
Setelah perdebatan panjang lebar, akhirnya kemenangan di raih oleh papa Tian. Selama Anna hamil, mereka akan tinggal di rumah papa Tian, dan kalau Rasya tidak setuju atau tidak mau, maka papa Tian mempersilahkan Rasya untuk pulang ke rumah nya sendiri tanpa membawa Anna.
Tentu saja Rasya tidak setuju, ia tidak akan mungkin bisa jauh dari istrinya, terutama Chila yang sudah bergantung pada Anna, anak itu tidak akan mau berjauhan dari bunda nya, terlebih sat ia tahu bahwa di perut bunda nya sudah ada adik bayi.
“Ayah kalau mau pulang gapapa, biarkan Chila yang jagain Bunda sama Opa,” kata Chila dengan polos nya malah membela opa Tian daripada ayah kandung nya, “Iya kan Opa?”
“Tentu Sayang, kita akan menjaga Bunda kamu. Biarkan saja ayah kamu pulang ke rumah nya,” jawab opa Tian dengan senyum miring di wajah nya.
Mau tak mau, Rasya akhirnya mengalah, ia mengambil beberapa barang nya dari rumah dan memindahkan nya ke rumah opa Tian. Tapi, setelah ia pikir kembali, memang benar, di rumah papa Tian, setidaknya Anna lebih terjamin. Karena bila di rumah nya, saat ia tinggal bekerja maka Anna hanya akan berdua dengan Chila. Sementara di rumah nya sendiri, di sana juga ada Michele yang akan selalu menemani Anna, terlebih Michele saat ini juga sedang hamil.
Ya meskipun Aldi dan Michele tidak tinggal di sana, namun rumah mereka dekat, dan Michele memang lebih sering menghabiskan waktu di rumah itu daripada rumah nya sendiri,
__ADS_1
“Opa, opa sudah tidak menangis lagi?” tanya Chila yang langsung duduk di samping opa Tian, saat ini semua sedang berkumpul di ruang keluarga, kecuali Anna, karena ia harus istirahat di kamar, dan beberapa saat yang lalu, Rasya memilih menyusul istrinya daripada berdebat dengan mertua dan anak nya sendiri.
“Hey, mana ada Opa menangis?” kata opa Tian menatap Chila lalu menggelengkan kepala nya, pasalnya, di ruang keluarga itu juga ada besan nya, serta Aldi dan Michele.
“Kemarin Opa nangis kok, Chila lihat, mama juga lihat kan?” tanya Chila menatap mama nya yang sedang memakan buah jeruk hingga membuatnya langsung tersedak.
Uhuukk hukkk
“Hah, kok mama? E—enggak, mama gak lihat!” jawab Michele saat melihat wajah papa Tian yang nampak menatap nya sedikit tajam.
“Iihh, mama lihat kok. Awas Ya mama kalau bohong nanti idung nya panjang kaya pinokio loh!” cetus Chila menatap mama nya.
__ADS_1
“Astaga, mana ada begitu Chila pesekk!” geram Michele tak kalah tajam menatap putri nya.
“Ih ada lah. Makanya, mama jangan bohong, bilang gak. Kemarin opa memang menangis ya kan?”
“Chila, kenapa kamu semakin cerewet sih hem?” tanya opa Tian langsung mengangkat tubuh Chila ke dalam pangkuan nya.
“Astagfirullah, enggak Opa . Chila gak cerewet, ini diem, gak jadi bilang opa nangis, opa gak nangis kok, Cuma berkaca kaca aja, iya. Chila gak akan cerewet lagi kok, Chila anak baik, lembut dan diem gak nakal.” Celoteh nya tiba tiba saat mengingat perkataan seseorang.
“Iya kan Papa?” tanya nya menatap papa Aldi sambil memiringkan kepala nya, begitu lucu dan menggemaskan.
“Iya Sayang, apapun papa iyain, asal kamu gak kaya mama kamu.” Jawab Aldi spontan.
__ADS_1
“Hey, apaan gak kaya mama nya? Emang mama nya kenapa? Orang mama nya cantik lucu dan nge gemesin begini kok.” Saut Michele seolah tak terima mendengar ucapan suaminya.
‘Tuh kan, salah lagi.’ Keluh Aldi dalam hati frustasi.