Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
38. Amera


__ADS_3

Amera mengusap punggung Firda lembut, setelah makan siang Amera tidak melupakan niatnya untuk kesini, ia ingin mendengarkan curhatan Firda karena seperti dugaan Amera Firda dan Satria sedang memiliki masalah.


Ia paham sekali dengan gadis di pelukannya, pasalnya Firda akhir-akhir banyak sekali mengalami tragedi yang begitu berat dalam fase hidupnya. Ia paham atas sikap Firda saat mendengar perkataan Satria dan Farhan saat itu, namun Amera juga yakin bahwa gadis ini hanya sedang salah paham saja, Amera tidak mau sampai ia harus kehilangan gadis sebaik Firda, karena saat mengingat Firda ia jadi teringat pada dirinya waktu dulu masuk ke kehidupan Saka.


"Sudah puas menangis nya?" Tanya Amera dan langsung mengusap sisa air mata Firda di pipinya.


"Bund! Firda boleh batalin pernikahannya?" Tanya Firda dengan suara masih bergetar.


"Sayang! Dengerin bunda ya!"


"Bunda mau cerita sedikit tentang kepribadian Satria yang belum kamu ketahui sampai saat ini!"


Firda hanya terdiam sebagai tanda ia mau mendengarkannya.


"Satria merupakan sosok laki-laki yang sangat dingin terhadap siapapun, di hidupnya ia hanya menganggap wanita di keluarganya saja! Ia tipe laki-laki yang tidak pernah pandang bulu, jika menurut penuturannya salah, berarti ia salah! Sikap tegasnya menjadi diberikan amanah sebagai seorang kapten di kepolisian!" Amera menghela nafasnya sejenak.


"Awalnya Bunda sangat takut jika Satria tidak akan pernah menyukai seorang wanita, dilihat usianya yang semakin hari semakin matang, membuat hati bunda memiliki ketakutan akan masa depannya Satria, tapi bunda yakin ia juga memiliki jalan hidupnya sendiri!"


"Kamu tahu? Kamu adalah gadis pertama yang Satria bawa ke mansion! Kamu adalah gadis pertama yang membuat Satria penasaran hingga berlabuh sebuah perasaan!"


"Biasanya Satria tidak akan peduli dengan siapapun! Apalagi seorang wanita, ia paling anti sekali! Tapi kamu, merupakan wanita yang terang-terangan Satria bawa ke mansion dan diperkenalkan pada semua orang!" Amera tersenyum sesaat mengingat sifat Satria yang berubah setelahnya.


"Kamu tahu? Bahkan sekarang Satria sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang selalu peka terhadap wanita, dan itu adalah kamu! Kamu tahu? Staf Tante Mahira mengirimkan gaun yang sangat cantik, kata Tante Mahira Satria tahu kalau kamu menyukai gaun itu, tapi kamu malah memilih yang lain, tapi dengan tanpa beban gan pernikahan mewah itu kini sudah mendarat dengan baik di mansion William!" Amera merogoh benda pipih dari tas yang berada tak jauh dari posisinya.


"Lihat ini!" Firda memandang handphone di genggaman Amera dengan terkejut, ternyata Satria benar-benar membawa gaun yang ia sukai saat di butik, padahal ia sendiri tidak pernah bilang kalau menyukai gaun itu.


"Satria peka sekali bukan? Katanya ia melihat kamu memandang lekat gaun ini, dan wajah kamu berubah saat melihat nominal harga di buku daftar harga!"

__ADS_1


"Bunda denger penuturan Kak Ira begitu bahagia sekali! Ternyata selain kamu gadis baik, kamu juga sudah merubah sifat kaku Satria sedikit demi sedikit, bahkan sama bunda pun tidak pernah se peka itu! Jika bunda menginginkan sesuatu, bunda pasti langsung bilang terang-terangan, karena Satria sama kayak ayahnya dulu, susah banget dalam kepekaan terhadap wanita!"


Firda hanya termenung mendengar setiap penuturan Amera, hatinya terasa tersentuh dan hangat sekali mendengar setiap kalimat Amera.


