Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
31. Cemburu?


__ADS_3

Satria yang baru saja bangun langsung berjalan ke arah dapur berniat untuk minum, namun matanya terpaku pada seorang gadis yang kini sedang berkutat dengan alat dapur disana.


"Kau sedang apa?" Tanya Satria menuju ke rak yang berjejer khusus peralatan makan dan minum.


"Kau punya mata bukan?" Tanya Firda balik dengan nada cueknya.


"Hari ini kau harus ikut ke kantor!" Alih-alih menjawab pertanyaan dari Firda, Satria malah berbicara yang lain.


"Aku sedang tak mau bertemu orang asing!" Jawab Firda yang masih tetap sibuk memasak.


"Lalu om-om semalam?"


"Dia tetanggaku, aku tak takut padanya!"


"Kau harus ikut! Aku tak menerima penolakan!" Ujar Satria.


"Terserah!"


"Kau belanja hari ini?" Tanya Satria.


"Nenek yang mengirimkannya tadi pagi saat kau masih tidur!"


Satria hanya mengangguk sebagai jawaban yang didengarnya, neneknya pasti tahu keberadaannya sekarang, ia juga tahu kalau di sini tidak ada bahan makanan karena masih baru.


"Mandilah terlebih dahulu! Aku akan. menyiapkan makanan sebentar lagi!" Ucap Firda tanpa mengalihkan pandangannya.


Satria hanya bergumam mendengar perintah Firda, ia hanya menurut dan berjalan ke kamarnya, meskipun agak aneh dengan sifatnya yang sekarang, apa gadis ini sedang marah perihal semalam? Kenapa marah seorang wanita selalu lama sekali? Pikir Satria, ia juga teringat Amera kalau marah terkadang sampai seharian tak mau berbicara padanya.


Sedangkan Firda saat ini sedang bergelut dengan pikirannya, entahlah ia benar-benar kacau sejak semalam sampai hari ini.


Setelah dirasa matang, Firda langsung menyajikan makanannya di atas meja makan, ia langsung pergi ke kamar dan membersihkan tubuhnya, matanya menatap Paper bag berukuran besar sekali pemberian Emery tadi pagi. Firda jadi teringat perkataan Emery tadi pagi saat mampir.


"Hari ini pasti kau akan ke kantor bersama Satya! Pakailah ini Sayang!! Harus Pokoknya!"


Firda meraihnya dan melihat isinya Karena ia penasaran, matanya melotot tak percaya apa yang ia lihat. Yang benar saja? Kenapa Emery memberinya Tas bermerek Dior dan juga Dress mahal sekali, tak hanya itu, di dalamnya juga terdapat macam-macam skin care yang tentunya bermerek.


"Ouh Ya Ampun nenek! Kau terlalu berlebihan untuk gadis miskin sepertiku!" Tanpa mau banyak. menunggu, Firda langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau lam sekali!" Kesal Satria saat melihat Firda yang sudah rapih dengan dress simple, elegan dan mahal itu menghampiri dirinya di meja makan.


Berbeda dengan baj yang dikenakan oleh Satria hari ini sama seperti yang ia pakai sehari-hari, yaitu baju kebanggaannya yang banyak sekali atribut emas yang menempel di pundak maupun di dadanya.


"Kenapa kau tidak makan saja duluan?" Tanya Firda kesal lagi.


"Sudahlah aku sudah lapar!" Ucap Satria dan langsung menyantap makanannya tanpa mau memperpanjang perdebatannya dengan gadis ini, begitu pula dengan Firda yang langsung menyantap makanannya setelah berdoa.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Satria bahwa hari ini Firda harus ikut ke kantornya, sebenarnya Firda tidak mau, namun ia berpikir ini saatnya untuk terus melawan rasa takutnya ini, Firda tidak mau terus-menerus merepotkan keluarga Satria terlebih pada orang tuanya.


Saat ini hanya ada keheningan di. dalam mobil mewah ini, hanya ada musik di sela-sela keheningan di pagi hari ini.


Akhirnya mereka berdua kini telah sampai di parkiran kantor polisi milik Satria, perlahan Firda menghela nafasnya saat melihat banyak sekali kendaraan di parkiran VVIP ini, otomatis banyak juga yang berada di kantor polisi ini.


"Kemarilah! Ada aku yang harus kau percayai!" Firda melonjak kaget saat sebuah. tangan kekar sudah berada di sebelah kirinya, gara-gara melamun ia sampai tidak sadar kalau mobil ini sudah terbuka pintunya oleh sang pemiliknya.


Dengan ragu Firda meraih tangan Satria dan keluar dari dalam mobil bermerek Lamborghini itu. Satria dengan santai menutup pintu mobil dan menuntun Firda berjalan disampingnya menuju ke dalam.


"Angkat kepalamu! Kau bukan buronan disini!" Walaupun tak ingin, Firda memaksakan dirinya untuk menatap sekitarnya, saat masuk ternyata didalam sudah banyak sekali polisi yang berjajar hanya untuk menyambut kapten atau komandannya itu.


"Selamat Pagi Kapten!" Ucap mereka serempak.


Jantung Firda berpacu dengan kencang melihat banyak sekali pria disana, dari mulai yang masih muda bahkan ada yang umurnya diatas Satria.


Tak hanya itu, Firda juga melihat para Polisi Wanita yang menatap dirinya kagum, ada juga yang menatapnya iri, dan Firda bisa merasakan itu karena ia juga seorang Wanita.


"Kau tak apa-apa?" Tanya Satria yang hanya mendapatkan jawaban dengan gelengan kepala saja dari Firda.


