
"Setelah Dari kota Jeju kita kemana lagi?" Tanya Firda di sela-sela makannya.
"Kita ke Busan! Kau mau hmm? Disana juga ada Pantai Haeundae!" Jawab Satria.
"Wah! Kenapa aku bisa lupa dengan film Train to Busan?" Ucap Firda.
"Mari kita kesana! Sambil melihat perkembangan proyekku!" Ucap Satria.
"Kita nikmati sore kita di pantai bolehkan?" Pinta Firda dengan puppy eyesnya.
"Tentu!" Jawab Satria sambil menatap gemas melihat istrinya yang ceria.
"Jangan memohon seperti itu lagi!" Ucap Satria yang langsung ditatap heran oleh Firda.
"Aku jadi ingin menerkam mu Disni!" Lanjut Satria sambil mencubit pipi Firda yang semakin mengembang saja.
"Mas apa aku gendut ya?" Tanya Firda sambil memegang pipinya yang terasa besar.
"Tidak! Walaupun benar juga aku akan tetap mencintaimu!" Ucap Satria jujur.
"Selama diluar negri aku banyak sekali makan!" Ujar Firda dengan raut sendu sambil terus memegang pipinya.
"Hey! Aku lebih suka wanita berisi seperti ini!" Ucap Satria menghibur istrinya ini, padahal jika dilihat-lihat olehnya, Firda bahkan tidak berat sama.sekaki saat ia membopongnya tadi, pikir Satria.
"Jangan terlalu dipikirkan! Lanjutkan makan mu!"
Firda hanya mengangguk dan langsung menyuapkan Tteokbokki kembali ke mulutnya.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang sejak tadi memperhatikan keduanya mendekat ke meja Satria dan juga Firda.
"sillyehabnida! naega mwonga malhaessnayo? (Permisi Tuan! Apakah saya boleh mengatakan sesuatu)" Tutur Laki-laki itu dengan. Bahasa koreanya.
Firda menatap Satria sebagai arti jika dirinya tak paham bahasa Korea, yah walaupun ia suka menonton drama Korea, tapi jika belajar bahasa Korea ia tak pernah sama sekali.
"mullon! geugeos-eun mueos-ibnikka? (Tentu Saja! Ada apa?)" Jawab Satria heran sambil menatap laki-laki didepannya dengan aura dinginnya.
Laki-laki itu tersenyum senang dan langsung duduk di sebrang kursi Satria dan menatap Firda sekilas.
"seonsaengnim! dangsin-ui yeodongsaeng-eun jeongmal gwiyeobseubnida! jega geu yeodongsaeng-eul al-aganeun geos-i meosjinayo? (Tuan! Adik anda sangat Imut! Bolehkah aku berkenalan dengannya?)" Tanya Laki-laki itu dengan penuh harap.
Satria mengeraskan rahangnya saat mendengar perkataan laki-laki didepannya ini! Apa dia bilang barusan? Adiknya? ****! Satria sangat kesal sekarang, ia membanting sumpitnya dan langsung berdiri sambil menatap laki-laki didepannya nyalang.
"Mal josimhaseyo seonsaengnim! nae anaelan mal-ieyo! nae anaeleul chingchanhalyeogo haji maseyo! geu salam-eun ojig naekkeoya! (Jaga bicara anda tuan! Yang anda maksud adalah istri saya! Jangan mencoba memuji istriku! Dia hanya milikku!)" Ucap Satria dengan dingin, ia langsung menarik kemeja laki-laki itu yang langsung otomatis berdiri untuk pergi dari hadapannya.
"Mas! Hentikan!" Ucap Firda pada suaminya yang tampaknya sangat marah saat ini, ia langsung merangkul sebelah tangan Satria dan mengelus dada bidang Satria dengan lembut agar tenang.
Satria langsung menghempas kemeja laki-laki tadi hingga tersungkur.
"seonsaengnim! yongseo haejwo! moleugess-eoyo! (Tuan! Maafkan saya! Saya tidak tahu)" Ucap Laki-laki itu merasa bersalah sekaligus takut dengan laki-laki didepannya.
__ADS_1
Tak lama Juan muncul dan membantu laki-laki itu berdiri dengan menarik satu lengannya.
"da-eumbeon! nuguwaui daehwado jikyeoboseyo! dahaengseuleobgedo dangsin yeop-e jeolm-eun agassiga issgi ttaemun-e dangsin-eun ije anjeonhabnida! (Lain kali! Jaga bicara anda dengan siapapun! Untung kau selamat saat ini karena ada nona muda disampingnya!)" Tegur Juan dengan nada dinginnya, ia sangat terkejut sekali saat mendengar perkataan laki-laki ini beberapa menit lalu, sungguh dia laki-laki yang begitu ceroboh. Pikir Juan.
Laki-laki itu langsung meminta maaf dan berlari keluar restauran karena malu menjadi baha tontonan para pengunjung lainnya.
"Mas! Apa yang ia katakan? Kenapa kau sangat marah?" Tanya Firda sambil terus mengelus dada Satria agar suaminya tenang.
' Laki-laki tadi memuji anda dihadapan tuan muda nona! Wajar ia marah! ' Jawab Juan dalam hatinya sebelum ia melenggang pergi dari sana.
