Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
75. Go to Korea


__ADS_3

Sudah dua hari kedua pasutri berada di Jepang, Satria yang sudah peka terhadap perubahan mood istrinya yang sudah merasa bosan dengan suasana disini, tapi Firda tak pernah menawar apapun padanya.


"Pagi Sayang!" Bisik Satria diakhiri dengan kecupan singkat di kening Firda.


"Pagi Mas!" Jawab Firda dengan senyumannya.


"Bikin apa hmm?" Tanya Satria sambil memeluk tubuh Firda dari belakang.


"Aku lagi bikin teh hangat buat kamu! Cuacanya dingin, teh ini pas buat penghangat tubuh!" Ujar Firda.


"Kenapa harus pakai teh? Pakai tubuh kamu saja sudah hangat!" Jawab Satria.


"Mas masih pagi jangan mesum!" Tegur Firda kesal, bisa-bisanya suaminya ini terus mesum setiap waktu setelah semalaman ia diberi jatah.


"Lagian apa salahnya hmm?" Tanya Satria heran.


"Sudahlah! Ini teh hangatnya!" Firda membalikkan tubuhnya menghadap Satria dan menyerahkan segelas teh hangat dan diterima langsung oleh Satria.


"Thank you honey!"


Cup


Satria mengecup bibir Firda singkat dan langsung berlalu dari pantry menuju ruang tengah hotel dengan membawa segelas teh buatan istrinya.


"Awhhss…!" Firda meringis cukup keras saat tangannya tak sengaja terkena termos elektronik yang masih panas.


Satria yang mendengar suara istrinya yang meringis.


"Ada apa hmm?" Tanya Satria panik.


Satria langsung meraih tangan Firda dan terdapat merah di punggung tangannya.


"Kau terluka!" Ucap Satria yang langsung menggendong Firda ala bridal style menuju ruang tengah.


Satria mendudukkan tubuh Firda pelan di atas sofa panjang, ia juga langsung mencari obat P3K, untungnya di kamar hotelnya sudah disediakan obat-obatan komplit.


Satria langsung duduk disamping Firda dan meraih tangan Firda, ia mulai mengoleskan salep khusus ke punggung lengan Firda dengan meniupnya agar istrinya tak merasa kesakitan.


"Apa ini sakit?" Tanya Satria dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.


"Sedikit!" Jawab Firda jujur.


"Lukanya tidak usah menggunakan plester! Nanti akan semakin parah!" Firda hanya mengangguk dan membawa tangannya untuk ia tiup sendiri. Namun, Satria kembali meraih tangan istrinya.


"Biar aku saja!" Ucap Satria sambil kembali meniup luka tadi.


"Sepuluh menit lagi kita akan pergi dari sini!"


"Kemana?" Tanya Firda penasaran.


"Kita akan ke negri ginseng!" Jawab Satria.


"Korea?" Tanya Firda tak percaya.

__ADS_1


"Hmm!" Gumam Satria yang masih fokus meniup luka istrinya.


"Wah! Aku sudah tak sabar!" Ucap Firda semangat.


"Kita sarapan di jet pribadi saja! Apa kau sudah sangat lapar?"


"Tidak! Hanya sedikit!"


"Aku akan menyuruh Juan membelikan sarapan saja sekarang!" Satria langsung meraih benda pipih yang berada di meja.


"Tidak perlu! Aku tidak lapar!" Ucap Firda mencegat tangan Satria yang hendak menekan tombol panggil.


Namun Satria langsung menekan tombol panggil pada Juan saat itu juga.


"Kita berangkat sekarang! Istriku akan sarapan di Pesawat!" Satria langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa mendengarkan jawaban dari sebrang sana.


"Kenapa sepuluh menit serasa satu menit?" Gumam Firda heran.


"Aku belum mengemas barang-barang kemarin!"


"Tak usah dibawa lagi! Kita akan membeli baju disana!"


"Suamiku yang tampan! Kau kemarin membeli beberapa baju dan ada yang belum aku pakai sama sekali, itu sangat mubazir!"


"Nanti ada petugas khusus yang akan membereskannya!" ucap Satria yang langsung membawa kedua handphone di meja dan dimasukan kedalam saku Hoodienya.


Ia juga langsung menggendong Firda ala bridal style dan langsung berjalan keluar dari unit kamarnya.


"Mas! Tanganku yang terluka, bukan kakiku! Aku masih bisa berjalan!" Ucap Firda merengek karena malu menjadi sorotan publik saat mereka keluar kamar.


