Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
81. Donor Darah?


__ADS_3

Amera berjalan dengan cepat mencari ruangan VVIP yang ditempati putra sahabatnya dan juga menantunya. Ia langsung melihat Aneska yang sedang melamun di depan pintu ruangan sambil dirangkul oleh Arsen.


"Nes!" Panggil Amera.


"Ra!" Amera langsung menghampiri Aneska dan memeluknya dengan erat saat Aneska juga menghampirinya.


"Ra! Putra aku Ra!" Tangis Aneska pecah lagi saat ini.


"Aku yakin Farhan adalah anak yang kuat Nes!" Ujar Amera menenangkan sahabatnya.


"Aku gak kuat lihat keadaannya Ra!"


Saka membiarkan Istrinya menenangkan sahabatnya, ia lebih memilih menghampiri putranya yang sedang memejamkan matanya dengan bersandar di salah satu kursi tunggu, ia yakin putranya tidak tidur.


"Hai Boy!" Saka menepuk pundak Satria pelan.


"Mari kita pecahkan semuanya!" Ujar Saka pada putranya.


"Hmm!" Gumam Satria yang masih kalut dengan pikirannya.


"Keluarga Nona Firda!" Panggil seorang dokter yang baru saja keluar.


Satria langsung berdiri dan cepat menghampiri sang dokter.


"Saya suaminya!"


Amera dan Aneska langsung terdiam mendengar dokter, begitu juga dengan Ares dan Saka.


"Nona Firda sudah sadar! Dia mencari anda Tuan! Kondisinya cukup baik, hanya saja tukang belakang nona ada sedikit yang retak akibat benturan yang cukup keras, saya harap nona jangan memaksakan untuk berjalan terlebih dahulu!"


"Baik! Terima kasih!" Jawab Satria singkat dan langsung masuk kedalam untuk melihat kondisi istrinya.


"Sayang!" Panggil Satria.


"Mas!" Jawab Firda lemah.


"Ada yang sakit hmm? Bilang sama aku mana yang sakit? Kamu butuh sesuatu hmm?" Tanya Satria beruntun.


"Mas! Dokter Farhan hiks… gara-gara aku dia hiks…"


"Sttttt…" Satria mengelus kepala istrinya yang menangis.


"Farhan aka baik-baik saja! Kamu tenang sayang!"

__ADS_1


"Aku ceroboh hiks… harusnya aku yang diposisi Dokter Farhan!"


"Tidak sayang! Tidak! Jangan katakan itu!" Ucap Satria tidak suka dengan perkataan istrinya.


Firda langsung terdiam menahan tangisannya saat melihat tatapan tajam Satria.


"Kamu tenang oke!" Satria langsung naik ke tempat tidur Firda karena ukurannya yang cukup besar dan muat untuk dua orang.


Satria menjadikan satu tangannya untuk bantal kepa istrinya, ia langsung memeluk tubuh Firda dengan nyaman, hatinya begitu tidak tenang tadi saat istrinya belum sadar, dan setelah sadar istrinya malah seperti ini, ia tidak bisa membayangkan jika saja saat itu sahabatnya tidak menolong istrinya, dunia Satria akan hancur detik itu juga.


"Jangan pernah merasa bersalah atas semua yang telah terjadi sayang! Tidak ada yang tahu hal seperti ini akan terjadi!"


Firda kembali menangis di pelukan Satria dengan sekujur tubuhnya yang terasa sakit di bagian belakang dan perutnya.


Setelah merasa tenang, Satria mengajak Firda untuk melihat kondisi Farhan karena keinginannya sejak tadi, akhirnya Satria hanya menurut dan mendorong tubuh Firda menggunakan kursi roda atas perintah dari dokter.


"Bunda!" Panggil Firda sendu.


"Sayang! Putri bunda!" Amera langsung menghampiri menantunya dan mencium pipi Firda pelan dengan posisi setengah berjongkok.


"Ada yang sakit? Kamu mau apa? Biar bunda belikan!" Ucap Amera pada menantunya.


"Firda gak mau apa-apa bunda! Maaf sudah buat kalian khawatir!"


"Tidak perlu minta maaf sayang! Kekhawatiran kami hanya bentuk rasa sayang kami pada putri bunda ini!" Ucap Amera dengan senyumannya.


"Tante maaf! Semuanya gara-gara aku!" Ucap Firda dengan serak menahan tangisannya.


"Sayang!" Panggil Satria tidak suka mendengar perkataan istrinya.


Aneska menghampiri Firda dan duduk di kursi sebelah Amera dengan menghadap Firda.


