
“Papa belu menjawab pertanyaan Anna, bagaimana Chila, menurut papa?” tanya Anna mengulangi pertanyaan nya saat setelah mereka sudah masuk ke dalam mobil, karena sejak tadi sang ayah tidak juga memberikan respon apapun padanya.
“Kenapa kamu mempertanyakan hal lain, Sayang?” tanya Tian sedikit mengerutkan dahinya.
Sebenarnya, ia sudah tahu kemana arah tujuan pembicaraan nya dengan Anna. Karena Aldi sudah mengatakan semua padanya, termasuk tentang bagaimana Anna dengan Rasya. Terkejut, tentu saja ia pasti sangat terkejut, terlebih saat kini Anna menanyakan nya langsung padanya.
“Papa, Anna hanya bertanya. Anna merasa, nasib Chila itu sama kaya Anna. Dan Papa pasti lebih mengenal itu kan?” gumam Anna begitu lirih membuat Tian menghela nafas nya dengan kasar.
Anna dengan Chila tentu saja berbeda. Anna terlahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dengan orang tua yang jelas, dan tentu saja ia tidak memiliki ibu karena ibunya meninggal saat berjuang melahirkan nya. Sementara Chila, dia lahir karena kecelakaan, bahkan ibunya masih ada dan masih sehat, hanya saja, ibunya menikah dengan orang lain.
__ADS_1
Tian menghela nafas nya dengan berat, bukan maksudnya mulai membanding bandingkan, namun dirinya masih belum bisa melepaskan Anna begitu saja. Terlebih untuk Rasya, dirinya masih harus banyak pertimbangan nya.
“Sayang, lebih baik kamu istirahat, perjalanan kita masih sedikit jauh, jangan terlalu banyak berfikir dan membuat kamu lelah,” ujar Tian dengan lembut dan mengusap usap pucuk kepala Anna dengan penuh perhatian.
Anna menganggukkan kepala nya, karena memang kepala nya saat ini masih berdenyut nyeri, perlahan ia memejamkan mata dan mulai memasuki alam mimpi. Inilah Anna, dia sangat mudah tertidur dimana pun, asal ada di pelukan orang terdekat nya.
****
“Ayah, setiap malam, Chila selalu berdoa sama Allah. Chila meminta agar Allah mengirimkan bunda untuk Chila. Kata guru agama Chila, kalau kita rajin sholat dan berdoa, maka doa kita akan di kabulkan sama Allah. Dan sekarang, Chila lagi berdoa lagi supaya tante Forzen yang jadi bunda nya Chila.” Ujar anak kecil yang hampir berumur tuju tahun itu dengan polos dan begitu teduh.
__ADS_1
“Sayang, maafin Ayah,” gumam Rasya yang langsung memeluk tubuh Chila dengan erat.
“Ayah, memang nya dimana sih bunda nya Chila?” tanya Chila lagi namun kini suaranya lebih terdengar pelan dari sebelum nya, “Bunda tidak menyayangi Chila ya Yah. Bunda tidak suka sama Chila? Apakah Chila nakal?”
“Tidak Sayang, Chila anak yang baik, pintar dan sholeha. Chila bukan anak nakal, dan suatu saat nanti, bila Chila sudah dewasa, Ayah yakin Chila pasti akan mengerti. Maafin Ayah,” gumam nya lagi dan menghujani kepala Chila dengan ciuman.
“Kenapa Chila sangat lama sekali dewasa nya Ayah,Chila sudah tidak sabar.” Tanya Chila dengan polos nya, seketika membuat Rasya langsung terkekeh.
“Sudah sudah, karena sekarang sudah semakin malam, waktunya tidur.” Rasya mendirikan tubuh Chila, membantunya melepaskan bawahan mukena berwarna pink motif tokoh kartun kesukaan. Setelah terlepas, Rasya pun segera membantu melipatnya dan merapikan nya bersama dengan sajadah Chila.
__ADS_1
Rasya sungguh di buat takjub dan kagum pada putri nya, walau pun mereka berbeda agama, namun Chila begitu dewasa dan serius tentang agama yang di percaya nya. Bimbingan Aldi dan Michele sangat berpengaruh besar pada gadis kecil itu. Walaupun mulut Michele terkesan pedas dan barbar, namun kini Rasya tahu bahwa Michele memiliki jiwa keibuan yang kuat, ia tetap mengajarkan Chila tentang hal hal baik seputaran agama nya, tidak pernah membuat Chila meragukan Tuhan.