Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
50. Ngidam Sintia


__ADS_3

Kini Satria tengah diobati oleh sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Farhan. Farhan dengan telaten membersihkan setiap inci luka Satria agar tidak terlewati.


Berbeda dengan Firda yang kini menatap Satria dengan raut khawatirnya, Firda merasa bersalah sekali kali ini, kenapa juga laki-laki itu harus melindunginya? Apakah dia ingin dirinya berhutang nyawa padanya?


"Ini sakit sekali! Kau tak mau menguatkan ku?" Tanya Satria dengan menampilkan wajah kesakitannya sambil menjulurkan tangannya.


Laki-laki itu benar-benar gila kah? Bagaimana bisa Firda mendekati Satria yang kini bertelanjang dada karena pakaiannya dibuka untuk mengobati lukanya. Sejak tadi ia memang memperhatikan Satria, tapi tidak dengan tubuhnya.


Dengan ragu Firda mendekati Satria dan langsung memegang tangan kekar Satria, namun dengan gerakan cepat Satria membalikkan tubuh Firda agar ia leluasa memeluk tubuh Firda dari belakang.


Firda yang tidak siap hanya terpaku dan mematung atas perlakuan Satria, kini nafas Satria menerpa lehernya dari arah belakang yang membuat tubuh Firda seperti sengatan listrik.


"Kalau Lo lupa! Ini ada di rumah sakit Sat!" Ucap Farhan yang masih fokus mengobati luka Satria, ia baru lihat keanehan Satria jika sedang jatuh cinta, rasanya Farhan ingin muntah mendengar Satria yang pura-pura kesakitan tadi, biasanya luka besarpun ia tak bereaksi apapun, tapi ini? Ingin sekali Farhan menendang luka ini agar Satria benar-benar kesakitan.


"Gue gak pikun!" Gumam Satria sambil terus menghirup aroma tubuh Firda dari arah belakang.


"Lepaskan! Kau tidak punya malu?" Tanya Firda dengan berbisik sambil terus bergerak-gerak agar terlepas dari pelukan Satria, namun ternyata kekuatan laki-laki itu lebih besar darinya.


"Sat! Lo bisa diem gak? Ini luka Lo belum kelar!!" Ucap Farhan kesal karena tubuh Satria terus kesana kemari.


"Kau dengar? Kau ingin lebih cepat untuk terlepas bukan? Jadi diam lah sebentar lagi!!" Firda dengan terpaksa langsung diam, ia tidak mau jika malah membuat semakin lama dalam posisi ini.


Sedangkan Farhan memutar bola matanya dengan malas melihat adegan di depan matanya itu. Menyebalkan!!.


Setelah Sepuluh menit lamanya akhirnya luka Satria sudah di obati dan di tutup menggunakan perban, Satria juga menggunakan pakaian barunya karena baju yang ia pakai tadi. terkena banyak darah dan juga sobek, alhasil. Juan membelikan kemeja putih untuk tuan mudanya.


"Pembayaran udah gue transfer! Thanks!" Ujar Satria sambil mengancingkan kemejanya.


"Lain kali bayar langsung ke tempat administrasi didepan! Bayaran Lo gak ngotak! Lo pikir gue obatin luka sekecil itu bayarannya sampai bisa buat beli motor?" Ucap Farhan heran saat melihat nominal di handphonenya.


"Gue gak punya cash! Anggap lagi bagi-bagi hadiah aja! " Jawab Satria yang langsung meraih tangan mungil Firda dan pergi dari ruangan Farhan.


"Gak ada otak emang! Kasih biaya pengobatan kayak lagi bagi-bagi giveaway!!!" Tutur Farhan sambil menatap nominal yang di berikan Satria.


"Kamu mau nyetir sendiri?" Tanya Firda heran saat berada di parkiran mobil tidak melihat Juan sama sekali.

__ADS_1


"Juan ada rapat menggantikan aku hari ini!" Jawab Satria yang langsung menuntun Firda untuk masuk ke dalam mobil.


"Emangnya luka kamu gak sakit kalau nyetir?" Tanya Firda khawatir.


"Sakit! Tapi nanti juga ada obatnya!" Jawab Satria yang langsung masuk dan menyalakan mobilnya.


"Perasaan Kamu gak Nebus obat apapun barusan!" Pikir Firda heran.


"Obat itu langka!" Jawab Satria lagi sambil tersenyum miring sesaat.


