
Setelah pulang dari kantor sore tadi, Satria mengatur jadwal agar dirinya bisa terbang ke Paris malam ini, pasalnya ia melihat wajah istrinya yang sudah tidak sabar untuk pergi kesana.
"Satya! Aku harus bawa baju yang mana saja kesana?" Tanya Firda yang berada di ruang ganti pakaian.
"Tak usah membawa pakaian! Kita akan beli disana!" Ucap Satria.
"Tidak! Kau jangan terlalu berlebihan Satya! Lagian pakaian baru di lemari ini ada yang belum dipakai sama sekali!"
"Tidak ada bantahan! Kau ingin durhaka pada suamimu hmm?" Tanya Satria yang langsung menghampiri Firda.
CUP…CUP…CUP…
Satria mengecup wajah Firda yang cemberut.
"Ancaman Mu tak asik Tuan!" Ujar Firda kesal.
"Tapi aku suka gadis penurut sepertimu nona!"
"Terserah kau saja kalau begitu!"
"Good girl!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas tapi aku bicara Fakta mas!" Ujar Rani meyakinkan Riko.
Malam ini ia mengadu pada Riko tentang kelakuan Ansela yang kejam pada dirinya.
"Rani stop! Jangan Fitnah Ansela! Dia sedang sedih saat ini, kau tahu bukan kasus suaminya? Aku tak mau sampai menjatuhkan mental anakku sendiri!" Riko merangkul tubuh Rani agar istrinya tenang.
"AKU TIDAK FITNAH MAS!" Ucap Rani menangis tak terima, kenapa semuanya jadi seperti ini? Pikirnya kacau.
"Rani sayang! Tenang dulu oke! Aku tahu Ansela belum menerima kamu sebagai ibunya, tapi Ansela tak mungkin melakukan hal seperti itu! Sifatnya menurun dari ibunya yang begitu lembut di dalam!" Ujar Riko.
"Jangan pernah bahas mendiang istri kamu dihadapan ku Mas!" Tegas Rani yang langsung menghempas tangan Riko dengan kasar, ia juga langsung pergi dari kamarnya menuju kamar Karina.
"Rani! Maafkan aku!" Gumam Riko merasa bersalah.
Ansela tiba-tiba saja masuk ke kamar Riko dan langsung memeluk sang ayah.
"Sayang! Kau mendengar semuanya?" Tanya Riko dengan khawatir.
"No problem Ayah! Aku akan terbiasa nantinya!" Jawab Ansela dengan wajah meyakinkan sang ayah.
"Sayang! Maaf!" Ucap Riko membalas pelukan putrinya.
"Ayah tidak perlu meminta maaf pada putrimu ini! Ayah percaya padaku saja aku sangat senang!" Ujar Ansela.
"Ayah juga tidak tahu kenapa ibu sambung mu!"
"Ayah! Ibu pasti cemburu karena ayah terlalu dekat denganku! Ayah kumohon, walau begitu jangan pernah jauhi aku! Aku sudah kehilangan anak serta suamiku, apa ayah mau meninggalkan aku?" Suara Isak tangis Ansela begitu memilukan hati Riko Saat ini.
__ADS_1
"Sayang lihat ayah!" Riko langsung menatap waja putrinya.
"Ayah tak mungkin menjauhi putri ayu! Sebesar apapun kesalahan kamu, ayah pasti selalu membuka pintu rumah ini untukmu! Karena ayah rumah yang sebenarnya bagimu!"
Ansela langsung memeluk tubuh Riko kembali sambil menumpahkan kesedihannya, ini kesedihan yang sesungguhnya bagi Ansela, karena Riko selalu memaafkan kesalahannya sebesar apapun itu, perlahan ia akan membongkar semua perlakuan buruk Rani beserta Karina agar ayahnya membenci mereka.
' Lihat saja kedua rubah licik itu akan menyesal suatu saat nanti, setelah kalian yang sengsara, baru aku yang akan membuat anak pertamamu sengsara Rani! ' ucap Ansela dengan seringai iblisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau sudah siap?" Tanya Satria pada Firda yang tengah berjalan disampingnya.
"Hmm! Tentu!" Jawab Firda semangat.
"Kita akan memakai jet pribadiku agar tidak lama mengantri!" Tutur Satria.
' Sekaya apa sih laki-laki ini? Kenapa ia sampai memiliki jet pribadi segala! ' Ucap Firda dala hatinya tak habis pikir.
"Berapa lama kita di pesawat?" Tanya Firda penasaran.
"Sekitar 18 atau mungkin 20 jam mungkin!"
"Ouh ayolah Satya! Aku pasti sakit pinggang jika duduk selama itu!" Ujar Firda membayangkan hal itu terjadi.
