
Firda menetralkan matanya dari cahaya lampu di hadapannya, ia menyapu langit-langit kamarnya untuk memastikan bahwa ia berada di apartemen sekarang.
"Engh…" Firda melenguh pelan saat perutnya terasa ada sesuatu yang menimpanya.
"Satya!" Gumam Firda saat melihat kepala Satria yang berada di atas perut Firda.
"Satya minggir dulu ya! Aku sesek nafas!" Ucap Firda pelan sambil mengelus rahang Satria.
"Hmm!" Gumam Satria tak jelas.
"Satya!!" Firda kembali menepuk rahang Satria pelan agar laki-laki ini sadar.
"Kamu udah sadar?" Tanya Satria dengan suara seraknya dan posisi matanya yang masih tertutup.
"Iya! Bangun dulu coba! Aku mau ke kamar mandi!" Satria langsung menurut dan bangun dari tidurnya, ia juga langsung mengangkat tubuh Firda seperti karung beras.
"Eh… aku mau di bawa kemana?" Tanya Firda karena kaget.
"Bukannya tadi ingin ke kamar mandi hmm?" Tanya Satria sambil menurunkan Firda di depan pintu kamar mandi.
"Aku gak lumpuh ya!" Ucap Firda kesal.
"Apa perlu ku antar ke dalam?" Tanya Satria lagi.
"Ish… mesum!" Ucap Firda yang langsung saja masuk dan menutup pintu sekeras mungkin.
Satria yang berhasil membuat Firda kesal tersenyum bangga sambil menyilangkan tangan di dadanya.
Setelah beberapa menit pintu kamar mandi terbuka menampilkan wajah Firda yang kaget saat melihat Satria yang masih berada di depan pintu.
Tanpa ba-bi-bu Satria langsung mengangkat tubuh Firda seperti tadi.
"Kau ini selalu seenak jidatnya ya!" Ucap Firda kesal saat Satria menurunkannya di tepi ranjang.
"Kau lapar?" Tanya Satria.
"Sejak tadi siang aku belum makan, mana mungkin aku tidak lapar!" Jawab Firda.
"Kau ingin makan apa hmm?" Tanya Satria sambil merapihkan anak rambut Firda.
"Aku mau Aya geprek!" Jawab Firda dengan mata berbinar.
"Akan ku pesankan!" Jawab Satria yang langsung memesan makanan melalui aplikasi gofood.
Satria langsung berjongkok dengan lututnya dan dengan tiba-tiba langsung memeluk. perut Firda yang kini duduk, ia membenamkan wajahnya di perut Firda.
"Satya kau ini kenapa sih?" Tanya Firda heran saat melihat perubahan Satria
"Sorry!" Hanya itu yang dapat di ucapkan Satria dengan posisi tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
"Untuk apa meminta maaf! Kau tak memiliki salah apapun!" Jawab Firda sambil mengelus rambut Satria yang hitam pekat itu.
Satria menatap wajah Firda dari bawah memastikan apakah gadisnya itu masih marah padanya.
"Kau tadi siang pasti marah padaku bukan?" Tanya Satria pada Firda.
"Tidak! Bukannya kamu yang marah padaku?" Tanya Firda dengan nada pura-pura sedihnya.
"Sorry!" Ucap Satria lagi.
Firda menata Satria gemas, pasalnya laki-laki itu kini menatapnya dengan tatapan sendu, mana Satria sang polisi yang berwibawa itu? Apakah ini sifat aslinya? Pikir Firda heran.
"Tidak masalah! Bukannya itu hanya salah paham saja bukan? Aku yang harusnya minta maaf! Berkas kamu semuanya hancur gara-gara aku! Sepertinya kamu benar telah salah memberikan aku kepercayaan!"
Satria langsung menggeleng sebagai tanda tidak setuju dengan perkataan Firda barusan.
"Aku yang bodoh telah marah padamu tanpa mendengar penjelasannya! Jangan menyalahkan diri sendiri ku mohon! Aku jadi lebih bersalah padamu!" Tutur Satria memohon.
"Makasih sudah percaya!" Ucap Firda tulus.
"Aku akan beri hukuman pada wanita itu! Mulai sekarang kau tidak boleh keluar tanpaku! Mengerti?"
"Kalau dengan Juan boleh?" Tanya Firda memancing Satria.
"Kamu jangan memancing ya!" Ucap Satria kesal.
Tanpa aba-aba Satria langsung mendorong tubuh Firda hingga tertidur di ranjangnya. Satria juga langsung mengungkung tubuh Firda dari atas hingga membuat Firda gugup dan kelabakan.
