Hallo Mas Polisi

Hallo Mas Polisi
87. Kotak Hitam


__ADS_3

BRUGH…


Ansela membuang koper berukuran besar keluar dengan keras.


"Mas ku mohon jangan usir aku!" Ucap Rani yang kini bersimpuh di hadapan Riko.


"Kau tahu Rani? Selain kau telah membohongiku, kau juga begitu tega menelantarkan bahkan sampai menjual anakmu sendiri! Aku tidak Sudi harus bersama dengan orang yang tak punya hati, pantas saja kau terus menjelek-jelekkan putriku, ternyata begini kelakuan mu!" Ujar Riko panjang lebar.


Sesuai janji Ansela ia akan membongkar kebusukan ibu tirinya terlebih dahulu sebelum membalas dendam kepada Firda anaknya, dan untungnya Riko memang percaya, karena tidak mungkin jika CCTV di rekayasa, dan Riko sangat percaya pada putrinya.


"Gak mas! Aku bisa jelasin!" Ujar Rani Yang sejak tadi sudah banjir dengan air mata.


"Iya ayah! Ibu juga ada alasannya!" Ujar Karina membela ibunya.


"Apapun alasannya kalian memang tak punya hati nurani, saya muak melihat wajah kalian! Surat penceraian akan ku kirim dalam waktu lima hari!" 


"Ayah ayo kita masuk!" Ajak Ansela pada Riko.


Riko langsung menyimpan amplop coklat di atas koper untuk mereka berdua dan tentu langsung diambil oleh Karina.


"MAS JANGAN TINGGALKAN AKU KU MOHON!" ucap Rani saat Riko menutup pintu.


"KARINA KENAPA KAMU DIAM SAJA HAH?" 


"Terus aku harus apa Hah? Mengemis seperti ibu? Maaf! Aku bukan anak sialan itu!" Tegas Karina yang langsung menarik kopernya dan pergi dari sana.


Rani juga langsung mengikuti putrinya karena tak mau di anggap gila oleh para tetangganya disana.


"Karina kenapa kau tinggalkan ibu?" Tanya Rani di jalan.


"Cepatlah sedikit, mari kita pulang kerumah lama, kau tahu? Aku juga sudah tidak tahan di rumah bersama wanita Sialan seperti Ansela itu! Apa ibu mau terus jadi babu saat ayah ouh lebih tepatnya saat om Riko pergi?" 


"Tapi sekarang kita tidak bisa hidup enak lagi Karina!" 


"Ya ibu cari dong laki-laki lain yang bisa Nerima ibu dan lebih tepatnya ia gak punya anak agar tidak seperti ini lagi!" 


"Benar juga katamu sayang! Baiklah berapa uang itu?" Tanya Rani.


"Sekitar lima juta saja, sangat pelit bukan? Seharusnya ibu dapet harta Gono gini dari laki-laki tua itu!" Ujar Karina kesal dan langsung memasukkan uang tersebut kedalam tasnya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong dimana kakakmu sekarang, aku lihat di Instagramnya sebelum dia blokir ibu dia selalu memakai barang branded dan juga makanan yang enak!" 


"Jelas hidupnya enak dong! Dia selalu jual tubuhnya setiap malam pada setiap pria hidung belang!" 


"Seharusnya kita juga dapat komisi darinya karena telah membantu dia masuk ke dunia enak!" Ujar Rani kesal.


"Kenapa gak dari dulu kita pantau Firda?"


"Karena setahu ku setelah mendapat uang milyaran aku akan berubah kaya dan tidak membutuhkan lagi gadis seperti Firda!"


"Apa dia bukan anak kandungmu Bu? Jelas-jelas dia di perlakukan berbeda sepertiku! Aku sangat penasaran!" 


"Dia memang kakak kandungmu Karin, tapi aku tidak suka padanya sejak ia selalu mencari perhatian pada Dafa, aku sangat kesal melihatnya saja sampai saat ini!" 


Karina hanya diam tak menjawab perkataan ibunya dan langsung menghentikan taksi didepannya, mereka berdua langsung masuk kedalam dan melesat pergi dari sana.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini Firda sedang membereskan peralatan makeup nya di depan cermin besar itu, ia menata alat tempur diwajahnya karena sudah sangat berantakan, biasanya para maid akan membereskan semuanya tapi kali ini Firda menolak keras.


