
Semua para polisi menatap aneh pada gadis yang berlari tanpa alas kaki keluar dari ruangan Komandannya, ah mereka baru ingat kalau komandan mereka membawa gadis itu lagi kemari.
"Nona! Apa ada yang bisa saya bantu?" Cegat Juan saat melihat Firda keluar.
Namun ternyata Firda enggan menjawab dan malah pergi dari hadapan Juan.
"Tuan!" Hormat Juan saat melihat Satria keluar, sedangkan ia sama sekali tak di hiraukan oleh Satria, ia terus berlari hingga akhirnya bisa mencegat Firda.
"Kau mau kabur hmm?" Tanya Satria saat sudah berhasil menahan lengan Firda.
"Aku lapar!" Ucap Firda dengan nada marahnya, sejak kecil ia paling tidak suka jika makanan kesukaannya diambil, bahkan ia dulu pernah marah pada Rani akibat makanannya diambil, untunglah saat itu ia ada Ayahnya sebagi tameng, namun dikala Dafa tidak ada, ia hanya menangis jika makanannya diambil oleh Karina maupun Rani, karena ia takut pada ibunya.
"Biar ku pesankan yang baru ok?" Firda hanya mengangguk pasrah dengan rasa kesalnya yang masih tersimpan.
CK sial! Satria sangat gemas pada gadis didepannya, bisa-bisanya ia menangis gara-gara sebuah makanan yang dapat di beli lagi, pikir Satria heran.
Tanpa sadar semua orang disana menatap adegannya dengan tatapan tak percaya, bagaimana bisa kapten mereka bersikap lembut pada seorang wanita? Apa benar yang mereka lihat ini adalah Satria Arnold William? Jika benar, maka tolong abadikan memori langka ini!!.
"Kau tidak memakai alas kaki hmm?" Tanya Satria geram saat sadar Firda tak memakai alas kaki, bagaimana jika disini ada pecahan kaca? Pikir Satria marah.
"Juan!" Panggil Satria pada tangan kanannya.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Juan.
"Bilang pada Office boy agar membersihkan lantai satu hari tiga kali! Dan jangan sampai ada pecahan kaca sedikitpun di lantai!" Perintah Satria.
"Tentu tuan! Akan saya sampaikan!" Ucap Juan dengan nada senangnya dan langsung berlalu dari hadapan Satria, bagaiman ia tidak senang jika sang tuan muda bisa perhatian pada seorang wanita kecuali ibu dan kakaknya, terlebih gadis ini begitu baik menurutnya.
Sedangkan Firda masih dengan wajah kesalnya tiba-tiba tubuhnya terasa melayang ke udara.
"Eh…apa yang kau lakukan?" Ucap Firda kaget.
"Diam atau ku cium!" Ucap Satria pelan yang langsung membuat Firda diam tak berkutik, nada suara Satria memang tidak main-main kali ini.
Lagi dan lagi para polisi disana menjatuhkan rahangnya melihat pemandangan langka ini, sungguh keajaiban dunia pada hari ini.
Saat tiba di ruangan, Satria langsung menurunkan tubuh Firda di dekat sofa dan langsung mendudukkan tubuhnya dengan sekali gerakan.
"Han! Lo keluar!" Ucap Satria pada sahabatnya yang hanya menghela nafas pasrah dan mengangguk.
Farhan keluar meninggalkan dua sejoli berbeda jenis kelamin itu, ia sangat tidak paham akhir-akhir ini pada Satria, awas saja jika sahabatnya berani mempermainkan wanita, ia tak segan-segan menggantungnya.
"Mana makananku?" Belum sempat Satria menjawab suara ketukan pintu membuat ia teralihkan perhatiannya.
"Maaf tuan saya mengganggu! Pesanan anda sudah sampai!"
Ternyata yang masuk adalah Juan sambil menenteng kresek pesanan Satria, ia meletakkannya di meja dan Juan langsung keluar lagi.