"Kamu tahu sayang? Satria rela bayar mahal dokter dari Singapura agar kamu bisa sembuh dari trauma mu! Semua keluarga membiarkan apapun yang ia inginkan, karena kami percaya kamu adalah pilihan Satria yang tepat!"


Firda meneteskan matanya mendengar ucapan Amera yang terakhir, kenapa ia baru sadar bahwa Satria begitu baik terhadapnya saat ia hampir dilecehkan oleh laki-laki brengsek itu? Satria juga selalu bersikap lembut saat ia sedang kambuh dalam traumanya, bahkan sifat menyebalkan menghilang seketika, dan kembali lagi saat Firda sudah membaik.


"Apa mungkin Satria bersikap seperti karena aku adalah wanita yang ia beli bund?" Amera menatap Firda dengan tatapan lembut.


"Sayang! Bahkan jika ia berniat baik pun ia sudah membeli para wanita malam yang di paksa oleh orang sekitarnya! Dan siapa sih yang rela keluarkan uang bahkan sampai mencapai milyaran rupiah hanya untuk membeli wanita? Percaya sama bunda!"


"Makasih bunda! Tapi akan Firda pikirkan lagi, pasalnya menikah bukan perkara yang mudah bagi Firda! Itu juga menyangkut masa depan aku!" Amera mengangguk tanda mengerti gadis di hadapannya.


"Bunda tidak akan memaksa kamu menerima Satria, tapi bunda takut jika dunia Satria runtuh saat kehilangan kamu! Kamu juga bisa melihat kemarahannya kemarin bukan?" Firda mengangguk pelan mengingat betapa takutnya ia melihat Satria marah kemarin, namun ia juga ingat kalau Satria hampir saja membentaknya namun satria tahan dengan cara memukul meja transparan itu.


"Bunda mau kasih kamu tips!" Ujar Amera semangat.


"Kamu mau tahu kan Satria benar cinta sama kamu atau tidaknya?" Firda hanya mengangguk walaupun ragu.


"Sayang! Satria gengsinya besar banget dia gak mungkin bilang langsung apalagi ini mungkin pertama kalinya bagi Satria! Coba kalau dia sedang marah kamu pegang tangannya, setelah itu pegang dada nya! Jika sentuhan itu bisa membuatnya terdiam maka berarti dia mencintai kamu!"


"Maksudnya?" Tanya Firda heran.


"Kemarahan Satria sama persis sifatnya dengan ayahnya, Saka juga saat marah selalu bunda tenangkan dengan cara itu! Coba kamu lakukan! Kalau dia mencintai kamu, dia gak akan berontak maupun nolak sentuhan penenang kamu! Percaya deh!"


walau ragu Firda hanya mengangguk sebagai tanda setuju, ia juga penasaran apakah laki-laki polisi itu benar-benar menyukainya atau hanya ia dijadikan sebagai tawanan saja? Pikir Firda ragu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kapten ada informasi penting!"


"Katakan!"


"Jasad yang kita cari selama ini telah ditemukan, wajahnya sudah hancur, tapi ada kartu identitas di sampingnya yang mungkin terjatuh!"


"Jasadnya sudah di amankan?"


"Sudah Kapten! Apa kita harus memberi tahu nona perihal ini?" Tanya Erik hati-hati.


"Biar aku yang memberitahukannya!" Jawab Satria dengan menatap tajam Erik.


"Baiklah kapten! Maaf sebelumnya!"


"Pergilah! Bereskan berkas-berkas ini! Karena persidangan sebentar lagi dan jangan lupakan bukti-bukti yang sudah terkumpul amankan!"


"Baik kapten! Laksanakan!" Erik langsung berlalu dari hadapan Satria.


Satria memijit pangkal hidungnya karena terasa pusing, jika hubungannya dengan Firda tidak membaik hari ini, ia pasti tidak akan tertidur lagi malam ini. Arghhhh… memikirkan kata-kata Firda yang tidak ingin menikahinya membuat ia semakin kesal saja, ia harus melakukan sesuatu agar gadis itu tetap berada di hidupnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2