
Ini sudah dua hari Firda menenangkan dirinya dengan cara berdiam diri di kamar, terkadang ia juga sekedar berjalan-jalan di sekitar mansion lebih tepatnya ke taman mawar putih yang dibuat khusus untuknya.
"Sayang? kau disini rupanya!" Ujar Satria lega saat mendapatkan istrinya yang tengah merendam kakinya di kolam renang yang ada di mansionnya.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Firda yang langsung mendapatkan ciuman di kedua pipinya, keningnya dan terakhir bibirnya.
Satria langsung membuka seragam kebanggaannya dan menyisakan kaos polos hitam lengan pendek yang mencetak roti sobeknya. Ia juga membuka celananya menyisakan celana pendek dan langsung duduk dengan kaki yang ia rendam seperti istrinya.
"Sudah merasa tenang hmm?" Tanya Satria sambil memeluk tubuh Firda dari samping.
"Kenapa ayah sembunyikan hal ini dari aku ya?"
"Karena seorang ayah tidak mau membuat putri kecilnya menangis!" Jawab Satria lembut.
"Pantas saja sikap ibu seperti itu, ternyata dia bukan ibu kandungku!" Ujar Firda sendu dan merasakan sesak di dadanya lagi.
***
Firda langsung membaca isi pesan di secarik kertas tersebut.
To: Firda Permata
..."Hai putri ayah! Kamu akan tetap jadi malaikat kecil ayah Firda Permata! Kamu adalah permata ayah di dunia!" ...
..."Selamat ulang tahun yang ke 20 Sayang! Kamu sudah dewasa ternyata, maaf ayah hanya bisa kasih kalung sederhana ini buat kamu, semoga kamu suka ya sayang!" ...
..."Ada yang ingin ayah katakan pada kamu akhir-akhir ini, rasanya ayah akan pergi jauh meninggalkan kamu sebelum kamu ulang tahun! Semoga itu hanya feeling saja ya sayang!" ...
..."Maaf! Setelah ini mungkin kamu akan membenci ayah! Tapi ayah mohon jangan terlalu lama membenci ayah ya sayang! Ayah benar-benar tulus menyayangi kamu!" ...
..."Firda Permata! Kamu bukan anak kandung ayah! Tapi walau begitu, ayah sudah menganggap kamu sebagai putri ayah sendiri, bahkan rasa sayang ini melebihi rasa sayang ayah ke Karina anak kandung ayah sendiri!"...
..."Maaf maaf dan maaf! Selama dua puluh tahun ayah telah memisahkan kamu dengan keluargamu nak! Ayah menyesal!" ...
..."Maaf kan ayahmu ini!"...
^^^Tertanda ^^^
^^^Daffa^^^
***
Kaget? Pasti! Sesak? Tentu! Bagaimana tidak? Seseorang yang ia anggap cinta pertama, nyatanya bukan ayah yang sebenarnya, lalu dimana keluarganya? Apa memang ia sebatang kara di dunia ini? Firda benar-benar sudah tak memiliki apapun di dunia, andai jika Satria tidak hadir dihidupnya, mungkin saat ini Firda sudah menjadi wanita yang paling menderita.
"Jangan pernah berlarut dalam kesedihan sayang! Kamu masih punya aku! Dunia kamu akan baik-baik saja selama ada aku!" Ujar Satria pelan.
__ADS_1
"Kamu benar! Aku masih punya kamu dan keluarga kamu!" Tutur Firda yang langsung menatap wajah Satria dan mengelus rahang tegasnya lembut.
"Jangan bersedih lagi! Itu sangat menyakitiku!" Ujar Satria lebih dan langsung mencium bibir Firda dengan waktu yang cukup lama.
"Bersihkan dirimu! Aku akan mengajakmu ke pasar malam nanti!"
"Sungguh?" Tanya Firda berbinar seakan melupakan kesedihannya barusan.
"Tentu tuan putri!"
"Mas! Kakiku keram!" Ujar Firda yang langsung merintih kesakitan saat kakinya merasakan sakit di dalam kolam.
"****! Berapa lama kamu merendam?" Tanya Satria khawatir dan langsung menarik tubuh Firda agar kakinya terangkat ke darat.
"Tiga jam mungkin, .shhh…!" Firda meringis sakit yang luar biasa pada kakinya.
