HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Keluar kota


__ADS_3

Ting!


Sebuah notif dari ponsel, mengalihkan perhatian Rasya yang tengah berkutak dengan pekerjaan. Renata, itulah nama yang tertera di notif tersebut. Ibu dari anak nya, yang sudah beberapa tahun ini menghilang, biasanya Renata selalu menanyakan kabar perkembangan Arshyla setiap beberapa bulan sekali. Dan saat hari ulang tahun nya, Renata dan Vino juga akan mengirimi Arshyla hadiah. Namun, sejak dua tahun terakhir, mereka tidak pernah lagi menghubungi Rasya, begitupun Rasya juga enggan memberikan kabar bila tak di tanya.


Renata :


‘Bagaimana kabar nya?’


Rasya :


“Baik.”


Renata :


‘Bolehkah aku melihat nya?’


Rasya :

__ADS_1


Send picture


Cukup lama Renata tidak membalas balasan nya lagi, hingga setelah beberapa menit ia kembali mendapatkan balasan yang mengucapkan kata Terimakasih. Rasya tidak membalas nya lagi, ia kembali memfokuskan diri untuk menyelesaikan pekerjaan nya dan tidur. Karena besok pagi, dirinya harus berangkat ke luar kota. Sementara Arshyla akan ia tinggal di rumah bersama mama nya.


****


“Huhh, Ayah pergi lagi pergi lagi!” keluh Arshyla dengan cemberut kesal sambil bersedekap tangan di dadaa.


“Sayang, Ayah hanya pergi sebentar. Dua hari saja, kan kemarin kita sudah membahas nya,” kata Rasya dengan lembut, mencoba memberikan pengertian pada putrinya.


“Sayang, Chila sama Oma. Ada juga mbak Ratih yang nemenin Chila. Nanti, katanya weekend mau ke Puncak, mau nengokin siapa itu namanya ayah lupa. Yah, ayah janji hanya dua hari dan janji tidak akan nambah!” Rasya mengacungkan dua jarinya membuat huruf V untuk membuat janji.


“Huuhh, terus Chila di rumah sama siapa?” tanya Chila degan wajah sedih nya.


“Sayang ... “ Rasya paling susah melihat wajah anak nya bila terlihat murung, kelemahan Rasya, saat dimana dirinya melihat orang yang di cintai nya bersedih atau menangis.


“Chila mau main ke rumah tante Forzen!” putus Chila langsung merubah wajahnya menjadi antusias.

__ADS_1


“Tante forzen?” ulang Rasya mengerutkan dahinya.


“Iya, tante Forzen.”


“Frozen!” ralat Rasya.


“Forzen Ayah!” kata Chila kembali memanyunkan bibir nya.


“Sayang, kalau tante nya sibuk, Chila tidak boleh mengganggu. Ini hari rabu, berarti tante nya sedang kuliah, nanti ayah akan menelfon tante yah. Kalau nanti tidak sibuk biar Chila di antar mbak Ratih dan mang Ujang ke sana. Tapi ... kalau tante sibuk, Chila tidak bolek maksa dan nangis, oke.”


“Tante gak sibuk Ayah.” Kata Chila tetap kekuh.


“Sayang ... “


“Sudahlah Ras, gapapa. Biar Chila mama yang urus. Dia tidak akan lama kok menangis nya, percaya sama mama.” Saut mama Lily yang kasihan melihat wajah frustasi anak nya.


Rasya pun mengangguk dan berpamitan dengan Chila dan mama nya. Setelah Rasya pergi, Chila pun segera pergi ke kamar nya dan merajuk. Inilah kebiasaan Chila, dia begitu mudah sakit hati, mungkin bisa di bilang bapaer. Setiap kemauan nya tidak terpenuhi, maka ia kaan memilih masuk ke kamar dan mengurung diri. Sampai hatinya tenang, baru ia akan keluar dari kamar dan bersikap seperti biasa. Mama Lily yang sudah hafal sifat cucunya merasa wajar melihat Chila mengurung diri di kamar, berbeda dengan Rasya, yang beberapa waktu lalu sangat panik dan khawatir. Hingga dia langsung mendobrak pintu kamar Chila, dan saat pintu terbuka, tubuh Rasya di buat mematung karena Chila di dalam kamar nya sedang sholat. Sejak saat itu, Rasya sengaja meletakkan CCTV di kamar Chila agar dia bisa memantau anak nya bila sedang merajuk.

__ADS_1


__ADS_2