Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
56. Panti Asuhan


__ADS_3

Tak terasa kini telah menginjak hari ke tujuh dimana Dafa ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Sesuai janji Satria, ia akan mengantar Firda ke panti asuhan setelah berziarah ke makam Ayahnya.


"Kau sudah tenang?" Tanya Satria sambil melirik sekilas Firda yang hanya terdiam selama perjalanan pulang dari Malam ayahnya.


"Hmm!" Jawab Firda bergumam.


Satria meraih tangan kanan Firda dengan tangan kirinya, ia menggenggam erat tangan Firda untuk menguatkan gadisnya itu.


"It's Ok! Semuanya hanya tentang waktu! Kamu akan terbiasa!" Tutur Satria lembut.


"Makasih Satya! Ternyata kamu tidak menyebalkan seperti yang aku pikirkan!" Satria Terkekeh mendengar perkataan Firda, ia juga heran kenapa ia selalu senang ketika membuat Firda kesal, sampai sekarang.


"Aku menyebalkan pada waktunya!" Tutur Satria yang hanya dibalas dengan dengusan Firda.


"Kita langsung ke panti?"


"Hmm! Juan sudah menunggu kita disana!"


"Semua makanannya juga sudah stay?"


"Aman!" Ujar Satria singkat, ia terus fokus ke depan dengan tangan yang masih saling menggenggam.


Setalah beberapa menit akhirnya mobil Satria kini terparkir di halaman panti asuhan bersanding dengan mobil yang Juan bawa.


"Akhirnya…!" Gumam Firda senang saat melihat anak-anak yang kini sedang bermain di taman panti asuhan dan dapat terlihat langsung dari dalam mobil.


Pintu mobil tiba-tiba terbuka yang dilakukan oleh Satria sendiri, ia menjulurkan tangannya agar Firda meraihnya.


"Ayo!" Ucap Satria yang langsung diraih oleh Firda.


Firda dan Satria masuk ke dalam panti Asuhan dengan beriringan, saat tiba di dalam sudah terdapat Juan yang tengah berbincang dengan pemilik panti itu.


"Bu Erni!" Panggil Firda lembut.


"Tuan! Nona! Selamat datang!" Sambut Juan saat melihat Tuan dan nona mudanya.


"Ya ampun neng!" Ucap Bu Erni histeris dan langsung menghampiri Firda serta memeluk tubuh Mungilnya.


"Neng apa kabar?" Tanya Bu Erni yang masih dalam pelukan.


"Baik kok Bu!" Ucap Firda lembut.


Berbeda dengan Satria yang merasa kesal saat Firda dipeluk oleh orang lain, ia merasa tak terima saat ini.


"Mohon maaf! Gadis saya pengap dipeluk erat seperti itu!" Tutur Satria dengan nada datarnya.


"Ah… Ya Ampun maaf neng! Ibu kangen banget sama neng Firda yang baru kesini lagi!" Ucap Bu Erni sambil menatap Satria tak enak.


Sedangkan Firda memberikan tatapan nyalang pada Satria yang berucap seperti itu barusan, ia pikir yang ia hadapi anak ABG? Pikir Firda dengan meringis menahan malu.


"Tida apa-apa Ibu! Aku senang kok bisa ketemu dan dipeluk lagi oleh ibu, rasanya sudah alam sekali!" Ucap Firda mengalihkan perhatian.


"Neng ayo duduk atuh!" Ucap Bu Erni yang langsung menggandeng tangan Firda untuk duduk di dekatnya.


Lagi-lagi Satria kesal, baru saja ia akan menggandeng tangan Firda sudah keduluan saja oleh Bu Erni. Satria langsung memalingkan wajahnya dengan kesal ke arah lain.


"Jadi yang dimaksud tuan tadi Ayah Neng Firda?" Firda hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Innalilahi…Ya Allah Pak Dafa! Kamu yang sabar ya Neng! Allah punya rencana lain dibalik semuanya!" Firda menatap Bu Erni lembut, inilah suasana yang Firda sukai sejak dulu, ia sering datang ke panti asuhan untuk bermain dengan anak-anak, terkadang jika ia telah gajihan, sebagian kecil ia berikan untuk membahagiakan anak-anak panti.


"Makasih ya Bu! Firda juga udah baik-baik saja kok!" Ucap Firda pada Bu Erni meyakinkan.


"Anak-anak pasti seneng liat Neng Firda kesini setelah sekian lama! Mau ketemu mereka gak neng?" Tanya Bu Erni yang langsung di setuju Firda dengan antusias.


