Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
39. Maaf


__ADS_3

Amera pamit pada sore hari tadi karena Saka sudah tiba di apartemen untuk menjemputnya. Kini Firda hanya berdiam diri menikmati angin sore di balkon kamar apartemennya, ia terus melamun memikirkan setiap perkataan Amera tadi, apa benar Satria mencintainya? Apakah secepat ini Firda membuka hati lagi? Setelah ia di kecewakan oleh sosok Laki-laki yang berarti dalam hidupnya dulu. Memikirkan laki-laki itu membuat rasa takut itu selalu muncul tiba-tiba.


Rasanya saat ini hatinya terasa hampa entah apa sebabnya Firda juga tidak tahu, apa mungkin ini karena Polisi menyebalkan itu tidak ada di sekitarnya sejak kemarin? Jika memang iya, tolong jangan berikan cinta ini dengan kondisi bertepuk sebelah tangan, karena itu menyakitkan.


Firda memandang langit sore yang begitu mendung menandakan hujan akan segera turun, Firda masuk ke dalam dan menutup pintu balkon takut hujan masuk ke dalamnya nanti. Ternyata cuaca sore ini memang turun hujan yang begitu deras, para pengendara roda dua yang baru pulang kerja pun terpaksa harus menunggu hujan sampai mereda.


Saat langit mulai menggelap dan hujan masih turun dengan derasnya tiba-tiba Firda mendengar suara bel Apartemen yang di bunyikan dari luar langsung pergi untuk mengeceknya. Saat membuka pintu ia kaget saat melihat laki-laki yang menyodorkan paket dan dengan perawakan yang kekar dan berbaju hitam.


"Ka…kalian siapa?" Tanya Firda takut, namun sejak tadi mereka hanya menundukkan kepalanya.


"Maaf nona mengganggu waktumu! Ini ada paket atas nama anda yang datang ke apartemen lama, namun salah satu dari kami membawanya kesini!" Firda langsung menatap kotak berukuran sedang itu dengan heran, pasalnya ia tidak memesan paket online sama sekali, pikirnya aneh.


Namun, Firda tetap menerima paket itu dan langsung menutup pintu apartemen kembali, ia sampai lupa ingin bertanya sesuatu pada laki-laki itu gara-gara paket ini.


Firda menaruh paket tersebut di atas meja di ruangan tamu karena ia ingin memasak terlebih dahulu karena perutnya tiba-tiba terasa lapar sekali malam ini.


"Rasanya aku ingin memakan samyang saat ini karena cuaca yang dingin!" tanpa berpikir panjang Firda langsung menuju laci-laci dan terdapat banyak sekali aneka macam mie instan disana, salah satunya mie samyang yang ia stok kemarin sore saat pulang bersama Juan, karena bahan makanan yang di kirim Emery dan Amera ternyata tidak ada mie instan sama sekali.


"Kayaknya enak nih kalau pakai telur dan juga keju mozzarella!" Pikir Firda yang langsung grecep mengambil bahan makanan yang ia maksud.


Setelah beberapa menit Akhirnya samyang yang ia buat kini telah siap di santap, Firda sampai tergiur sendiri dengan masakannya.


Karena cuaca begitu dingin Firda memutuskan untuk makan di ruang tamu agar kakinya bisa ia naikkan ke atas.


Firda langsung menyantap makanannya dengan menikmati setiap suapannya. Firda menaruh mangkuk yang sudah tak tersisa apapun di dalamnya di atas meja karena ia sangat enggan beranjak dari atas sofa ini.


Namun Firda tak sengaja menatap paket berukuran sedang tadi yang terdapat di atas meja juga, ia meraihnya karena begitu penasaran dengan isinya.


"Paketnya cukup berat juga ya!" Gumam Firda sambil membaca alamat yang memang dikirim ke alamat yang dulu, apa mungkin ia pernah tak sengaja memesan paket saat disana? Pikirnya aneh.


SREK…


Firda membuka kemasan paket di setiap helaian plastiknya.

__ADS_1


"Ternyata masih ada lagi ya?" Pikir Firda saat melihat kardus berukuran sedang lagi.


Saat membuka perekat pada bagian atas…


BRUK…


"Aaaaaaaaaaaaaa…" Firda menjatuhkan kotak tersebut karena kaget dan juga takut saat melihat isinya.