"Baguslah!! Sudah banyak peningkatan!" Ucap Satria sambil mengacak rambut Firda saat memasuki ruangannya.


"Hey! Capek-capek aku menata rambutnya kau malah membuatnya berantakan!!" Ucap Firda kesal dan menatap Satria dengan marah.


"Jangan membentuk bibirmu seperti itu!! Kau mau ku cium hmm?" Ucap Satria saat melihat Firda yang memanyunkan bibirnya karena kesal.


Satria berjalan menghampiri Firda yang membuat Firda mundur karena takut dengan tatapan dingin darinya.


"Ka…kau ma…ma…mau a…pa?" Tanya Firda gugup yang masih terus berusaha mundur menghindari Satria dan berakhir mentok di bagian ujung sofa.


Satria mencondongkan wajahnya tepat di hadapan Firda, hanya tinggal berjarak dua centi meter hidung mereka akan beradu jika salah satunya bergerak, Firda menatap manik berwarna coklat milik Satria yang memiliki tatapan elang setiap saat, ia juga melihat hidung Satria bagaikan bak perosotan yang begitu mancung. Tak hanya itu Satria juga memiliki bibir alami berwarna merah muda dan juga rahang yang tegas, bahkan alis yang dimiliki Satria sangat tajam yang membuat siapapun itu akan takut melihatnya.


"Kau menyebutku Pedofil? Bahkan umurku hanya berbeda beberapa tahun denganmu!"


"Mi…minggir lah!! Aku mau bernafas!" Ucap Firda cepat dengan pelan.


"Nanti tinggal ku beri nafas buatan, apa susahnya?" Ucap Satria yang tak bergerak dari tempatnya.


Firda semakin kesal dengan laki-laki didepannya.


BUGH…


Firda memukul dada bidang Satria dan langsung pergi dari hadapan laki-laki itu. Sedangkan Satria hanya terkekeh pelan melihat wajah Firda yang merah, entah kenapa itu! Tapi menurut Satria sangat menggemaskan.


"Kau kesini untuk bekerja bukan? Cepatlah bekerja!!" Ucap Firda sambil menetralkan gugupnya.


"Kau lupa? Aku bebas melakukan apapun disini! Bahkan aku bisa tidur di jam kerja!" Ucap Satria dengan nada meremehkan.

__ADS_1


Firda hanya memutar bola matanya malas mendengar kesombongan dari laki-laki yang berstatus sebagai polisi ini.


Tok…tok…tok


Suara ketukan pintu ruangan terdengar kepada dua pasang telinga yang berada di dalam ruangan yang sama.


Satria berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya.


Grep…


Tiba-tiba saja seorang wanita menubruk tubuh tinggi Satria tanpa aba-aba hingga membuat Satria sedikit oleng karena pelukannya


"Sayang! Kamu tega banget sih mindahin tugas aku ke kota kecil!!" Ucap Wanita itu dengan nada manja, siapa lagi kalau bukan Anita.


"CK… Lepaskan!!" Tegas Satria yang tak didengar sama sekali oleh Wanita berstatus Polwan ini.


"Gak mau hany! Kamu jahat hiks…" Malah terdengar Isak tangis dari bibirnya.


Dengan kasar Satria melepaskan pelukan wanita didepannya dan langsung ia hempaskan begitu saja. Tanpa mereka sadar kini Firda menatap adegan didepannya dengan tak suka, entahlah! Menurut Firda, Wanita yang kini memeluk Satria seperti wanita murahan! Apa benar wanita itu memiliki hubungan khusu dengan Satria? Pikir Firda bertanya-tanya, jika iya! Mengapa Satria memintanya menikah dengan dirinya? Firda yakin bahwa wanita itu hanya menyukai Satria dan tanpa mendapatkan feedback dari Satria, itu sangat jelas terlihat dari raut wajah Satria yang tertekan.


"Jaga batasan mu!!!" Ucap Satria dingin.


"Kenapa? KENAPA?"


"APAKAH ADA KEKURANGAN DIDALAM TUBUHKU? APA KARENA WANITA MISKIN ITU!!" Tunjuk Anita pada Firda, Firda yang merasa dirinya di tunjuk hanya menatap Polisi wanita itu heran. Apa salahnya? Pikir Firda.


"JUAN!" panggil Satria keras hingga muncullah sang tangan kanan yang selalu berada dimanapun ketika Satria pergi.


"Iya tuan muda!" Jawab Juan sopan.


"Bawa wanita ini keluar!" Ucap Satria dengan penekanan.


Juan hanya mengangguk dan tanpa perasaan langsung menyeret Anita kasar dengan satu tangannya.


"HEH!! LEPASKAN AKU BODOH!! AKU AKAN BERI PERHITUNGAN PADA WANITA MISKIN DAN MURAHAN ITU!!! AWAS SAJA KAU! AKU AKAN MELAKUKAN APAPUN YANG AKAN MEMBUATMU MENYESAL NANTINYA!!" Ucap Anita dengan nada kerasnya, walaupun ia sudah diluar ruangan tetap saja masih bisa terdengar karena pintunya belum tertutup.


Firda merasa sakit saat ini, jika kalian berpikir karena ucapan Anita, jawabannya adalah SALAH!. Karena Firda sakit saat melihat adegan dimana Wanita itu memeluk Satria tiba-tiba, ia merasa kesal sampai detik ini dan menatap wanita itu dengan datar.


"Jangan dengarkan dia!" Ucap Satria tiba-tiba.


Bukan malah menjawab, justru Firda langsung duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Apa ia cemburu saat ini? Pikir Firda heran, tidak! tidak mungkin! Firda hanya terbawa siklus datang bulan saja mungkin, pikirnya lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2