HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Berusaha kuat


__ADS_3

Anna membuka matanya dengan perlahan, ia menatap sekitar nya. Keadaan masih sama, ia masih terbangun di tempat tidur tanpa suaminya. Menghela nafas berat, Anna beranjak dan menuju kamar mandi.


Terhitung sejak satu minggu setelah kejadian saat itu, Rasya masih mendiamkan Anna. Ia selalu memilih untuk tidur di kamar Chila dan sebisa mungkin menghindari istrinya. Berat memang untuk Anna, tapi ia juga lega karena pada akhirnya Chila bisa tahu tentang apa yang ia ingin tahu. Dan juga, ia ikut bahagia saat mendapat kabar dari Michele, bahwa kini keadaan Renata sudah jauh lebih baik. Renata sudah sering tertawa dan bercanda bersama Chila dan Vito. Bahkan kini Renata sudah mau menerima kenyataan bahwa bayinya laki laki bukan perempuan.


Rasya? Terpuruk dalam kesedihannya sendiri. Ia masih tidak menyangka bahwa Anna benar benar tidak tulus menerima Chila, bahkan kini karena kata kata Anna sudah sangat melukai Chila hingga membuat putrinya jauh darinya. Chila lebih memilih tinggal bersama Renata dan Vino daripada dengan nya. Dan karena itulah Rasya sampai mendiamkan Anna berhari hari.


Tok tok tok


Beberapa kali Anna mengetuk pintu kamar Chila, namun suaminya masih tidak mau membuka pintu. Hari ini weekend, maka dari itu Rasya tidak bekerja. Bahkan laki laki itu tidak juga keluar kamar sejak kemarin sore setelah pulang kerja.


“Kakak gak mau makan dulu?” panggil Anna lembut seperti biasa, yang mana membuat hati Rasya semakin bergemuruh dan marah.


Masih tidak mendapat jawaban dari Rasya, Anna hanya mampu menghela nafas nya berat. Ia pun memilih untuk keluar dan memberikan waktu untuk Rasya menyendiri dan menerima semuanya.


Saat Anna menuruni tangga, tiba tiba ia mendengar suara pintu kamar yang di buka dengan begitu kencang. Ia sedikit terkejut saat melihat Rasya keluar dengan langkah tergesa sambil memakai jaket nya.


“Kakak mau kemana?” tanya Anna namun Rasya masih diam dan berlalu begitu saja dengan langkah terburu buru.


Tidak menyerah, Anna berusaha mengejar Rasya. Terus memanggil nama suaminya walau tidak mendapatkan respon apapun. Hingga saat di anakan tangga terakhir, Anna sedikit terpleset dan untung lah dirinya tidak sampai jatuh. Tangan nya masih berpegangan erat pada pagar tangga.


“Aduhh!! Ya Tuhan,” gumam Anna mengusap perut besar nya, ia pun segera melanjutkan langkah dan mengejar Rasya.

__ADS_1


Terlambat, suaminya sudah mengendarai mobil dan pergi meninggalkan rumah.Anna mencari supir agar mau mengantarkannya mengikuti Rasya, dan beruntung, supir nya selalu siap siaga.


Tepat saat Anna hendak masuk ke dalam mobil, sebuah mobil hitam yang begitu familiar masuk ke pekarangan rumah.


"Sayang kamu mau kemana?" tanya papa Tian segera turun dan menghampiri Anna.


"Anna harus pergi Pah, Anna mau menyusul kak Rasya," jawab Anna seraya menggigit bibir bawah nya.


"Sayang, kamu kenapa? ada yang sakit?" tanya papa Tian berubah panik saat melihat anaknya seolah seperti menahan sesuatu.


"A—Anna gapapa Pa, Anna baik-baik saja. Anna harus pergi sekarang!" Anna hendak masuk ke dalam mobil, namun papa Tian segera menahan nya.


"Pa, sebentar saja. Anna harus menyusul kak Rasya. Anna takut!"


"Enggak Pa! Anna harus menyusul kak Rasya dulu. Anna janji, setelah itu Anna akan ke rumah sakit! Papa jangan khawatir in Anna."


"Tapi Sayang, kamu sakit! Kamu tidak baik-baik saja. Papa gak mau tahu, Papa—"


"Pa, Anna mohon, Anna harus pergi." pinta Anna lirih.


"Enggak! Kamu harus ikut Papa ke rumah sakit!"

__ADS_1


"Anna mohon Pa, Anna janji akan baik-baik saja. Papa jangan takut dan khawatir, Anna kuat Pa. Anna harus pastiin sesuatu dulu!"


"Sayang —"


Anna tidak mengidahkan suara papa nya, ia langsung menyuruh supir agar segera menjalankan mobilnya dan mengejar mobil Rasya. Walau sudah terbilang cukup jauh, namun bersyukur karena jalanan sedikit macet, membuat nya berhasil mengejar mobil Rasya.


Sepanjang perjalanan, Anna terus meringis mengusap perut nya yang sedikit tegang dan kram. Namun rasa khawatirnya mengalahkan rasa sakitnya, terlebih saat ia menyadari bahwa jalan yang di tuju oleh Rasya adalah jalan menuju rumah Vino dan Renata.


Berbagai pikiran muncul dalam benak Anna, ia ingin menghubungi Michele, namun ia lupa tidka membawa ponsel. Ia kini di buat bingung harus melakukan apa selain menunggu sampai di rumah Vino.


“Non Anna tidak apa-apa?” tanya supir saat melihat raut wajah Anna sudah pucat,nafasnya sedikit memburu dan tak jarang pula ia terlihat menggigit bibir, mencengkram erat pakaian nya dan berulang kali menghela nafas berat.


“Enggak kok Pak. Bapak fokus saja yah, ikuti kak Rasya. Anna takut terjadi apa apa sama Chila,” kata Anna yang di liputi oleh kekhawatiran akan anak sambung nya.


‘Chila sudah janji sama Bunda, bahwa kamu akan baik baik saja kan.’ Gumam Anna dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Buat yang nungguin kamar om Abas dan Kiara, Sabar yah, mommy lagi gak enak badan. Udah dua hari kepala sakit, dan semakin di paksa depan laptop, rasanya semakin nikmat 😓


Yang tanya kenapa di kamar ini masih tetap update, jawabannya karena ini tabungan bab yang udah mommy tulis sejak kemarin sebelum tumbang. Sekali lagi maaf yah, kalau om Abas sama Kiara nya libur dulu ...


__ADS_2