Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
72. Kehilangan kepercayaan diri!


__ADS_3

Satria menatap wajah Firda yang kini masih setia menutup matanya sejak pagi tadi hingga siang ini, dokter tadi sudah memberikan obat alergi untuk Firda namun kondisinya belum juga ada tanda-tanda membaik.


"Enghhh…!" Firda bergumam tak jelas saat ini.


Satria yang melihat pergerakan Firda langsung menekan tombol panggil sang dokter. untuk datang ke kamarnya.


"Sayang! Kau sudah sadar hmm? Apa yang kau butuhkan? Kau mau makan? Atau mau minum?" Tanya Satria berturut-turut.


Firda hanya menatap wajah Satria sekilas dan menggelengkan kepalanya.


"Tuan! Izinkan kami mengecek keadaan Nona muda!" Ujar Seorang dokter yang baru saja datang.


Satria hanya mengangguk dan mempersilahkan Sang dokter dan dua perawat untuk mengecek keadaan istrinya.


"Keadaan nona sudah cukup membaik tuan! Saya jamin alergi Nona Muda besok pagi sudah menghilang! Pasalnya tadi anda membawa nona tepat waktu, jika tidak! Alergi nona sudah menyeluruh!"


"Bukannya tadi alergi istriku sudah menyebar?" Tanya Satria yang khawatir.


"Iya tuan! Tapi itu hanya bintik-bintik merah yang menyebar! Kalau gejala alergi seperti muntah dan yang lainnya belum dialami Nona, karena nona sewaktu diperjalanan menuju ke rumah sakit langsung tak sadarkan diri, hal itu membuat alergi nona sulit untuk menyebar!" Jelas sang Dokter.


"Kalian boleh pergi!" Ucap Satria setelah mendengar penjelasan dari Dokter.


"Kami permisi tuan!"


"Ada yang kau inginkan hmm?" Tanya Satria pada Firda.


"Aku haus!" Ucap Firda dengan suara seraknya.


Satria langsung meraih gelas yang sudah berisi air, sebelumnya ia juga mengangkat tubuh Firda agar bersandar di bantal.


"Apa kamu lapar?" Tanya Satria lembut.


"Mas Satya! Kita dimana?" Tanya Firda yang tidak asing dengan tempat ini.


"Kita di Jet pribadi!" Jawab Satria, karena memang sewaktu Juan sudah menyiapkan jet pribadinya untuk berangkat, Satria langsung berangkat tanpa mau menunda waktu terlalu lama disana.


"Apa kita akan pulang?" tanya Firda lagi.


"Kita akan ke negri sakura!" Jawab Satria sambil merapihkan rambut Firda.


"Jepang?" Satria hanya mengangguk sebagai jawabannya.

__ADS_1


"Mas lenganku! Kakiku!" Tutur Firda sendu karena masih melihat bintik-bintik merah di lengan dan kakinya.


"Stttt… Nanti juga menghilang! Jangan panik oke!" Ucap Satria sambil menggenggam tangan Firda untuk menenangkannya.


"Wajah aku pasti terkena bintik seperti ini!" Jiwa percaya diri Firda menghilang saat ini.


Firda memang selalu tak percaya diri saat alergi ini muncul. Pasalnya beberapa tahun lalu wajahnya selalu bengkak saat terkena alergi kacang, dan dia akan mengurung dirinya dikamar walau Rani akan menggedor pintu kamarnya beberapa puluh kali pun, dan setelah sembuh Firda akan berakhir disiksa kembali oleh Rani.


"Mas kamu keluar!" Satria langsung teringat perkataan Juan yang baru saja mengatakannya beberapa menit lalu.


"Tuan! Berdasarkan informasi, Nona muda akan kehilangan kepercayaan dirinya sendiri saat terkena alergi ini! Ia akan mengurung diri dikamar sampai alergi ini menghilang darinya! Saya harap tuan dapat menenangkan nona nanti!"


"*Apa maksudmu?" Tanya Satria kurang paham.


"Menurut informasi ini! Nona akan merasa insecure terhadap orang lain jika alergi ini datang! Bahkan ia merasa menjadi wanita yang menjijikan saat bintik merah itu hadir ditubuhnya*!"


"Sayang tenanglah!" Ucap Satria langsung menarik tubuh Firda agar masuk kedalam pelukannya.