"Sayang kau sedang apa hmm?" Tanya Satria yang baru saja keluar kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di bagian bawah, sedangkan dada bidangnya ia biarkan terlihat.


Satria langsung masuk kedalam ruang ganti pakaian untuk bersiap-siap. Setelah beberapa menit ia langsung keluar dan ternyata sudah mendapatkan istrinya yang sedang duduk.


"Ada yang ingin aku sampaikan!" Ujar Satria yang langsung duduk di dekat istrinya, ia langsung mengecup bibir Firda singkat.


"Apa?" Tanya Firda penasaran.


Satria langsung memberikan kotak hitam berukuran sedang ke tangan istrinya, Firda langsung membeku melihatnya.


"Ko…kotak ini?" Tanya Firda dengan mata yang berkaca-kaca menatap Satria.


"Hmm! Itu kotak pemberian ayahmu bukan? Seharusnya aku memberikannya saat kita menikah kemarin, maaf!" Ujar Satria tulus.


"Jadi kamu yang sembunyikan ini?" Tanya Firda dengan nada marah.


"Enggak sayang! Awalnya ini diberikan Farhan, dan aku bermaksud memberikannya saat kita menikah! Tapi aku sungguh melupakannya!" Ujar Satria takut istrinya jika marah berhari-hari.

__ADS_1


"Kamu tahu? Ini peninggalan terkahir dari ayah!" Ujar Firda sedih.


Satria langsung memeluk tubuh Firda erat saat istrinya menangis, tangisannya terasa menyayat hatinya saat ini.


"Buka dan lihatlah isinya!" Ujar Satria lembut.


Firda langsung menurut, ia melepaskan pelukan Satria dan langsung membuka kotak hitam itu, ia sangat terkejut dengan apa yang ada didalamnya, disana terdapat kalung dengan permata berwarna putih disana.


Firda langsung membawa kalung tersebut dan menatapnya dengan tatapan kagum sedih bercampur terharu. Namun matanya kembali melihat secarik kertas yang pasti berisi pesan dari Dafa.


"Pasangkan dulu kalungnya!" Ujar Satria lembut sebelum istrinya membaca pesan tadi.


"Bantu aku kalau begitu!" 


"Sure baby!" 


Satria langsung memasangkan kalung indah tersebut dileher putih mulus milik istrinya.


Cup…


Satria mengecup leher Firda singkat karena tak tahan.


"Kita baca ini sama-sama!" ajak Firda yang langsung disetujui oleh Satria.


Firda langsung membuka lipatan kertas itu dengan perlahan, ia langsung memulai membaca pesan Dafa dari awal.


Satria hanya terdiam sambil menatap perubahan wajah istrinya, Firda menyimpan kertas itu saat ia selesai membacanya dan langsung menatap Satria dengan mata yang sudah banjir sejak tadi.


"Hug me Please!" Ucap Firda serak.


"Sure baby!" Ucap Satria yang langsung membawa Firda kedalam pelukannya.


"Don't cry! Itu sangat menyakitiku sayang!" Ujar Satria lembut.


Firda justru semakin keras menangis menumpahkan semuanya didalam pelukan Satria. Perlahan Satria mengangkat tubuh istrinya tanpa melepaskan pelukan tersebut, ia membawa tubuh istrinya ke atas tempat tidur agar nanti jika tangisannya reda ia bisa tidur dengan nyaman.


"Sttt…!" Satria terus menenangkan Istrinya sejak tadi agar berhenti menangis.


Setelah hampir satu jam lamanya kini tangisan istrinya sudah reda, dan Firda perlahan masuk kedalam mimpinya.

__ADS_1


Jika kalian bertanya kenapa Satria tidak terkejut? Karena sebelum istrinya tahu, ia sudah lebih tahu sejak awal, sejak dirinya menikah dengan istrinya ini, atau lebih tepatnya saat Firda baru-baru masuk kedalam hidupnya.


"Good night honey!" Ucap Satria yang langsung mengecup bibir, kening, serta kedua pipi mulus istrinya dengan gemas.


__ADS_2