"Jangan pernah memuji laki-laki lain di depanku!" Ucap Satria dengan nada datarnya.
"Satya sepertinya pesanan makan malam sudah sampai di depan! Ayo kita makan!" Ajak Firda mengalihkan pembicaraan.
"Tapi sepertinya aku lebih memilih memakan mu saat ini!"
"E…eh mana bisa?" Ucap Firda gugup.
"Kata siapa tidak bisa hmm?" Tanya Satria yang semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Firda hingga tinggal beberapa centimeter lagi bibir mereka akan beradu.
CUP…
"Manis!" Ucap Satria dengan tampang tak berdosa nya.
"Mesum!"
BUGH…
Firda memukul dada Satria kesal karena perlakuannya barusan yang membuat nafasnya serasa terhenti.
"Satya aku lapar!" Firda memasang Puppy eyesnya agar Satria menyingkir dari hadapannya.
__ADS_1
Akhirnya Satria mengalah dan menyingkirkan tubuhnya dari hadapan Firda dan langsung merogoh ponselnya mengecek pesanannya tadi yang ternyata sudah tiba di depan beberapa menit lalu.
"Aku akan mengambil pesanan!" Ucap Satria yang langsung keluar kamar untuk membawa makanan pesanannya Firda tadi.
"Huh… Satria semakin meresahkan! Aku harus bilang sama bunda agar dia tidak datang ke apartemen sebelum kita menikah! Yah Sepertinya itu lebih baik!" Ucap Firda sambil terus menghirup udara banyak-banyak.
Firda mencari handphonenya langsung, setelah ditemukan ia langsung mengetikan sesuatu kepada Amera, ia memang tidak main-main, bagaimana jika Satria kelepasan nantinya, Firda harus jaga jarak dengan Satria mulai saat ini.
"Ayo makan!" Firda tersentak dan langsung melirik Satria yang kini berada di ambang pintu.
"Aku menyusul!" Satria langsung mengangguk dan pergi dari sana untuk menata makanan malamnya.
Firda menatap handphonenya yang bergetar menandakan notifikasi masuk ke dalamnya.
...Bunda Mera...
^^^"Bunda Firda mau minta bantuan sama bunda! Bisa gak kalau Satria suruh pulang ke mansion saja? Satria suka meresahkan! Lebih baik kita jaga jarak sebelum sah! Hehe"^^^
"Baik sayang! Nanti bunda kasih ceramah biar hati dan pikirannya terang!"
"Tapi kayaknya Satria gak akan melebihi batasnya deh sayang! Tenang saja! Kalau dia berani macam-macam, panggil bunda ya! :)"
Firda hanya membaca pesan Amera tanpa membalasnya, pasalnya ia sudah mendengar teriakan Satria memanggilnya dari ruangan apartemen yang kebetulan pintu kamarnya tidak ditutup kembali oleh Satria sehingga suara itu terdengar dari kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang kenapa kau begitu terlihat lelah? Hari ini kau pergi kemana saja memangnya?"
"Ah… aku hanya pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan, tapi sayangnya uangku di copet mas!" Jawab wanita paruh baya itu dengan lesu.
"Tapi kamu gak papa bukan?" Tanya Pria itu panik.
"Mas Riko tenang aja! Aku baik-baik saja!"
Yah mereka berdua adalah sepasang suami istri yang tak lain adalah Riko dan Rani.
"Aku akan transfer uangnya lagi ke rekeningmu! Kau jangan pikirkan uang itu!" Ucap Riko sambil mengelus kepala sang istri.
"Maaf ya! Kamu banting tulang malah uangnya melayang!"
"Sudah jangan dipikirkan! Uang bisa di cari lagi! Sedangkan keselamatan itu lebih utama bukan?"
Rani tersenyum simpul kepada suaminya, ternyata ia tidak salah pilih dalam memilih seorang suami, keberuntungan memang selalu di pihaknya.
Rani memang berbohong barusan, yang pemberian Riki semuanya diambil Ansela yang tadi sore sangat marah gara-gara dirinya gagal membawa Firda kehadapannya.
Tapi Rani tetaplah Rani yang licik, ia dapat melakukan apapun sekarang karena suaminya kaya, jadi masalah uang bisa Rani atasi.
' Ansela yang bodoh! Dia pikir aku akan menangisi uang yang ia ambil, bahkan uang suamiku lebih banyak dari yang dia ambil '
__ADS_1