Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
85. Keluarga Gabriel


__ADS_3

Syifa hanya terdiam saat mendengar beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepadanya oleh pihak keluarga suaminya saat ini.


Setelah seminggu lamanya, kondisi Farhan sudah membaik dan sudah dibawa pulang, namun tetap ia ingin segera menyelesaikan masalah keluarganya.


"Syifa aku mohon jawab pertanyaan aku!" Ujar Aneska dengan memohon.


"Ayo katakan Syifa!" Ucap Arka dengan penekanan.


Syifa menatap Aldo yang hanya menatap dirinya datar saat ini, terbesit rasa sakit dihatinya saat melihat tatapan Aldo yang tidak seperti biasanya.


"Oke! Ini memang sudah saatnya mungkin! Maaf!" Ujar Syifa yang langsung menitihkan air matanya.


"Jelaskan dengan benar Syifa!" Ujar Arsen yang kesal karena menunggu penjelasan adik iparnya yang terlalu lama.


"Yah! Aldo memang putra Mbak Anes dan Mas Arsen!" Ujar Syifa dengan bergetar dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Seketika Anes langsung lemas mendengar kenyataan ini, Arsen yang berada disamping istrinya hanya bisa merangkul untuk menenangkannya.


"KENAPA KAMU TEGA SYIF?" ucap Aneska keras dan menangis histeris.


"Tenang sayang!" Ujar Arsen lembut.


"Kamu tega memisahkan aku dengan anak kandungku selama dua puluh tahun!" Ujar Aneska dengan isakan kecilnya.


"Maaf mbak! Aku terpaksa hiks…"


"Aku kecewa padamu Syifa!" Tutur Arka dengan segumpal emosi yang ia tahan saat ini.


"Tapi Aldi benar-benar anak kita Mas!" Ujar Syifa takut suaminya salah paham lagi.


"LALU KENAPA KAMU TEGA MEMBOHONGIKU SYIFA?" Teriak Arka sudah tak tahan.


"KARENA AKU GAK MAU KAMU KECEWA SAAT TAHU PUTRA PERTAMAMU MENINGGAL MAS!"


"TAPI TIDAK BEGINI CARANYA SYIFA!"


"ARKA SYIFA HENTIKAN!" Ucap Lauren Ibu dari Arsen dan Arka.


Semuanya langsung bungkam setelah mendengar suara Lauren yang begitu nyaring di ruang keluarga. Lauren berjalan masuk bersama suaminya Gabriel yang memasang wajah datar.


"Ibu!" Gumam Arka pelan.


"Syifa! Ibu kecewa dengan kamu! Kamu tega terhadap saudaramu sendiri!" Tutur Lauren menatap menantunya tajam.


"Maaf Bu!" Ujar Syifa menyesal.


"Jelaskan kronologi dua puluh tahun lalu Syifa!" Ucap Gabriel yang langsung menarik istrinya untuk duduk disampingnya.


***


"Maaf Bu Syifa! Putra anda tidak bisa diselamatkan!" Ujar seorang perawat dengan nada sedih.


"TIDAK! TIDAK MUNGKIN!" Ucap Syifa prustasi, ia bingung harus menjelaskan apa kepada suaminya saat tiba nanti, ia hanya didampingi oleh kakak kandungnya menjelang persalinan ini, karena memang tanggal yang ditentukan tidak sesuai HPL.


Syifa langsung berjalan menuju ruangan batu untuk melihat putranya yang terakhir kali. Namun ia malah terpaku saat melihat Kakak iparnya yang sedang melahirkan diwaktu yang sama dengannya, bedanya Arsen berada di samping istrinya dan juga putra Kakak iparnya selamat.


Seketika muncul perbuatan jahat di otak Syifa karena terlalu gelap pikirannya. Ia dengan sengaja menukarkan bayi di ruangan khusus itu dengan bayi milik Aneska, tentunya kakak kandungnya tahu hal itu dan ia malah mendukung perbuatan adiknya.


Setalah itu Syifa langsung pergi dari rumah sakit menuju rumahnya dengan alasan yang di berikan kepada Arka adalah tak betah dirumah sakit dan putranya selalu menangis saat disana.


"Kakak kumohon jangan beri tahu siapapun hal ini!"


Namun beberapa tahun setelah Syifa merawat Aldo, kakak kandung Syifa mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia, kakaknya bahkan pernah memiliki niat untuk memberi tahu Arka karena ia sangat menyesal telah mendukung adiknya, namun tuhan malah menjemputnya lebih dulu.


***


"Lalu adik Aldo?" Tanya Aneska dingin sambil menatap Syifa.