Tanpa mau memikirkannya lagi Firda hanya mengangguk saja tanpa mau memperpanjang pertanyaannya yah walau di hatinya menatap Satria ragu, apakah ia kuat menyetir atau tidak? Pikirnya terus menerus.


Namun dugaan Firda salah, Satria memang benar-benar bisa melakukannya dengan baik, hingga kini mobil itu terparkir di salah satu tempat yang ingin Firda kunjungi.


"Kau mengingatnya?" Tanya Firda saat mobil mewah ini terparkir di salah satu angkringan, Firda saja sudah lupa karena kejadian tadi, tapi Satria masih mengingatnya walau dirinya sedang terluka.


"Aku bukan pelupa!" Jawab Satria yang langsung membuka pintu kemudinya dan langsung berjalan memutar dan membuka pintu penumpang Firda.


"Terima kasih!" Jawab Firda sambil keluar dari mobil.


"Hmm!" Gumam Satria sebagai jawabannya.


"Ambil sesuka hatimu!" Ucap Satria yang langsung menarik pinggang Firda dengan posesif saat melihat pedagang yang tak sengaja sedang melihat Firda walau hanya sebentar.


"Semuanya aku suka! Tapi aku ambil beberapa saja!" Ucap Firda karena tidak enak, lagian dia bisa membelinya juga lain kali bukan? pikir Firda.


"Ambil saja semuanya kalau begitu!!"


"Tidak! Tidak! Itu tidak perlu!"


Belum sempat Firda memesan, Satria sudah lebih dulu memesankannya.


"Saya pesan semua jenis makanan yang ada disini!" Firda menatap Satria tajam, baru saja ia akan memesannya dengan seenak jidat Satria memesan semuanya.


"Sudah ku bil-"

__ADS_1


Cup…


Satria mengecup puncak kepala Firda agar terdiam, dan benar Firda langsung terdiam karena malu dirinya jadi perhatian publik.


Kini Satria dan Firda sedang duduk karena pasti lama menunggu pesananya, bahkan kini handphone Firda saja sudah lowbat karena terus dimainkan dan semalam ia tak sempat mengisi data batrainya.


"Pakailah!" Ucap Satria yang langsung menyerahkan handphonenya saat melihat Firda cemberut akibat handphonenya mati secara tiba-tiba.


"Tentu!" Firda langsung memakai handphone Satria tanpa ragu, ia bahkan mendownload aplikasi tik tok untuk menonton video-video lucu.


Setelah beberapa lama akhirnya pesanan Firda yang banyak itu telah selesai, Satria juga menyerahkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar, yah walaupun itu kebanyakan tapi Satria hanya menjawab bahwa itu untuk tips si penjual.


Di dalam mobil tak ada percakapan apapun, yang ada hanya pemandangan Firda yang kini tengah memakan makanan yang barusan ia beli dengan lahap,


Satria tersenyum sekilas melihat Firda yang makan seperti anak kecil, saus yang berada sampai hidung pun ia atak menyadarinya.


"Kita ke mansion dulu sebentar!"


"Mawu apwa?" Tanya Firda yang masih penuh makanan di mulutnya.


"Telen dulu makanannya!" Ucap Satria tegas tak habis pikir pada gadis di sampingnya, bagaimana jika ia tersedak makanan.


"Mau apa?" Tanya Firda mengulang saat makanannya sudah di telan.


"Kak Sintia sedang ngidam!" Jawab Satria singkat.


"Ngidam apa?" Tanya Firda lagi.


"Ngidam aneh! Kali ini lagi nangis gara-gara gak bisa dikabulin!" Jawab Satria sambil menggelengkan kepalanya mengingat tingkah kakaknya yang akhir-akhir ini sering ngidam aneh.


"Emangnya apa yang kak Sintia mau?" Tanya Firda lagi.


"Dia ingin aku nembak pakai pistol!"


"Terus apa salahnya? Yang terpenting bukan menembak manusia kan?" pikir Firda aneh.

__ADS_1


"Masalahnya dia nyuruh nembak Nyamuk pakai pistol! Bisa gila gara-gara bumil satu itu!!" Pikir Satria pusing.


Sedangkan Firda menjatuhkan rahangnya mendengar penuturan Satria, apa? Jadi Kak Sintia ngidam ingin menembak pakai pistol dan yang di tembaknya hanya nyamuk? Sungguh Firda tak habis pikir.


__ADS_2