"Maaf Tan! Andai Dokter Farhan tidak selamatkan aku hiks…" Firda menundukkan kepalanya karena begitu takut dengan Aneska yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan.


"Firda! Jangan salahkan diri kamu ya! Ini sudah takdirnya!" Ucap Aneska menenangkan dan meraih dagu Firda untuk menatapnya.


"Tante tidak marah kok sama kamu! Liat tuh! Suami kamu gak suka kalau kamu terus salahin diri sendiri!" Ucap Aneska lembut.


Aneska langsung memeluk tubuh Firda dengan erat untuk menangkan menantu sahabatnya yang sedang merasa bersalah.


"Doakan saja agar semuanya baik-baik saja ya!" Firda hanya mengangguk dalam pelukan Aneska.


"Keluarga Tuan Farhan!" Panggil seorang dokter.

__ADS_1


Aneska langsung melepaskan pelukannya saat mendengar nama putranya dipanggil.


"Saya ayahnya!" Ucap Arsen.


"Tuan Farhan mengeluarkan banyak sekali darah dari bagian kepalanya, ia harus mendapatkan donor darah yang sama agar kondisinya kembali pulih, kita hanya memiliki waktu satu hari paling lama!" Ucap Sang dokter.


"Farhan mempunyai darah yang sama dengan saya dokter! Ambil darah saya sekarang juga!" Ucap Arsen.


"Baiklah pak! Tapi saya harap ada dua pendonor darah, karena saya tidak mungkin mengambil darah Tuan seratus persen, mungkin hanya lima puluh persen yang saya ambil, karena darah yang keluar begitu banyak, jadi tidak mungkin tuan yang menampung semuanya!"


"Ambil saja 100% dari tubuh say dok!" Ucap Arsen emosi.


"Maaf tidak bisa tuan! Akan menjadi gatal nantinya jika tuan mengambil resiko!" Ucap sang dokter.


"Sen! Kita cari pendonor saat ini juga! Jangan tersulut emosi di situasi seperti ini, ikuti aturannya!" Ucap Saka menenangkan sahabatnya dan ia langsung menghubungi seseorang.


Aneska Langsung menangis kembali mendengar hal itu.


"NES!" Ucap Amera kaget saat sahabatnya langsung tak sadarkan diri.


Arsen langsung menghampiri istrinya dan di bopong ke ruang khusu atas perintah perawat.


"Sayang kita kembali ke ruangan mu!" Ujar Satria yang tidak mau jika istrinya menjadi kepikiran atas apa yang ia dengar barusan, yah walaupun sebenarnya dirinya sendiri juga sedang tidak tenang.


Firda hanya terdiam dan melamun saat Satria mulai masuk kedalam ruangannya. Satria langsung mengangkat tubuh Firda untuk kembali ia baringkan di tempat tidur tadi dengan hati-hati agar selang infus istrinya tidak tercabut.


"Jangan dipikirkan lagi sayang! Semuanya akan baik-baik saja!" Bisik Satria.


"Tidurlah! Aku akan menjagamu!"


"Mas! Ganti pakaianmu! Itu sudah kotor!" Ucap Firda saat melihat pakaian suaminya yang belum di ganti sejak tadi, ia bisa melihat noda darahnya siang tadi.


"Aku akan menggantinya nanti sayang! Tidurlah lagi! Agar perasaanmu lebih baik nanti!" Firda hanya mengangguk dan tersenyum, ia tidak mau jika suaminya terus mengkhawatirkannya.


"Aku suka melihat senyuman mu sayang! Tapi jangan tersenyum kepada orang lain selain aku!"


Saat seperti ini bisa-bisanya Satria berbicara seperti itu. Tak lama Firda menutup matanya untuk menenangkan dirinya dengan pergi ke alam mimpi.


Satria langsung mengeraskan rahangnya keras karena emosinya yang kembali naik saat istrinya tertidur, ia akan menjamin siapapun yang sudah melakukan hal ini dia akan sengsara seumur hidupnya.


Satria langsung membaca pesan yang beberapa menit lalu telah ia lihat tanpa orang lain tahu.


...Juan...

__ADS_1


"Berdasarkan penelitian! Mobil yang melaju kencang Memang sengaja menargetkan nona muda tuan! Tapi Tuan Farhan berhasil menyelamatkan Nona, mobil tersebut sudah saya temukan tuan! Tapi ternyata mobil itu hanya sewaan, tapi kabar baik berpihak pada kita, pelaku tersebut sudah tertangkap!"


"Ingin bermain-main denganku Hmm?" Gumam Satria saat melihat foto seseorang yang kini telah dirantai di ruangan bawah tanah.


__ADS_2