"Makanlah! Nanti sore kita fitting baju!" Ucap Satria pada Firda yang kini tengah sibuk membuka makana di hadapannya.
"Fitting baju?" Tanya Firda heran.
__ADS_1
"Kau lupa kalau satu Minggu lagi kita menikah?"
"Hmm!" Gumam Firda mengabaikan karena makanan di hadapannya saat ini.
Satria hanya menggeleng aneh pada gadis didepannya, Satria jadi heran, kenapa saat di siksa oleh ibu dan adiknya ia tak kesal pada perlakuan mereka, kenapa saat makanannya diambil ia jadi sensitif seperti tadi? Pikir Satria heran.
' apa bunda juga marah kalau makanannya diambil atau di makan oleh orang lain seperti tadi?' Tanya Satria dalam hati sambil terus menatap pipi Firda yang menggembung akibat bakso bakar yang ia santap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari sudah sore, menandakan matahari sebentar lagi akan pergi dan membuat langit menjadi gelap, semua orang ingin sekali cepat sampai di rumah masing-masing dan berisitirahat setelah. hari yang cukup melelahkan ini.
Berbeda dengan Satria dan Firda yang kini telah membelah jalanan menuju ke suatu tempat dimana sang nenek meminta mereka untuk datang melakukan Fitting baju.
Kini mereka berdua telah sampai didepan butik yang sangat terkenal, butik ini kebetulan masih milik keluarga Satria namun dikelola oleh sang Tante dari ibunya.
Firda hanya mengikuti langkah Satria yang panjang saat memasuki butik yang luas ini, sungguh Firda sangat kagum dengan baju-baju yang berjejer rapih di lantai dasar, banyak sekali macam-macam dress yang pasti harganya tak mampu Firda bayar.
Kini mereka berada di lantai ke empat dan duduk seperti menunggu seseorang, dan Firda tidak tahu itu, ia hanya ikut duduk saja di samping polisi menyebalkan ini.
"Hai Boy! Apa kabarmu?" Tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari Lip menuju ke hadapan Satria.
"Seperti yang Tante lihat!" Ujar Satria dan bersalaman pada sang Tante yang bernama Mahira yang sering dikenal dengan panggilan Ira.
"Aku sangat senang mendengar kau akan menikah! Apakah dia gadis yang akan kau persunting nanti?" Tanya Mahira pada sang ponakan.
"Hallo Tante!" Sapa Firda dengan senyuman manisnya.
"Hai sayang! Siapa namamu?" Tanya Ira senang.
"Cantik sekali seperti orangnya! Perkenalkan nama Tante Mahira Aurelia Putri, kakak dari ibunya Satria! Panggil saja Tante Ira! Kalau Bunda juga boleh!" Ucap Mahira dengan guyonannya.
"Tan!" Ucap Satria memperingati.
"Ya ampun! Keponakanku sudah kesal rupanya!" Ucap Mahira diiringi tawa renyahnya.
"Mari Tante perlihatkan desain baju pengantin rancangan terbaru di butik ini!" Ajak Ira pada Firda.
Firda menatap kagum pada opsi pertama yang dibawakan salah satu pegawai kehadapannya.
"Kau menyukainya?" Tanya Ira pada Firda.
"Bajunya bagus!" Ucap Firda jujur.
"Tante punya pilihan lain loh sayang!"
"Tolong bawakan yang belum dikeluarkan!" Perintah Ira pada staffnya.
__ADS_1
Ouh ayolah! Firda justru lebih tertarik pada pilihan kedua ini! Dari desain nya saja ia bisa tahu bahwa ini sangat mahal bukan? Pikir Firda.
"Bagaimana hmm? Kau suka yang mana?" Tanya Ira pada Firda.
