HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Marah


__ADS_3

Setelah beberapa saat, kini Rasya dan Diandra sudah sampai di sebuah restauran legendaris. Yah, restauran yang cukup terkenal dari awal hingga kini, restauran favorit keluarga, bahkan Chila juga sangat menyukai tempat ini. Mengingat Chila, membuat senyum Rasya kembali terbit, tatkala mengingat bila datang ke restauran itu, Chila selalu berlarian dan bermain dengan senang.


Sepanjang jalan menuju ruang private yang sudah di pesan, Rasya terus menyunggingkan senyum nya. Namun, saat hendak berbelok menuju ruangan dimana klien berada, mata Rasya sedikit memicing, langkah nya sempat terhenti untuk memastikan objek yang ia lihat adalah nyata, bukan imajinasi semata.


“Chila,” gumam nya pelan, dahi nya berkerut dan matanya semakin menajam.


Diandra yang mendengar gumam’an Rasya, ikut menoleh ke mana mata Rasya menatap, memang benar di sana ada seorang gadis kecil dengan rambut yang tergerai bebas sedang berlari bermain gelembung sabun.


“Pak, itu memang non Chila. Tapi mengapa bisa ada disini?” tanya Diandra sedikit heran, pasalnya ia juga tidak melihat adana nyonya Lily atau pak Aldi dan istrinya.


“Di, kamu masuk dulu. Katakan sama pak David, aku akan menyusul,” kata Rasya dengan raut wajah datar nya, lalu tanpa menunggu jawaban dari Diandra, Rasya segera bergegas menuju meja yang tak jauh dari Chila berada.

__ADS_1


“Chila!” panggil Rasya dengan sedikit tegas, membuat tiga orang yang tengah menikmati waktu makan siang itu seketika menoleh semua.


“Ayah!” pekik Chila begitu senang, lalu ia pun segera berlari menuju ayah nya, namun, tanpa di sangka kaki nya malah tersandung kaki sebelah nya sendiri, hingga membuat gadis itu terjatuh dan sisa air sabun yang ia pegang tumpah terkena pakaian Rasya.


“Chila!” sentak Rasya begitu melengking, hingga membuat perhatian beberapa orang di sekitar.


Bukan, Rasya bukan marah lantaran pakaian nya kotor terkena air sabun, namun ia marah karena reflek melihat putri nya jatuh dan terluka. Namun, berbeda dengan apa yang di rasakan oleh Chila, gadis itu malah menangis karena takut ayah nya marah lantaran pakaian nya ia kotori dengan air sabun.


“Dimana yang sakit?” tanya Rasya dengan suara seperti biasa, lembut dan pelan. Ia sadar, suaranya tadi membuat Chila terkejut, namun Rasya tidak berniat membentak sama sekali.


“Ayah marah sama Chila hiks hiks hiks.”

__ADS_1


“Kak, Chila tidak sengaja. Jangan marahin dia, lagi pula pakaian masih bisa di ganti atau di beli.” Saut seorang gadis yang sejak tadi duduk kini beranjak dan menghampiri Chila.


Rasya berusaha untuk tidak marah, ia berusaha meredam emosi nya. Menarik napas sedalam mungkin dan menghembuskan nya perlahan. Tangan nya mengepal dnegan sangat erat, rahang nya mengeras, dadaa nya semakin bergemuruh saat mendengar suara gadis itu semakin mendekat dan menghampiri mereka.


“Sudahlah Ras, kasihan anak kamu. Dia masih kecil, dia juga tidak sengaja, kenapa mesti marah sih?” ujar seorang pria yang lagi lagi ikut campur dalam urusan nya.


Rasya yang semula tidak ingin marah, kini amarah nya semakin memuncak. Bukan karena pakaian kotor, tapi karena ada banyak hal yang ia sendiri juga tidak mengerti bagaimana mengungkapkan nya.


“Jangan ikut campur!” kata Rasya dengan wajah datar nya, “Dan kamu!” imbuh nya menatap wajah Anna dengan lekat, “Aku tidak suka anakku keluar rumah tanpa izin dariku!”


Deg!

__ADS_1


Anna, ia mendengar dan menatap wajah datar Rasya. Ini adalah kali pertama ia melihat wajah itu terlihat datar, seperti menahan marah. Selama ini, Anna mengenal Rasya begitu lembut, ramah dan murah senyum. Tapi kini, wajah nya dingin dan datar, membuat nya yakin bahwa Rasya benar benar marah.


__ADS_2