Mereka berempat kini berjalan keluar panti menuju taman, Firda yang berjalan lebih dulu bersama Bu Erni, Satria yang berada di belakang dua wanita itu, dan Juan yang berada di belakang Satria.

__ADS_1


"Hallo Anak-anak! Lihat siapa yang datang?" Ucap Bue Rani setengah berteriak.


"KAK FIRDA!!!!!!" ucap Mereka serentak dan langsung berhamburan menghampiri Firda.


Firda langsung berjongkok dan menyambut mereka dengan pelukannya.


"Aaaaaaaaaaaaaa kangen banget sama kalian!" Ucap Firda terharu.


"Kak Firda kenapa baru kesini lagi? Kak Firda udah gak sayang ya sama kita?" Tanya Salah satu anak perempuan kira-kira berusia enam tahunan


"Eh! Kata siapa? Kakak kangen banget loh sama.kalian, tapi sayangnya kakak baru bisa kesini karena sibuk!" Jawab Firda dengan membujuk para anak-anak.


"Lula kangen tahu hiks…" Ucap anak itu diakhiri dengan isakan kecilnya.


"Uhhhh Lula sayang! Jangan nangis dong!" Ucap Firda langsung memeluk tubuh mungil Anak bernama Lula itu.


"Kak kita main yu!" Ucap Salah satu anak yang usianya lebih dewasa dari Lula.


"Iya kita main nanti ya! Sekarang kita makan yuk, kak Firda bawa sesuatu buat kalian!"


"YE…!!!" Ucap mereka gembira dan bersorak senang.


Tanpa Firda sadari Satria menatap hangat kejadian itu, ternyata selain Firda wanita yang kuat dia juga wanita yang berhati malaikat.


"Nona sangat berhati malaikat, tuan beruntung sekali!" Ucap Juan pelan namun bisa terdengar oleh Satria.


"Jaga matamu Juan! Di kontrak kerjamu sudah bertambah satu poin bukan?" Desis Satria saat melihat Juan yang tengah menatap gadisnya.


"Maaf tuan! Saya tidak akan mengulanginya!" Tutur Juan hormat, bisa-bisanya ia keceplosan barusan, untung saja ia tidak apa-apa saat ini.


Jika kalian bertanya maksud kontrak yang bertambah satu poin adalah, aturan yang baru-baru ini Satria tambahkan pada seluruh polisi. dan pegawai kantor ayahnya, yaitu Tidak boleh menatap wajah Firda lebih dari dua/tiga detik!.


Dan Juan ingat itu! Pasalnya poin itu tertulis di kontrak paling atas, sungguh gila bukan?.


Kini semuanya sudah berkumpul dan makan bersama di ruang makan panti, semua anak bersorak gembira menatap makana enak beserta mainan baru yang Firda bawa.


"Sangat sangat senang! Terima kasih!" Ucap Firda dengan mengelus rahang Satria sekilas.


"Your Welcome!"


"Andai aku bisa membantu mereka lebih dari ini!" Gumam Firda pelan, namun begitu jelas terdengar ditelinga Firda.


"Bantuan apa hmm?" Tanya Satria penasaran.


"Bukan apa-apa!" Jawab Firda santai, padahal dihatinya ia kaget kenapa Satria mendengar ucapannya yang begitu pelan.


"Aku tahu ada yang mengganggu pikiranmu! Katakan!" Firda menatap Satria sekilas dan beralih menatap anak-anak yang sedang makan.


"Aku ingin sekali anak-anak panti bisa sekolah, Bu Erni udah berumur, donatur panti juga kadang memberi uang hanya cukup untuk membeli bahan makanan pokok saja, jam kuliahku terkadang dulu ku pakai untuk mengajar mereka seperti membaca, tapi sudah lama sekarang aku tidak bisa mengajar mereka! Dan itu tidak cukup untuk mereka, mereka perlu sekolah!" Ucap Firda sendu.


"Mereka akan sekolah mulai besok juga!" Ucap Satria tiba-tiba dengan entengnya.


"Tidak Satria! Mereka banyak sekali! Setiap bulannya terkadang jumlah mereka bertambah!"


"Kau lupa. siapa aku hmm?" Tanya Satria pada Firda.


"Kau sungguh ingin membantu mereka?" Tanya Firda.


"Apapun itu, jika kau bahagia, akan kulakukan!" Tutur Satria berbisik di telinga Firda.


