Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
52. Ancaman Anita


__ADS_3

"RANI! KARINA!" KEMARI LAH!!" Teriak Ansela menggema di rumahnya.


Rani dan Karina tergopoh-gopoh keluar kamar masing-masing saa mendengar teriakan Ansela yang begitu nyaring itu.


"Kau pikir kita tuli hah?" Ucap Rani dengan sangat kesal.


"Cepatlah!!" Ucap Ansela tak kalah kesal.


"Ada apa?" Tanya Rani saat kini sudah berada di depan Ansela.


"Ayah akan pulang nanti sore! Kalau kau mau terlihat begitu baik di depannya, maka kalian bereskan rumah sekarang juga! Karena para pembantu nanti siang baru sampai kesini!"


"Kau menyuruhku membereskan semuanya?"


"Kau pikir siapa lagi? Apa harus aku selaku nama pemilik rumah ini?"


Rani sudah tak tahan sebenarnya dengan sikap anak tirinya yang semakin hari semakin menjadi-jadi ini, tapi apakah dayanya? Dia tidak ingin keluar dari sini sebelum membawa uang yang sangat banyak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau ingin tetap bekerja?" Tanya Firda saat kini sedang merapihkan dasi Satria yang sengaja laki-laki itu berantakan sebelumnya.


"Hmm!" Gumam Satria sambil tetap fokus dengan wajah Firda.


"Kau pakai minyak wangi apa?" Tanya Satria tiba-tiba.


"Aku memakai yang ada di meja rias! Kenapa memangnya? Apa aku bau aneh?"


"Tidak! Hanya saja ini terlalu wangi!" Jawab Satria datar.


"Namanya juga minyak wangi bukan minyak bau!" Ucap Firda Heran.


"Selesai! Ayo kita ke bawah! Bunda sudah menelpon ku tadi!" Satria langsung mengaitkan tangannya dengan tangan Firda dan langsung berjalan ke keluar untuk menuju ke ruang makan.


Sesampainya di meja makan Satria maupun Firda tidak menemukan siapapun, kemana kakak dan ayah bundanya? Pikir Satria heran.


"Selamat Pagi Tuan muda!" Sapa salah satu maid.


"Dimana yang lain?" Tanya Satria sambil menggeser kursi untuk ditempati Firda.


"Nyonya dan Tuan besar sarapan diluar karena ada pertemuan mendadak tuan, sedangkan nona Sintia dan tuan kenzo pulang ke rumahnya barusan!" Satria hanya mengangguk dan langsung mengisyaratkan maid itu untuk pergi.


"kau mau sarapan apa hmm?" Tanya Satria pada Firda.


"Emhhh… aku ingin mie instan saja!" Jawab Firda lesu saat mengingat ia sudah lama tak makan mie instan.


"Ini masih pagi, tidak baik makan mie instan! Yang lain saja!" Firda menghela nafas pelan mendengar perkataan Satria.


"Yasudah! Aku makan nasi goreng saja!" Setelah mendengar itu Satria dengan cekatan langsung meraih Piring kosong dan mengambil nasi goreng di depannya.


Sedangkan Satria sendiri mengambil nasi, sayur dan juga ayam bakar kecap.


Akhirnya mereka berdua mulai sarapan, namun di tengah-tengah sarapan tiba-tiba Firda sangat tergiur dengan makanan Satria.


"Aku boleh mencoba makananmu?" Tanya Firda tiba-tiba.


Tanpa berpikir panjang Satria langsung menyodorkan sendoknya untuk menyuapi Firda dan dengan senang hati Firda menerimanya.

__ADS_1


"Ewnak!" Ucap Firda sambil mengunyah.


"Telen baru ngomong!" Tegus Satria melihat kebiasaan Firda.


"Boleh tukeran?" Tanya Firda lagi dengan senyum yang menampilkan giginya.


"Masih banyak! Biar ku ambilkan!" Namun tangan Firda mencegat tangan Satria yang hendak membawa piring baru.


"Tidak! Aku makan punyamu bolehkan?" Tanya Firda dengan wajah memohonnya.


Satria hanya bergumam pelan dan langsung menukarkan piringnya dengan piring Firda.


"Makanlah!" Ucap Satria sambil mengelus kepala Firda pelan.


Firda menatap senang makanan di depannya, Firda juga langsung melahap makanan yang sudah jadi miliknya itu. Begitu juga dengan Satria yang langsung melahap habis nasi goreng bekas Firda tanpa rasa jijik, bahkan sendok Firda tadi kini Satria pakai begitu juga Firda.


Setelah selesai mereka berdua melesat pergi menuju kantor polisi, hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagi Satria, ia harus mengurus berkas-berkas kantor ayahnya dan juga berkas kasus-kasus yang belum ia cek sejak dua hari yang lalu.


"Kau nanti berdiam diri saja di ruangan ku! Aku ada beberapa rapat hari ini! Aku akan kembali saat jam makan siang! Kau mengerti?"


"Dari pada aku melamun gak jelas lebih baik beri aku pekerjaan!"


"Baiklah nanti kau buat laporan bulanan kasus kriminal dan juga laporan keuangan kantor! Nanti akan ku kirim contohnya!"


"Siap!" Ucap Firda semangat.


Sesampainya di kantor polisi ternyata benar Satria begitu sibuk hari ini, buktinya Firda kini tengah duduk di kursi kebesaran milik Satria dan tak ada siapapun lagi di ruangan ini.


Firda begitu fokus pada layar monitor komputer tanpa terpecahkan konsentrasinya oleh apapun.


Suara pintu yang terbuka mampu mengalihkan konsentrasi Firda yang tengah fokus.


"Hai!" Sapa seorang wanita yang baru saja datang.