"Keluarlah hiks… aku ingin sendiri!!" Tangis Firda mulai pecah dan langsung memberontak pada Satria agar melepaskan pelukannya.


"Sayang! Kau tetap cantik di mataku! Kau tetap cantik!" Ucap Satria mencoba menenangkan Firda.


"KELUAR!" Ucap Firda meninggikan suaranya.


"Stttt… Lihat aku!" Tegas Satria.


"Kenapa hmm? Kau kehilangan kepercayaan dirimu? Kau tetap cantik Dimata semua orang yang melihatmu! Wajahmu tetap cantik Dimata orang yang tepat, dan aku beruntung menjadi seseorang yang tepat saat ini untukmu!" tangis Firda mulai mereda, dia menatap lemari yang terbuat dari kaca transparan itu dan mengarah padanya.


Wajah saat ini memang tak separah dulu saat terakhir ia terkena alergi, namun wajahnya juga terlihat bintik merah saat ini.


"Tidurlah! Tenangkan dirimu!"


Cup…


Satria mengecup bibir Firda singkat sebelum ia membaringkan kembali tubuh istrinya. Satria ikut naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disamping Firda, ia menjadikan satu lengannya untuk bantal kepala Firda.


Satria langsung menarik tubuh Firda agar masuk kedalam pelukannya, ia tak suka jika istrinya harus kehilangan kepercayaan dirinya, ia tak suka jika istrinya insecure karena keadaannya sekarang, padahal dirinya tak pernah sama sekali berfikir jijik terhadap alerginya ini.


' Anita! Tunggu balasan setimpal dariku! Kau pikir aku akan diam saja ketika wanitaku kau buat menjadi seperti ini? Apa kau sedang menanti ajalmu hmm? '


' it's Ok! Jangan terburu-buru! Permainan baru saja dimulai! ' ucap Satria dalam hatinya dengan seringai iblisnya.

__ADS_1


"Apa bulan madu kita akan berakhir?" tanya Firda dan langsung menatap wajah dengan mendongakkan kepalanya.


"Tentu tidak sayang! Bahkan aku belum melakukan apapun padamu!" Jawab Satria dengan senyum miringnya.


"Mesum!" Jawab Firda singkat dan langsung menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah.


"Kau selalu cantik walau sedang salah tingkah seperti itu!" Ujar Satria lagi.


"Diam lah!" Ucap Firda sambil mencubit perut Satria keras.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu jangan gila Laura!" Tegur Rio entah yang keberapa kalinya.


"Kenapa ayah kenapa? Kenapa aku tidak boleh mendekati anak dari Mr.William itu?"


"Laura Sadarlah!! Anak Mr. William sudah memiliki pasangan! Cari laki-laki lain saja Laura!" Rio memijat pelipisnya dengan keras menghadapi putri satu-satunya ini.


"Aku akan bilang ke Om Papa! Pasti dia bakal bantu aku dan dukung aku! Gak kayak ayah yang sukanya melarang ini itu!"


"Laura! Cukup waktu itu saja kamu mempermalukan ayah! Jangan pernah lagi! Lagian om kamu sedang di luar kota! Dia tidak akan memanjakan kamu sekarang!"


"Ayah…!!! Ayah pernah mengerti perasaanku kah? Ayolah ayah!" Laura terus merengek sambil mengekori langkah Rio yang menuju ruang tengah.


"Jodohkan aku dengan CEO muda itu!! Satria pantas bersanding dengan aku yang derajatnya sama ayah! Wanita itu tidak pernah muncul diberita! Kasihan Keluarga William jika harus mempunyai menantu yang derajatnya tidak sama dengan kita ayah!"


"Laura hentikan!! Ayah pusing mendengar ocehan dari mulutmu! Masuk ke kamar sekarang juga!" Tegas Rio pada putrinya itu.


"Gak! Ayah emang gak peduli sama aku!" Ucap Laura dengan nada histerisnya.


"Laura jangan kekanak-kanakan! Ayah bisa Carikan laki-laki baik selain putra tuan Saka!" Ucap Rio dengan tegas.


"Aku mau Satria ayah! Aku tetap mau Satria! Tidak ada yang lain!" Tegas Laura dan langsung pergi ke lantai atas dan berlari menuju kamarnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


... KOMENTARNYA MANA NIH?.YUK PENUHI AREA INI DENGAN KOMENTAR RANDOM KALIAN😆😗...


__ADS_2