Satria langsung duduk sambil menetralkan nafasnya diikuti oleh Firda yang duduk disampingnya.
"Tenanglah!" Ucap Firda yang langsung memeluk suaminya dari samping.
Satria membalas pelukan istrinya dengan nyaman dan membuat hatinya sangat tenang.
"Kenapa kau begitu marah? Walaupun aku tak tahu artinya, tapi kau begitu menakutkan barusan!" Ucap Firda lirih.
"Maaf membuatmu takut sayang!" Ucap Satria menyesal.
"Tidak apa-apa! Yang penting kau tenang sekarang!" Jawab Firda.
"Kita lanjutkan makan! Setelah itu kita akan menuju kota Busan!" Firda langsung melepaskan pelukannya dan mengangguk senang.
"Ayo habiskan makanan fantastis ini!" Ucap Firda diiringi dengan tawa kecilnya.
"Jangan tersenyum dan tertawa saat diluar! Atau orang lain akan melihatnya!"
"Kenapa memangnya?" Tanya Firda heran.
"Lanjutkan makan saja sayang! Jangan banyak bertanya!" Jawab Satria yang langsung menyuapkan makanannya ke mulut Firda yang sudah terbuka menerima suapan dari Satria.
' Sepertinya saya harus membawa nada nona kemanapun tuan berada! Karena tugas saya sedikit berkurang jika ada yang menahan emosi tuan muda! ' Ucap Juan dalam hatinya yang langsung kembali menyuapkan makanannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berbeda dengan suasana Indonesia saat ini, terutama di keluarga Farhan yang tengah makan-makan besar dengan keluarga, tapi sepertinya raut wajah Farhan sangat bosan dengan suasana ini.
"Sayang! Makanlah! Hari ini kau tak boleh memikirkan pekerjaanmu dimanapun!" Ucap Aneska pada putranya.
"Iya bund!" Jawab Farhan sedikit malas.
"Apa kau tidak senang merayakan ulang tahun nenekmu?" Tanya Aneska sambil mengelus rambut Farhan lembut.
"Tidak juga!"
"Bergabunglah dengan sepupu mu yang lain! Mereka sepertinya ingin bercengkrama denganmu setelah sekian lama!"
"Nanti saja Farhan menghampiri mereka setelah acara inti ini selesai!" Jawab Farhan.
__ADS_1
"Farhan sini nak!" Panggil Arsen pada putranya.
"Hampiri ayahmu sayang!" Ucap Anes pada putranya.
"Baik bund! Farhan kesana dulu!" Ujar Farhan yang langsung meninggalkan Aneska.
"Farhan kau belum bersalaman dengan om dan tantemu!" Tutur Ares pada putranya itu dengan bahasa isyarat yang memerintah Farhan duduk.
"Apa kabar om, Tante?" Tanya Farhan yang langsung mencium kedua tangan om dan tantenya.
"Baik sayang! Kau sudah besar ya ternyata!" Ucap Tantenya.
"Om juga baik! Kamu sendiri bagaimana?"
"Farhan baik juga!" Jawab Farhan singkat.
"Dengar-dengar kau juga membantu pekerja ayahmu dikantor juga! Apa itu benar?" Tanya Arka ataupun yang dipanggil om tadi, Arka merupakan Adik dari Arsen, kebetulan mereka hanya dua bersaudara.
"Begitulah om! Atas paksaan dari Aya!" Jawab Farhan cuek.
Arsen dan Arka langsung tertawa mendengar jawaban Farhan.
"Kau tahu? Aldo juga sangat pemalas jika harus mengerjakan pekerjaan om awalnya, tapi setelah om paksa akhirnya mau tidak mau dia melakukannya, mana mungkin om memerintahkan Aldi adiknya yang baru saja lima tahun!" Ujar Arka yang langsung menepuk pundak Farhan pelan.
"Jangan bilang kamu belum bertemu Aldo lagi!" Ucap Arsen tak habis pikir dengan putranya yang satu ini.
"Belum!" Jawab Farhan santai sambil meminum jus yang telah disajikan.
"Dengar-dengar sahabat kamu baru-baru ini sudah menikah! Jadi kapan kau menikah?" Tanya Arka pada keponakannya.
"Tahun depan!" Jawab Farhan ngasal.
"Wah! Bang Arsen, kau harus pegang kata-katanya nih! Siapa tahu jadi doa bukan? Hahah!"
"Dia tidak jauh beda dengan sahabatnya yang anti perempuan, tapi Satria saja sekarang sudah menikah, berusahalah sedikit bung!" Ujar Arsen menggoda putranya.
"Belum tertarik!" Jawab Farhan santai.
"Lihat saja! Saat acara inti nanti! Nenekmu akan menanyakan hal itu!" Ucap Arka.
"Sudahlah! Keponakan ku jadi badmood gara-gara kalian!" Tegur Syifa sang istri Arka.
Namun wajah Farhan tampak tenang tak ada ekspresi, karena sebenarnya pikirannya bukan pada pembicaraan Ayah dan om nya, ia memiliki banyak pertanyaan di otaknya yang harus ia gali nanti.
.
.
.
__ADS_1
.