Namun Firda tidak mempedulikan wanita itu, Firda mencoba fokus kembali ke layar monitornya.


"Huh! Ternyata sombong sekali ya kau!" Ucap Wanita itu sambil mendudukkan bokongnya di sofa ruangan Satria.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Firda tanpa mengalihkan pandangannya.


"Wah! Banyak sekali kalau di tanya itu!" Jawab Wanita itu.


"Aku tidak ada waktu melayani wanita sepertimu!" Ucap Firda dengan santai.


Karena kesal Wanita itu langsung menghampiri Firda dan menggebrak meja dihadapannya.


"Sombong sekali kau! Aku tahu kau hanya menginginkan harta Satria bukan?"


"Nona tenanglah!! Mana wibawamu saat ini? Kau sedang memakai seragam polisi bukan?"


Sudah tahu bukan siapa yang datang dan bikin kerusuhan? Yah dia Anita, wanita berstatus sebagai polisi wanita yang kini di pindah tugaskan oleh Satria karena kelakuannya itu.


Karena kesal Anita memutari meja Satria untuk menghampiri Firda dan Dengan tanpa perasaan Anita menjambak rambut yang Firda gerai dengan keras hingga membuat sang empu kesakitan.


"Hey lepaskan aku!!" Ucap Firda dengan sedikit berteriak karena tariknya jambakan Anita, ia sampai tidak bisa terlepas dari jambakan Anita. Bahkan kini tubuh Firda sudah bangkit dari duduknya akibat jambakan itu.


"Dengarkan aku baik-baik J*lang sialan! Jauhi Satria mulai sekarang! Jika tidak, kau akan mendapatkan perlakuan lebih ini dariku kau paham?" Ucap Anita dengan ancamannya.

__ADS_1


"Akhh,… Lepaskan!!" Dengan keras Anita menghempas tubuh Firda ke belakang hingga ia terduduk di lantai.


Anita juga menyiram berkas yang kini sedang Firda kerjakan dan juga berkas yang sudah Firda selesaikan dengan jus yang ada di mejanya, setelah itu ia pergi dari ruangan Satria sambil membanting pintu ruangan.


"Ya ampun berkasnya!" Ucap Firda panik setelah kepergian Anita.


Firda menatap nanar berkas yang sudah tak terbentuk itu, bahkan berkas lama pun ikut tersiram oleh jus itu. Firda mencoba mengelap setiap helaian kertas namun ternyata malah semakin buruk.


Bagaimana ini? Berkas yang sudah ia selesaikan tadi pasti sebentar lagi Satria menanyakannya, karena sebelum ia pergi ia menyuruhnya menyelesaikannya terlebih dahulu untuk rapat setelahnya.


Jika ia membuat kembali akan membutuhkan waktu yang lama, karena sialnya berkas yang menjadi contoh juga basah dan membuat tinta di dalamnya melebar tak terbaca sedikitpun.


"Ya Tuhan! Bagaimana ini, bahkan ini laporan bulan kemarin ikut basah!" Firda mencoba tenang walau hatinya sudah ingin sekali menangis sejak tadi, ditambah kepalanya begitu pusing akibat jambakan Anita tadi.


"Kenapa sih tidak Ansela tidak Anita semuanya menyebalkan! Di tambah lagi Laura si centil!" Kesal Firda.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka menampilkan sosok Satria yang berjalan dengan cukup cepat sambil menghampiri Firda.


"Aku mau laporan yang ku suruh selesaikan tadi, apakah sudah selesai?" Namun belum sempat Firda menjawab Satria langsung menatap meja kerjanya yang kacau dan basah, bahkan laporan bulan kemarin sudah hancur saat ini, ia langsung melirik jus yang kini sudah tak ada sisa sedikitpun di dalamnya, bisa di pastikan semuanya tumpah di meja kerjanya.


Bahkan sialnya lagi, berkas yang harus ia cek malah ikutan basah juga, Satria langsung menatap Firda untuk meminta jawaban.


"Ma…maaf! Sebenarnya ini bukan sa…"


"Sudahlah! Hari ini aku telah salah menaruh kepercayaan! Anggap saja ini tidak pernah terjadi! Juan akan mengantarkan mu ke apartemen sekarang!" Tutur Satria memotong ucapan Firda dan dengan datar untuk menahan emosinya agar tidak keluar kepada gadisnya ini


"Satya dengarkan aku dulu!" Ucap Firda sambil menghampiri tubuh Satria.


"Pulang!" Tegas Satria dingin.


Kepalanya terasa pecah saat ini, ia bahkan banyak sekali masalah dalam kantornya, bahkan malam ini ia harus pergi menangkap para tikus berdasi, dan ditambah laporan yang sudah di tunggu klien tiba-tiba hancur.


Satria hanya diam tanpa menatap wajah Firda yang sudah berkaca-kaca karena Satria tak mau mendengar penjelasannya.


"Satya Please dengarkan sek…"


"Pulang!!" Tekan Satria dengan wajahnya yang sudah memerah.


Dengan langkah terpaksa Firda melangkah keluar ruang Satria untuk pulang sesuai permintaan laki-laki itu.


Satria bisa mendengar isakan tangis tertahan dari bibir Firda sebelum pintu ruangannya tertutup rapat.


"Bodoh! Bodoh! Kau menyakiti hatinya barusan!!" Ucap Satria sambil mengepal tangannya kuat karena kesal dengan dirinya sendiri.


Namun Satria tak ada waktu untuk mengejar Firda, gadis itu pasti akan menemui Juan di luar dan meminta agar di antar pulang, dan sekarang ia harus menyelesaikan laporan yang hancur tadi dari awal, biarlah laporan bulan-bulan kebelakang ia pikirkan nanti, yang penting laporan bulan ini dapat terselesaikan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2