Satria langsung menggendong Firda ala bridal style dan langsung berlari menuju Lip untuk pergi ke kamarnya. Ia menidurkan istrinya perlahan dan langsung mencari obat penghangat untuk kakinya agar kerjanya mereda.
Satria mengoleskan minyak kayu putih ke area kaki Firda yang begitu keras akibat keram, ia juga mengurutnya perlahan agar keram itu hilang perlahan.
"Jangan lakukan ini lagi pada tubuhmu!" Ujar Satria datar.
"Maaf!"
"Untuk tidak mengulangi hal yang sama lagi!" Jawab Firda tak enak karena mendengar nada suara suaminya yang berubah.
"Good girl!" Ujar Satria.
"Suah membaik?" Firda mengangguk da menggerakkan kakinya ke kanan dan kiri yang terasa enak tidak sakit seperti tadi.
"Mari membersihkan tubuh bersama!" Ujar Satria yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Firda, benar-benar mesum! Pikir Firda.
Namun Satria justru tidak takut dengan tatapan istrinya, justru ia senang melihat istrinya marah setalah dua hari ini hanya murung dan diam saja, Satria langsung membopong tubuh Firda ke kamar mandi karena perkataannya tadi itu adalah banar tidak main-main.
Namun Firda hanya pasrah saja apa yang akan dilakukan suaminya, karena jika dipikir sudah dua hari suaminya berpuasa karena sikap dirinya yang murung, pikir Firda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Firda dipaksa Satria untuk ikut pergi ke kantornya dengan alasan tidak mau berjauhan dengan istrinya itu, cukup dua hari kemarin saja.
"Malam ini kita makan di mansion Bunda!" Ujar Satria pada istrinya yang tengah bersiap-siap untuk ikut ke kantor polisi bersama Satria.
"Wah aku juga udah kangen banget sama Ayah dan bunda!"
"Kita akan makan bersama keluarga Farhan, sebagai tanda terima kasih waktu itu telah menyelamatkan kamu sayang!" Satria langsung mengendus leher jenjang Firda karena begitu candu aroma tubuh istrinya itu.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang berterima kasih, kenapa bunda harus repot-repot! Apa aku ke bunda aja ya buat bantu masak?"
"Big no baby! Biarkan para maid yang mengerjakan semuanya!" Firda hanya mengerucutkan bibirnya karena kesal tak mendapat izin dari suaminya.
"Sudah selesai hmm?" tanya Satria saat melihat Firda yang meraih tas ranselnya.
"Sudah Tuan Muda! Ayo Tuan Asisten Pribadimu sudah siap!" Satria terkekeh pelan dan langsung meraih pinggang Firda dengan posesif.
"Kalau saja tidak ada pekerjaan! Akan ku kurung kamu di kamar selama 24 jam!" Geram Satria sambil mencium pipi Firda.
"Ihhhh serem!" Ucap Firda dengan nada pura-pura takut.
Setelah sampai di lantai bawah keduanya langsung disambut oleh para maid dan juga terdapat Juan disana.
"Tuan apa kita sarapan diluar?" Tanya Juan.
Satria melirik Firda sebagai tanda istrinya yang memutuskan.
"Diluar saja!" Jawab Firda dan langsung di setujui oleh Satria.
Juan langsung mempersilahkan tuan dan nona mudanya untuk mendahului dirinya. Dalam perjalanan hanya ada celotehan Firda dan tentu Satria yang menjadi pendengar yang baik.
"Kita akan sarapan dimana? Kenapa tidak berhenti-henti?" Tanya Firda kesal.
"Sebentar lagi Nona!" Jawab Juan yang fokus menyetir.
' Bisa-bisanya kau lupa Juan! Bagaimana jika tuan muda mengamuk nanti! ' Ujar Juan dalam hatinya dan langsung memarkirkan mobilnya di halaman restauran yang sudah buka sejak pukul enam pagi.
Juan langsung membukakan pintu belakang untuk Satria yang terus menggenggam tangan Firda erat Agar tidak terlepas.
Sarapan hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam, untungnya restauran ini cepat saji, jika tidak habislah Juan karena ia begitu lupa tadi.
"Kau senang?" Tanya Satria melihat Firda yang terus tersenyum.
"Hmm! Tentu!" Jawab Firda dengan menampilkan senyumannya.
Keduanya langsung melanjutkan perjalanan menuju ke kantor polisi setelah melaksanakan sarapan.
.
.
.
.
__ADS_1