda lagi namun kali ini berada di pelukan Satria.


"Hmm!" Jawab Satria dengan gumaman.


"Kita tak jadi menikah ya Minggu ini?" Tanya Firda tiba-tiba.


"Hmm! Karena kau sakit!"


"Satya?"


"Hmm!"


"Kenapa kalau dipeluk gini tuh rasanya nyaman banget deh! Pelukan hangat ini sama seperti pelukan ayah padaku!"


"Modus!"


PLAK…

__ADS_1


Firda memukul tangan Satria lumayan keras hingga terdengar suara kulit yang beradu.


"Kamu kenapa gak bisa serius sih?" Tanya Firda yang masih tetap berada di pelukan Satria.


"Aku iri Sama semua orang termasuk kamu!"


"Perihal?"


"Segalanya!"


"Fi!" Untuk pertama kalinya Satria kini memanggil nama Firda dan dengan panggilan berbeda walaupun ia sedikit ragu.


"Hmm!" Jawab Firda sambil. mendongakkan kepalanya menatap wajah tegas milik Satria.


"Aku tidak pernah sedekat ini dengan wanita manapun! Jadi, Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku!!"


"Alasanmu yang sebenarnya membawaku ke hidupmu apa?"


"Aku juga tidak tahu! Yang jelas, kau wanita pertama yang membuatku penasaran!" Firda tersenyum menatap Satria.


"Aku hanya Gadis miskin kalau kau lupa! Apa yang mau kau banggakan dariku setelah menikah nanti?"


"Aku bisa membanggakan apapun yang ada pada dirimu, karena harta bukan segalanya dalam kehidupan!!"


"Satya! Aku akan membuka hatiku untukmu mulai saat ini!" Ucap Firda sambil mengelus rahang tegas Satria dengan lembut.


Dua sejoli berbeda jenis ini kini sedang bercanda tawa sambil menikmati makan malam mereka di temani oleh film yang diputar namun tak di tonton, sepertinya TV besar itu yang sedang menonton keasikan mereka berdua.


"Fi!" Panggil Satria pada Firda yang kini sedang bersandar di dada bidangnya dengan tangannya yang sedang merapihkan anak rambut Firda.


"Hmm!" Gumam Firda sambil memakan buah anggur.


"Dua hari lagi kau sidang!" Ujar Satria sambil tetap fokus pada rambut Firda.


"Sidang apa?" Tanya Firda santai.


"Sidang kasus dengan laki-laki brengsek itu!" Seketika anggur yang berada di tangan Firda langsung terjatuh.


"Aku tidak mau!" Tegas Firda sambil menekuk wajahnya.


"Hadap sini!" Perintah Satria pada Firda namun Firda hanya diam tanpa bergerak sedikitpun.


"Hadap sini!" Perintah Satria lagi.


Perlahan Firda membalikkan tubuhnya dan menatap Satria dengan wajah yang kusut. Tangan kekar Satria menangkup wajah Firda sambil merapihkan anak rambut yang mengganggu wajah Firda.


"Dia tidak akan di beri hukuman berat jika tidak ada korban di persidangan nanti, karena bukti saja tidak cukup dalam hukum!"


"Lawan rasa takutmu!! Aku akan disana bersamamu!!" Tutur Satria lembut agar gadis di depannya luluh.

__ADS_1


"Kau mau kan?" Tanya Satria lagi.


"Akan ku coba!" Satria menatap Firda dengan senyuman kecilnya.


"Good girl!!!" Ucap Satria sambil mengacak rambut Firda.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu!" Firda yang mendengar hal itu langsung menatap Satria seakan bertanya.


"Kenapa kau tidak bereaksi apa-apa saat ibumu membentak? Apa itu tidak berlaku pada ibumu?"


Firda menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan pelan.


"Waktu pertama kali tubuhku juga bereaksi, tapi lama kelamaan aku sudah mulai terbiasa dengan semua sikap ibu, mungkin karena hal itu!" Jawab Firda seadanya.


"Enak sekali dia! Dia yang pertama kali membuatmu trauma, tapi itu tak. berpengaruh jika ia yang melakukannya!" Desis Satria sambil mengeraskan rahangnya.


"Walau bagaimanapun dia tetap ibuku!" Ucap Firda dengan senyum kecutnya.


"Kau tak perlu menganggap wanita iblis itu sebagai ibumu!" Tegas Satria dengan aura dinginnya.


"Tidak semua manusia itu beruntung sepertimu Satya! Terkadang hal yang menyakitkan pun harus kita syukuri, karena mungkin kita tak akan sekuat ini tanpa sesuatu yang menyakitkan itu!"


Satria tertegun mendengar perkataan Firda, sifat Firda yang sebenarnya adalah ini bukan? Bolehkah Satria egois kali ini? Ia ingin meminta kepada tuhan agar gadis ini selalu bersamanya selama hidupnya.


"Kau terlalu baik!" Tutur Satria sambil mengelus pucuk rambut Firda.


"Aku boleh minta sesuatu?" Tanya Firda pelan.


"Katakan!"


"Aku mau ke makam ayah saat peringatan hari ke tujuhnya, selain itu aku juga mau membagikan nasi kotak untuk anak-anak panti asuhan! Bolehkah?"


"Tentu!!" Firda bertepuk tangan karena senang mendengar jawaban Satria.


"Tapi ada syaratnya!" Ucap Satria lagi yang membuat Firda terdiam.


"Apa?" Tanya Firda cemberut.


"Peluk Manja dulu untuk malam ini! Dan jangan melepaskan pelukannya sebelum aku melepaskannya!" Firda menatap Satria tak percaya, hey! Dimana polisi menyebalkan dan dingin itu saat ini? Apa dia sedang kerasukan? Pikir Firda saat mendengar nada bicara Satria.


Namun mau tidak mau Firda langsung menerimanya dan langsung masuk ke dalam pelukan Satria, Firda memeluk Satria begitu erat begitu juga dengan Satria yang tak kalah erat.


"Syarat Mu sangat gampang!" Tutur Firda yang masih bisa terdengar oleh Satria.


"Masih ada syarat yang belum ku katakan!"


"Kau memang selalu curang!"


"Satria Arnold William bisa melakukan apapun itu!!"

__ADS_1


__ADS_2