HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Keputusan Anna


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Anna hanya diam dan masih Memikirkan keadaan renata. Ia tidak menyangka bahwa Renata bisa sampai se depresi itu. Tanpa ia tahu bahwa dulu saat di Dubai, Renata bisa lebih parah dari itu. Terlebih saat Chila baru di bawa pergi oleh Rasya.


Setiap kali memikirkan hal itu, tanpa sadar membuat air mata Anna menetes. Dadanya ikut terasa sesak, dan sesekali ia mengusap perut nya yang sudah terlihat sangat buncit.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Rasya yang masih fokus menyetir mobil.


“Tidak apa, hanya sedikit mengantuk,” jawab Anna berpura pura menguap.


“Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Jalanan masih macet, tuh lihat Chila juga tidur,” kata Rasya melirik ke arah belakang sekilas dan melihat bagaimana Chila tertidur.


Anna menganggukkan kepalanya tanpa bersuara, ia menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Ia berfikir bagaimana caranya ia bisa menolong Renata tanpa harus menyakiti siapapun.


****

__ADS_1


Sudah hampir satu minggu ini, Ana lebih banyak diam. Oh iya sudah dua bulan terakhir ini juga, Anna dan Rasya sudah kembali ke rumah Rasya ya. Karena merasa percuma papa Tian sering ke luar kota, sementara Michele sudah sibuk dengan bayinya jadi jarang ke rumah Anna. Jarak kantor dan sekolah Chila juga lebih dekat dari rumah rasya daripada rumah Anna, maka dari itu mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Rasya.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Rasya saat setelah melakukan olah raga bersama istrinya.


“Aku hanya lelah,” gumam Anna pelan.


“Aku capek harus mengantar jemput Chila setiap hari, perut ku sudah semakin besar aku rasa aku tidak bisa lagi,” cicit Anna pelan namun sangat jelas di dengar oleh Rasya.


“Mulai besok, biar aku yang mengantar jemput Chila,” kata Rasya mengusap lembut kepala istrinya.


Deg!


Seketika Rasya langsung terduduk dan menatap Anna dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


“Hanya sampai aku melahirkan kak. Aku butuh kakak, bukan Cuma kau tapi anak kita juga.” Kata Anna yang semakin memancing emosi Rasya, namun sebisa mungkin laki laki itu berusaha menahan nya.


“Chila punya ibu kandung kak, dia tidak akan kenapa kenapa. Kak Rena sayang banget sama Chila, begitupun dengan kak Vino. Tidak bisakah kakak mempercayakan Chila sama mereka? Sebentar saja dan fokus sama kelahiran calon anak kita?”


“Chila juga anak kita!” tekan Rasya dengan tegas.


“Anna tahu, tapi Chila juga berhak tahu ibu kandung nya kak, biar dia juga merasakan bagaimana tinggal bersama ibu kandung nya!”


“Sayang, aku tidak menyukai arah pembicaraan kita ini, aku tidak suka!” kata Rasya yang mash berusaha menahan amarah nya.


“Aku juga tidak suka kamu terlalu fokus sama Chila Kak, aku juga butuh kakak. Aku juga ingin kakak selalu ada buat Anna!” seru nya tiba tiba yang sukses membuat amarah Rasya meledak.


“Sejak awal kamu tahu bahwa aku sudah memiliki Chila, dan kamu tidak keberatan kalau kasih ku terbagi dengan putri ku!” suara Rasya tak kalah tinggi.

__ADS_1


“Iya itu dulu, dulu sebelum aku hamil dan akan punya anak sendiri!” kata Anna membuat Rasya kehabisan kata kata.


“Aku kecewa sama kamu!” Rasya bangkit, ia membuang asal selimut nya dan berlalu masuk ke kamar mandi sebelum amarah nya semakin memuncak.


__ADS_2