Kini keduanya tengah bersantai sambil melihat awan-awan dari jendela pesawat, lebih tepatnya Firda disini yang bersantai, kakinya selonjoran ke depan sambil makan disuapi oleh tangan satria langsung tanpa menggunakan sendok.


"Makan lagi!" Tegur Satria saat melihat istrinya yang tidak membuka mulutnya karena sibuk memotret awan-awan yang cerah diluar.


Firda langsung cengengesan dan hanya mengangguk setelah itu baru menerima suapan dari Satria.


"Mas! Nanti disana aku mau makan kimchi ya disana! Aku penasaran sama rasa kimchi asli dari tempatnya!"


"Hmm!" Gumam Satria sebagai jawabannya.


"Mas! Ayam bakarnya banyakin, jangan cuma nasinya doang!" gerutu Firda lagi saat menerima Suan Satria.


"Iya bawel!" Jawab Satria singkat.


"Permisi tuan!" Ucap Juan menghampiri Satria dan Firda.


' Ayolah tuan! Anda sekarang seperti seorang ayah yang menyuapi anaknya! ' Batin Juan sambil menahan tawanya.


"Ada apa?" Tanya Satria tanpa mengalihkan pandangannya dari piring ditangannya.


"Tuan! Ada klien yang memaksa untuk bertemu anda pekan ini!" Tutur Juan.


"Kau tidak bisa membereskan hal seperti itu saja?" Tanya Satria dengan kesal.

__ADS_1


"Tuan! Klien tersebut mengancam akan melakukan segala cara untuk bertemu dengan anda!" Jawab Juan.


"Hapus kerja kontrak dengannya kalau begitu!" Ucap Satria dengan kesal.


"Tidak Mas! Temui saja dia! Lagian kita bisa masih punya banyak waktu untuk meneruskan bulan madu ini!"


Satria menatap istrinya lekat, ada rasa tersirat tidak rela di hati Satria jika istrinya mengalah seperti itu.


"Akan ku kasih keputusan saat mendarat nanti!"


"Baik tuan! Dan saya ingin memberitahukan bahwa yang tuan inginkan sudah terjadi!"


"Hmm! Sekarang Pergilah!"


"Baik Tuan saya permisi!" Ujar Juan pamit undur diri.


"Sayang! Aku tidak akan menemui mereka sebelum jadwal kita selesai!" Ujar Satria sambil menyiapkan nasi tersebut ke mulutnya. dengan kesal.


"Mas!" Panggil Firda sambil mengelus rahang Satria lembut membuat sang empu memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut istrinya.


"Kita masih bisa melakukan jalan-jalan lain kali bukan? Pekerjaan kamu lebih penting!" Ucap Firda lembut.


"Mereka hanya lalat yang ingin menjilat sayang! Mereka tidak penting, kau lebih penting bagiku!" Tegas Satria.


"Kalau aku lebih penting bagimu, maka turuti aku!" Satria kembali terdiam mendengar perkataan Firda, ia tidak rela momen yang sudah ia susun untuk dirinya dan istrinya tidak berjalan semuanya.


"Baiklah!" Ucap Satria mengalah, ia yakin pasti istrinya akan memaksa nya terus sampai ia mau.


CUP…


Firda mengecup bibir Satria singkat agar suaminya tersenyum, dan benar saja Satria malah Manarik pinggang Firda agar lebih dekat dengannya, ia langsung mencium bibir Firda lama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anita merobek kertas yang Baru saja ia terima saat ini, surat itu berasal dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa dirinya dikeluarkan dan telah resmi bukan bagian dari abdi negara lagi.


"SIAL…!" Anita langsung mengacak meja kaca yang berada di kamar hotelnya itu hingga pecah menjadi berkeping-keping.


"Satria sayang! Kamu benar-benar tega!" Desis Anita dengan nafas yang memburu, tangannya mengepal kuat hingga menampilkan urat-urat ditangannya.


"WANITA J*LANG! LIHAT SAJA AKU AKAN MENGHANCURKAN MU!"


"Nona!" Panggil pengawal dengan panik mendengar teriakan nona nya.


"Aku mau pulang! SIAPKAN JADWAL TERBANG KU SAAT INI JUGA!" Ucap Anita dengan nada yang tiba-tiba naik oktaf.


"Baik nona!" Ujar pengawal itu yang langsung undur diri karena takut amukan Anita.


"Sia-sia aku datang ke Prancis! Pasti Satria sudah tidak disini!" Gumam Anita dengan amarahnya yang masih memuncak.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2