Ceklek…


Dengan waktu yang bersamaan seorang laki-laki masuk ke apartemen dan langsung disambut dengan teriakan gadis yang sedang ketakutan di atas sofa dengan darah yang berceceran dimana-mana, termasuk di switer berwarna biru muda yang gadis itu kenakan.


"****! JUAN!!" Yaps, yang datang adalah Satria diikuti oleh Juan sang tangan kanan. Juan yang mengerti langsung menghampiri kotak kardus itu dan melihat apa isinya.


Sial! Ternyata nona mudanya dikirim teror murahan seperti ini, disana terdapat kucing putih yang dilumuri darah hingga bulunya juga yang ikut berubah warna, jangan lupakan pisau yang masih menancap ditubuh kucing itu dan juga matanya yang sudah di congkel, sangat mengerikan jika dilihat-lihat, dengan cepat Juan membersikan semuanya dibantu oleh para bodyguard.


Dengan gerakan cepat Satria merengkuh tubuh Firda dan langsung mengangkatnya untuk dipindahkan ke ruang televisi. Isak tangis Firda terdengar jelas di telinga satria dan itu terasa menyayat hatinya saat ini.


"Sttttt… tenanglah! Semuanya baik-baik saja!" Satria terus mengelus helaian rambut Firda yang masih berada di pelukannya.


"It's ok! Mereka adalah orang yang tidak punya pekerjaan! Tenanglah!"


Untung saja gadis ini mungkin tidak sempat bernafas saat melihat kucing itu dan langsung menghempaskannya Waka ia juga terkena percikan darahnya, Satria jadi mengingat Firda yang memiliki alergi kucing.


"Lepaskan dulu baju penghangat mu! Ini kotor!" Tutur Satria pada Firda, perlahan Firda melepaskan pelukannya dan langsung mengusap pelan sisa air matanya.


Firda melihat percikan darah di sweater nya yang tercetak begitu jelas disana, dengan gerakan cepat Firda membukanya, untungnya ia memakai piyama tidur di dalamnya, walaupun piyama tidur itu pendek.


Sedangkan Satria menelan susah payah ludahnya melihat tingkah Firda seenaknya membuka bajunya di hadapannya, untungnya ia memakai baju lagi di dalamnya, bagaimana kalau tidak? Satria juga pria normal kalau Firda lupa.


"****! Damn it! Kau sering seenaknya membuka bajumu di hadapan orang lain seperti ini hmm?" Tanya Satria geram.


"Kenapa memangnya? Lagian aku memakai baju piyama lagi didalamnya!" Jawab Firda sambil menunjukan wajahnya yang cemberut.

__ADS_1


"Ck… mengesalkan!" gumam Satria kesal.


"Maaf mengganggu Tuan muda! Saya ingin menginformasikan bahwa Kami sudah membereskannya!" Ujar Juan yang kini menghadap pada Satria.


"Tunggu di ruang tamu dahulu!"


Juan langsung mengangguk dan pergi dari hadapan Satria dan Firda.


"Kau masuk saja ke kamar!" Perintah Satria datar, dan tidak sehangat saat menenangkan Firda tadi.


"Kau masih marah padaku?" Tanya Firda hati-hati.


"Untuk apa?" Bukan malah menjawab pertanyaan Firda, Satria justru memberi pertanyaan balik.


"Maaf! Aku keterlaluan saat itu!" Firda menundukkan kepalanya karena malu.


"Kalau meminta maaf! Tatap orangnya langsung! Lagian tidak ada yang menarik di bawah!"


Firda mengangkat kepalanya dan menatap manik Satria yang tajam di padukan dengan alisnya yang memiliki tatapan elang dalam keadaan apapun.


"Maaf!" Hanya kalimat singkat yang bisa Firda ungkapan karena ia langsung lupa kata-katanya saat menatap Satria.


Jantung Firda tiba-tiba berdetak kencang menatap kediaman Satria sambil menatapnya, Firda meremas ujung piyamanya karena takut laki-laki didepannya ini marah lagi.


"Tunggu Aku di kamarmu!" Setelah mengatakan itu Satria langsung pergi dari hadapan Firda yang masih merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.


.


.


.


.

__ADS_1


.


..


__ADS_2