"Nanti kau bisa meluruskan punggungmu di kamar! Diana terdapat kamar khusus untuk kita!"
"Really?" Tanya Firda tak percaya.
Tak lama mereka kini tiba di depan jet pribadi milik Satria, Firda benar-benar kagum dengan semuanya, anggap saja dia memang alay dan kampungan, memang itu kebenarannya.
"Ayo kita masuk!" Satria kembali menggenggam tangan Firda dan langsung berjalan masuk ke dalam jet pribadinya yang langsung disambut oleh para pilot dan pramugari khusus.
"Apa kau lapar? Kau belum memakan apapun sejak tadi sore!"
Firda mengangguk, sebab perutnya begitu perih sekarang, pasti asam lambungnya naik lagi saat ini, ia memang tidak boleh telat makan, namun kadang jika tidak diingatkan, Firda pasti lupa perihal makan saja. Ia memiliki asam lambung sejak masuk sekolah menengah pertama, pasalnya saat itu ia sering tidak dikasih makan oleh sang ibu.
"Kau mau makan apa hmm?" Tanya Satria saat mereka sudah duduk di dalam jet.
"Sepertinya aku mau makan yang berkuah!"
"Buatkan dua porsi makan berkuah tanpa mencampurkan kacang apapun didalamnya! Dan dua minuman jus alpukat!"
"Baik tuan! Mohon ditunggu beberapa menit!" Pramugari yang berada di sana langsung mengangguk pamit dan pergi dari hadapan kedua pasutri itu.
"Satya! Handphoneku mati!" Ucap Firda dengan nada sedihnya, bisa-bisanya ia lupa jika hari ini ia akan pergi jauh, gagal sudah rencananya untuk berfoto.
"Pakai saja punyaku!" Satria langsung memberikan ponselnya kepada Firda dengan enteng.
"Benarkah? Mari kita berfoto!" Ajak Firda dengan antusias.
Firda langsung duduk menggeser ke sebelah Satria dan langsung berpose beberapa gaya. Satria langsung menarik tubuh Firda agar duduk di pangkuannya.
__ADS_1
CUP…
Cekrek…
Secara bersamaan Satria mengecup bibir Firda singkat dan kebetulan sekali kamera sukses membidik posisi mereka dengan mesra tadi.
Firda langsung melihat hasil Fotonya tanpa protes dengan sikap Satria barusan.
"Bagus sekali hasilnya," Ucap Firda dengan berbinar.
Satria hanya tersenyum singkat melihat tingkah Firda yang menggemaskan dimatanya.
"Kirimkan padaku bolehkah?" Satria hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Firda langsung terpaku melihat satu kontak yang disematkan oleh Satria di WhatsApp nya, kenapa Satria menyematkannya? Dan OMG! Ada emoji love putih disana.
"MILIKKU♡"
"Kau kenapa hmm?" Tanya Satria melihat perubahan wajah Firda.
"Tidak!" Jawab Firda cepat, ia langsung meletakan handphone Satria di meja yang berada di sampingnya, Firda juga langsung berdiri dari pangkuan Satria dan duduk di kursinya tadi.
Firda langsung memandang pemandangan indah diluar lewat jendela pesawat yang sudah terbang sejak beberapa menit yang lalu.
Satria yang aneh langsung meraih ponselnya, ia langsung melihat room terkahir yang Firda lihat.
"Kau marah hmm?" Tanya Satria yang diacuhkan oleh Firda.
"Kau sedang marah gara-gara nama ini?" Tanya Satria lagi.
Sedetik kemudian ia tertawa geli dan langsung mengangkat tubuh Firda untuk kembali duduk di pangkuannya.
Satria memeluk tubuh Firda dari belakang sambil menyalakan kembali handphonenya, ia juga membuka aplikasi WhatsApp nya untuk memperlihatkannya kepada Firda.
"Kau bahkan tak mengenali nomor handphonemu sendiri hmm?" Tanya Satria ditelinga Firda.
Satria langsung membuka ruang chat mereka berdua, memang keduanya jarang sekali mengirim pesan, terkahir kali saat mereka tidak boleh bertemu sebelum menikah.
"Apa ini nomor handphoneku?" Tanya Firda saat melihat isi chat yang sama persis dengan pesan yang Firda kirim tiga hari yang lalu!"
"Kalau bukan kamu siapa.lagi hmm?"
Firda langsung memerah menahan malu atas perilakunya barusan,
"Sorry!" Ucap Firda pelan.
CUP…
"Tidak masalah! Aku justru senang melihat kecemburuanmu! Apa kau sudah membuka hatimu untukku?" Bisik Satria ditelinga Firda.
Jujur saja posisi mereka membuat Firda langsung membeku seketika mendengar suara serak Satria.
__ADS_1