Saat itu memang Aneska melahirkan dua anak kembar, ia sangat terpukul saat itu karena mengetahui jika keduanya tiada.

__ADS_1


"Saat aku ke ruangan bayi, adik Aldo memang sudah tak bernafas mbak!" Jawab Syifa sendu.


Aneska kembali menangis mendengar hal itu, tapi hatinya selalu berkata sebelumnya bahwa keduanya masih hidup, dan ternyata Tuhan memang baik masih mempertemukan dengan anak keduanya.


"Kenapa Farhan tidak tahu kalau Farhan punya adik?" Tanya Farhan heran sejak tadi karena ia tak mengingat apapun.


"Saat perjalanan pulang sekolah, kamu dan perawat mu mengalami kecelakaan, hanya kamu yang selamat namun walau begitu kamu juga mengalami amnesia total, bahkan waktu itu kamu beradaptasi dengan kami begitu lama!" Jawab Arsen.


"Jangan menangis Bu! Kau tetap ibuku karena kamu telah merawat ku dengan kasih sayang sejak kecil! Aku tak mungkin membencimu!" Syifa menatap Aldo dengan senyumannya, ia pikir Aldo akan membencinya saat mengetahui semuanya.


"Peluk bundamu Aldo!" Ujar Syifa kepada Aldo sambil melirik Aneska.


Aldo langsung menghampiri Aneska dan berjongkok dihadapan ibu kandungnya dengan perasaan bahagia.


GREP…


Aldo dan Aneska berpelukan untuk menyalurkan kerinduan Aneska selama ini, ia begitu bahagia saat tahu jika putra kandungnya masih hidup.


"Arka bawa istrimu ke pulau terpencil selama setahun, aku akan memberi kalian kehidupan yang berkecukupan disana!" Ucap Gabriel.


Arka hanya mengangguk mendengar perintah Ayahnya, ia tidak bisa menolak, lagian baginya ini adalah hukuman yang ringan yang dapat dilakukan dengan suka rela, walau begitu ia tetap mencintai istrinya dan tak mungkin membiarkan istrinya sendiri disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Laura apa lagi yang sedang kau lakukan?" Tanya Rio tak habis pikir.


"Aku akan ikut ayah ke Kantor William Group!" jawab Laura yang sudah berdandan menor hanya untuk melihat Satria, ia baru mendapat kabar bahwa memang Satria selama beberapa Minggu ini dari luar negri, jadi Laura tidak menggangu Satria karena pasti laki-laki itu sedang bekerja.


"Ayah tidak mau?" Ujar Rio.


"Aku akan pergi sendiri ayah!"


"Laura jangan berlebihan, itu bukan cinta tapi obsesi!" Tutur Rio yang sudah pusing dengan kelakuan anaknya.


"Om Papa juga mendukung aku ayah! Lagian aku akan terus berusaha! Ayah kalau tak mau mendukung putrimu minimal jangan patahkan semangatku!"


"Terserah! Pokonya ayah tidak mau kalau kamu. Sampai bikin kericuhan di kantor Tuan Saka!" .


Benar saja kekhawatiran Rio sejak tadi, siang ini Laura benar-benar datang ke kantor William Group, dan lebih parahnya ia terus mengekor Satria, ingin sekali rasanya Rio tenggelam saja karena malu dengan kelakuan putrinya.


"****! Dimana Juan?" Tanya Satria pada pegawai disana karena risih dengan Laura saat ini.


"Pak Juan sedang berada diluar untuk pengecekan proyek Tuan muda!" Jawab pegawai tersebut.


"Laura ayo pulang!" Ujar Rio menarik tangan putrinya.


"Gak Ayah! Aku gak mau!" Ucap Laura yang langsung menghempas tangan Rio.


"Pak Rio! Rapat akan dimulai sebelum makan siang, anda dipanggil Tuan Saka ke ruangan segera, karena tuan tidak suka menunggu!"


"Baiklah!" Rio langsung menatap putrinya Bingung.


"Ayah mohon jangan buat kekacauan!" ujar Rio dan langsung pergi dengan perasaan tak tenang.


"Satria mari kita makan siang bersama nanti!" Ujar Laura sambil menggandeng tangan Satria,


Satria lagi-lagi menghempaskan tangan Laura kasar karena risih dengan sentuhannya. Ingin rasanya ia marah, tapi ia tidak boleh mengeluarkan emosinya karena ia sedang berada di lobby, ia tak suka jadi tontonan.


Laura tersenyum miring saat menyadari sesuatu, ia langsung memeluk Tubuh Satria dengan cepat dan mencium pipinya dengan berani.