Firda menatap Satria dengan mata yang berkaca menandakan rasa terima kasihnya pada Satria, cita-cita anak panti untuk bersekolah kini akan tercapai.


"Thank you!" Firda langsung memeluk Satria erat dan langsung dibalas oleh Satria.


"Ekhem…"

__ADS_1


' Ck… Mengganggu saja ' Batin Satria kesal.


"Neng Firda kita makan bareng yuk! Sekalian ajak pacarnya Neng Firda!"


Firda langsung mendorong tubuh Satria pelan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, ia sangat malu karena terciduk sedang berpelukan dengan Satria.


"Ayo Bu!" Jawab Firda dengan anggukkan kepalanya dan langsung mengikuti langkah Bu Erni. Sedangkan Satria tersenyum miring menatap Firda yang tengah salah tingkah itu.


"Aku kok gak lihat Alvin sama Aulia ya Bu!" Tutur Firda saat melihat satu persatu anak-anak panti.


"Ouh… Alvin lagi ikut mang Koko ke pasar beli bahan masakan, katanya mau bantu bentar lagi pasti pulang!" Tutur Bu Erni sambil menyiapkan makanan untuk Firda dan Satria.


"Kalau Aulia?" Tanya Firda lagi.


"Aulia udah punya keluarga baru sekarang Neng! Ada yang mau adopsi Aulia, mereka baik banget, Ibu jadi tenang melepas Aulia!" Tutur Bu Erni sendu.


"Semoga Aulia betah dengan keluarga barunya ya Bu!"


"Aamiin!"


"Kita pulang!" Ucap seseorang yang baru saja datang dengan menenteng kresek berisi sayuran.


"ALVIN!" Ucap Firda senang.


"KAK FIFI!" Ucap Alvin kaget dan langsung berhambur memeluk tubuh Firda.


"Hai Boy! Apa kabar?" Ucap Firda sambil mengelus punggung Alvin lembut.


Alvin merupakan anak panti yang paling besar disana, umurnya kira-kira tidak jauh dari 11/12 tahun, kesehariannya hanya membantu Mang Koko atau suami Ibu Erni berjualan di pasar.


"Alvin apa kabar?" Tanya Firda sambil mengelus kepala anak itu lembut.


"Alvin sehat kok! Kak Fifi sehat?" Tanya Alvin lembut dan langsung kembali memeluk tubuh Firda karena saking rindunya dengan wanita yang ia anggap sebagai kakak kandungnya itu.


"Ekhem…!"


"Tidak usah berpelukan seperti itu bocah!" Tegus Satria yang langsung memisahkan Firda dan bocah laki-laki itu.


"Kak Fifi dia siapa sih?" Ucap Alvin sambil menatap Satria tajam.


"Dia-"


"Saya kekasihnya! Kau mau apa hah?"


"Satria udah!" Tegur Firda tak enak pada semua orang.


"Kenapa juga kak Fifi mau sama modelan om-om?" Ujar Alvin dengan nada judesnya.


"Heh bocah! Umurku masih muda ya! Dan berani-beraninya kau menyebut gadisku Fifi! Panggil nama aslinya! Jangan membuat nama panggilan khusus untuknya!!" Ucap Satria dengan kesal.


"Suka-suka akulah! Kak Fifi itu punyaku!" Ucap Alvin dengan tangan yang berada di dada seakan menantang Satria.


"Dia punyaku! Hanya punyaku!!" Tegas Satria.


"Satria jangan ditanggapi, dia masih anak-anak!" Ucap Firda yang ikut kesal dengan sikap Satria yang semakin aneh itu ia sampai memijit pelipisnya pelan melihat Satria yang berdebat dengan Alvin.


' Ayolah tuan! Itu hanya anak berusia sepuluh tahunan! Dia bukan saingan anda! ' Ucap Juan sambil mengusap wajahnya pelan melihat sikap tuannya.


"Maaf ya Bu Erni Saya malah membuat keributan!" Ucap Firda tak enak.


"Gak apa-apa neng! Saya seneng lihat pacar neng Firda seperti itu, itu tandanya dia sayang sama neng!" Tutur Bu Erni.


"Om-om Pedofil so soan sayang sama Kak Fifi Cih…!" Ucap Alvin sinis.


"Alvin!" Tegur Bu Erni.

__ADS_1


Dan berakhir dengan perdebatan kecil yang Satria besar-besarkan, karena ia tak suka dengan kehadiran Alvin yang seakan merebut posisinya, begitu juga Alvin.


__ADS_2