Firda tahu walaupun ini masih milik butik keluarganya Satria, Satria tidak mungkin membawa gaun ini cuma-cuma! Desainernya akan menangis melihat gaunnya di pakai cuma satu kali seumur hidup dan tanpa di bayar sepeserpun, yah walaupun ini masih hal dari keluarga William.
Mata Firda terus menatap gaun kedua tadi tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain, Firda juga tak sengaja melihat nominal harga setiap gaun termasuk yang ada di hadapannya, ia kaget saat melihat banyak sekali angka di belakangnya, dan entah berapa harganya dan tanpa Firda sadari Satria sejak tadi terus memperhatikan gerak-geriknya.
"Kau mau pilih yang mana? Atau kau tidak suka keduanya? Nanti biar kami desain lagi yang lebih bagus dari ini!" Ucap Ira lagi saat ia tak mendapatkan jawaban dari Gadis di hadapannya.
"Tidak Tante! Semuanya bagus, sepertinya aku lebih memilih opsi pertama saja! Yang kedua terlalu mewah untukku! Dan yang pertama lebih elegan." Ucap Firda berbohong, sebenarnya ia sangat suka dengan desain kedua, namun ia tak sengaja tadi melihat nominal harganya yang bahkan entah berapa angka di belakangnya.
Mahira menghela nafas kecewa saat ternyata gadis ini malah memilih pilihan pertama yang biasa saja, apa desain pertama ini mengalahkan yang kedua? Padahal walau terlihat mewah gaun kedua tetap elegan menurutnya.
"Kau yakin?" Tanya Mahira lagi pada Firda.
Sekilas Firda menatap Satria yang tak berekspresi dan langsung mengangguk pada Mahira sebagi jawaban terakhirnya.
"Tante! Apakah disini ada toilet?" Tanya Firda mengalihkan rasa kecewa Ira, Firda bisa merasakannya.
"Ada sayang! Nanti kau diantar dia yah!" Tunjuk Mahira pada sekretarisnya.
Setelah Firda berlalu dari hadapan mereka Satria langsung menghampiri sang Tante yang masih sedikit kecewa, ia juga berjongkok mengambil dompet Firda yang terjatuh barusan dari tasnya.
"Antarkan gaun kedua ke mansion ku! Nanti uangnya akan aku transfer!" Ucap Satria pada Mahira.
"Satria! Jika dia menyukainya aku akan dengan senang memberikan ini secara cuma-cuma!" Ucap Ira sedih.
"Tante terlalu ceroboh! Kenapa Tante menyimpan buku harga gaun sembarangan? Kekasihku sampai melihatnya tadi!"
"Maksudmu apa?" Tanya Mahira tak mengerti.
"Tante! Kekasihku menyukai gaun kedua! Namun sayangnya ia melihat harga yang menurutnya tinggi! Itu sebabnya ia lebih memilih yang pertama, aku bisa melihatnya dari tatapan matanya!" Ucap Satria Santai sambil melirik gaun kedua tadi.
Ira yang mendengar itu sangat senang sekali, selain senang Firda menyukai desain opsi kedua, ia juga senang ternyata keponakannya sangatlah peka sebagai laki-laki, dan Ira sangat senang sekali.
"Besok calon istrimu sudah bisa memiliki gaun indah ini! Nanti malam akan dikirim secepatnya!" Ucap Mahira semangat.
"Thank you Tante!"
"Your welcome sayang!"
berbeda dengan Firda saat ini, ia sedang menatap cermin besar di toilet butik, ia tak menyangka dalam hitungan hari ia akan menjadi seorang istri untuk laki-laki yang ia temui baru beberapa bulan ini. Entah apa yang ada dalam skenario tuhan! Yang Firda yakini ini adalah yang terbaik pastinya, apa salahnya bukan jika ia mencoba membuka hatinya untuk Satria? Sejauh ini, Firda tak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari laki-laki Polisi yang bernama Satria itu, yah walaupun laki-laki itu sedikit menyebalkan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.