
...maaf buat orang yang nunggu cerita aku, Iyah aku tahu aku jarang Update, karena aku sendiri juga sedih sebenarnya, kondisi aku sedang berada di pesantren tidak memungkinkan untuk Up tiap hari, handphone aku juga di kasihnya hanya hari Jum'at doang, makanya kalian semua doain aku agar aku bisa segera mempunyai laptop biar update nya di laptop 🥺🙏🏼....
"Kenapa kamu malah masuk rumah sakit hah?, kamu tahukan biaya rumah sakit mahal?" Ucap Rani marah pada Firda.
Saat Rani mendengar kabar suaminya kecelakaan ia langsung datang ke tempat lokasi kejadian, namun di sana juga ia di antar oleh salah satu polisi ke rumah sakit, polisi itu berkata bahwa Firda masuk rumah sakit.
"Aku juga tidak tahu Bu" jawab Firda sedih.
"Dasar kau selalu saja menyusahkan aku" Ucap Rani dengan kesal dan langsung memukul lengan Firda.
"Maaf Bu"
"Maaf kamu bilang? Kamu tahu? Aku harus membayar biaya rumah sakit mu, ayahmu saja masih dalam pencarian, kamu mau memperbanyak pikiran ku lagi hah?" Tegas Rani sambil menjambak rambut Firda.
"Sakit Bu hiks…hiks…" ucap Firda kesakitan.
"Aku lebih sakit karena uangku habis terpakai olehmu" jawab Rani dengan tangan masih berada di rambut Firda.
"Iyah, aku juga tidak jadi shopping gara-gara kamu" Ucap Karin.
Firda terus menangis karena rambutnya yang terus di tarik oleh ibunya.
"Hentikan tanganmu!!" Ucap seseorang yang langsung melepaskan genggaman tangan Rani dari rambut Firda.
Rani yang terkejut langsung melepaskan tangannya itu, Ia juga terkejut ternyata yang memegang tangannya itu adalah seorang polisi. Yaps polisi itu tak lain adalah Satria, dia yang langsung melihat kejadian di depan matanya tidak tahan untuk berdiam diri.
"Emhh.... kenapa kau menyuruhku melepaskan nya? Tadi aku hanya sedang mengelus kepala putriku" Ucap Rani mengeles.
__ADS_1
"Iyah tadi katanya kepala kakak ku sakit" Ucap Karina membantu.
Jujur saja mereka sangat takut karena mereka sedang berhadapan dengan polisi.
"Iyah ibu dan adikku Hany…" belum sempat Firda menyelesaikan ucapannya Satria sudah memotongnya.
"Aku tidak sedang bicara denganmu" Tegas satria.
Firda langsung terdiam tak berani membantah perkataan polisi di depannya itu. ia sangat takut jika satria membentaknya lagi.
"Kalian berdua keluar! Dan biaya perobatan dia biar saya yang tanggung" Ucap Satria tegas. Semua yang mendengarnya di jamin takut dengan nada datar dan dingin yang di miliki satria.
Satria dari tadi berusaha menahan amarahnya, ia tak mau marah di hadapan Firda, karena ia tidak mau hal yang tadi terjadi terulang lagi.
Rani hanya melirik Firda dengan fajam, satria yang melihat itu tidak tahan menahan amarahnya.
"Berani membentak Firdaku, berarti kau berani mati sekarang juga" Ucap Satria Tegas.
Dan bagi hatinya sudah ada orang lain yang mengisinya.
"Maksud kamu?" Tanya Rani penasaran.
"Cepat Pergi!" Ucap Satria menekan kata katanya.
Tanpa mau bertanya lagi Rani dan Karina langsung keluar dari ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan? Kau mau membuat ku mendapatkan Maslah lagi?" Ucap Firda kesal.
__ADS_1
"Diamlah!"
"Kau memang polisi menyebalkan, pergi dari sini, aku tak mau melihat wajahmu!" Teriak Firda.
Satria hanya menurut dan ia langsung pergi keluar tanpa menjawab perkataan Firda. Satria berjalan dengan perasaan kesal, ia juga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobil itu melesat ke suatu tempat dimana ia selalu melampiaskan kemarahannya.
Kini ia sudah sampai di suatu tempat, tempat itu seperti gedung kosong dan tak terawat, tingginya empat tingkat, namun luasnya dua kali lipat dari lapang istana negara.
Ketika Satria masuk ia langsung di sambut oleh ratusan orang, ya,,, di dalam gedung itu terdapat ratusan orang yang menghuninya. Mereka semua langsung menunduk saat Satria datang, jika kalian bertanya, kapan mereka tahu bahwa Satria akan datang ke gedung itu? karena di gedung itu memiliki notifikasi khusus untuk memberitahu bahwa 1 Km lagi Satria akan datang. Dan agar mereka tidak kelabakan jika satria datang secara tiba-tiba.
Satria berjalan lurus di atas karpet merah, di sisi kanan dan kirinya sangat di penuhi oleh anak buahnya sampai ke ruangan khusus satria di tingkat pertama gedung itu, anak buahnya masih tetap menundukkan kepalanya, saat Satria mengangkat kan satu tangannya mereka semua langsung berdiri tegak, satria seakan mengisyaratkan agar mereka bersikap biasa lagi.
Satria langsung masuk ke ruangan khusus nya yang di gedung tingkat pertama, karena di tiap tingkat satria memiliki ruangan khususnya.
Saat ia sampai di dalam, ia langsung membuka laci yang cukup besar, di dalamnya berisi beberapa macam pistol dan alat tajam, ia membawa salah satu pistol di antaranya.
Dor…Dor…Dor…
Dor…Dor…Dor…
Prang…
Satria menembak barang barang yang ada di sana tanpa ragu, kaca dan guci, pecah berhamburan kemana-mana.
"Arghhhhhhh...."
Dor…Dor…Dor…
__ADS_1
"Kenapa aku sampai se marah ini??" Tanya Satria heran pada dirinya sendiri.
"Akan ku pastikan Wanita itu lepas dari ibu dan adiknya yang kejam" Tegas satria yang masih memainkan Pistolnya.