BRAK…


Belum sempat Satria marah ia semakin terkejut saat mendapatkan istrinya yang kini tengah menatapnya datar, dan makanan yang berceceran dimana-mana karena terlepas dari tangan Istrinya.


****! Ia lupa jika istrinya datang untuk makan siang bersama saat ini.


"Sayang!" Panggil Satria saat melihat mata istrinya yang menahan tangisan.


"Iya sayang! Ada apa?" Jawab Laura dengan tak tahu dirinya.

__ADS_1


"AKU TIDAK SEDANG BICARA DENGANMU!" ucap Satria keras.


PLAK…


Satria yang tak pandang bulu kini hadir kembali, ia dengan keras menampar pipi Laura hingga wanita itu mengeluarkan darah dari Sudut bibirnya dan langsung terdampar dilantai.


Para pegawai disana menatap Laura dengan tatapan jijik karena kelakuannya, tuan mudanya melakukan hal yang benar untuk ular yang satu ini.


Satria langsung pergi keluar mengejar istrinya yang sejak tadi berlari.


"Sayang dengarkan aku!" Ucap Satria yang kini berlari mengejar istrinya yang jaraknya hanya beberapa meter.


"SAYANG AWAS!"


GREP…


Satria memeluk tubuh Firda saat hampir saja istrinya ke serempet mobil.


"LEPASKAN AKU!" Ujar Firda memberontak.


"Sayang dengarkan aku dulu!" Ujar Satria yang ikut menangis karena takut kehilangan Firda.


Satria langsung membalikkan tubuh Firda dan langsung memeluknya erat.


"Jangan memelukku!" Ujar Firda yang langsung memukul dada bidang Satria keras dan langsung melepaskan pelukan Satria.


"Aku tidak mau memelukmu, ada bekas wanita itu!" Ucap Firda sambil memberikan jarak kepada Satria. Sakit? Tentu! Hati Satria terasa mencelos sekarang.


"Sayang dengarkan penjelasanku! Aku mohon!"


"Wanita itu sejak tadi terus mengekori ku sayang! Aku tidak tahu jika dia akan melakukan hal menjijikan seperti tadi, percayalah! Aku akan membawakan rekaman CCTV untukmu nanti!" Ujar Satria mencoba membujuk istrinya, namun semakin ia maju Firda semakin memundurkan tubuhnya.


Tangisan Firda semakin reda saat mendapatkan pelukan dari suaminya itu.


"Aku mau pulang?" Ujar Firda.


"Ayo kita pulang sayang!" Ajak Satria sambil menyodorkan tangannya.


"Aku mau naik taksi!" Ujar Firda yang. Langsung hendak pergi dari sana.


"Sayang jangan! Ku mohon!"


"JANGAN MENDEKAT!" Ucap Firda sedikit keras saat melihat Satria yang mendekatinya.


"Oke fine sayang! Tunggu aku, aku akan membawa mobil kesini!" Ujar Satria yang langsung berlari ke kantornya yang tak jauh dari posisinya barusan.


Kini mobil Lamborghini keluaran terbaru terparkir jelas dihadapan Firda, Satria langsung keluar namun sayangnya istrinya sudah masuk lebih dulu sebelum ia membukakan pintu mobil.


Satria langsung masuk kembali yang terpenting istrinya pulang bersamanya.


"Sayang hug me please!" Ucap Satria prustasi sebelum mendapatkan pelukan istrinya.


Firda hanya diam sambil menatap jalanan.


Satria langsung mengambil botol Aqua dan membasuh wajahnya di dalam mobil, ia juga membuka Jas dan kemejanya untuk menghilangkan jejak wanita sialan itu, kini yang tersisa hanya celananya saja tanpa baju apapun dan menampilkan roti sobeknya.


"Sayang Hug Me! Atau aku tak akan melakukan mobil ini dan kau terkurung!" Ujar Satria sedikit mengancam.


Benar saja ternyata pintu mobilnya terkunci saat Firda mencoba membuka pintu mobil.


"Please sayang! Aku sudah menghilangkan jejak-jejak wanita sialan itu!" Ucap Satria memelas.


Firda akhirnya menurut saat ia tak sengaja melihat wajah suaminya yang berkaca-kaca, ia langsung menerima pelukan Satria dan dengan cepat Satria membawa Firda ke pangkuannya.


Firda menenggelamkan wajahnya di dada bidang Satria yang tanpa baju itu sambil terisak kecil.


"Kita pulang ya sayang! Jangan turun dan jangan lepaskan pelukanmu kumohon!" Ucap Satria sendu mendengar suara isakan Firda.


' Aku akan menghukum wanita itu untukmu sayang! Sial, berani-beraninya dia menyentuhku,!

__ADS_1


.


__ADS_2