
Sejak kejadian Anna kecelakaan, kini hubungan nya dengan Rasya sudah sedikit membaik. Tidak lagi ada jarak antar keduanya, namun juga tidak ada status yang jelas tentang kedekatan mereka. Bukan apa, hingga kini, Rasya masih belum berani berbicara serius kepada Tian pasal kedekatan nya dengan Anna. Ia hanya mengatakan pada Anna, akan menjalani semuanya perlahan, biarkan mengalir seperti air. Terlebih ia juga mau Anna fokus pada kuliah nya dulu.
“Selamat siang Om,” sapa Rasya saat melihat kedatangan Tian dari dalam, saat ini, Rasya tengah menunggu Anna bersiap, karena siang ini mereka akan jalan bertiga menghabiskan waktu weekend.
“Siang,” jawab Tian ramah, ia lalu segera mendudukkan dirinya di sofa seberang tempat duduk Rasya.
“Maaf Om, kalau kedatangan kami sedikit mengganggu hari libur Om dan juga Anna,” ujar Rasya tidak enak.
“Tidak apa, Anna juga bukan anak kecil lagi yang harus saya larang larang,” Tian menghela nafas nya dengan sangat berat.
Keduanya nampak berbincang sedikit mengenai bisnis, terkadang ada sedikit candaan yang Membuat obrolan dua lelaki itu nampak cocok dan betah. Dari kejauhan, Anna dan Chila tengah menuruni tangga, dan melihat kedekatan antara Rasya dan Tian, membuat hati Anna terenyuh. Ia terus berdoa dan berharap akan suatu saat dirinya bisa menikmati pemandangan seperti ini setiap hari.
“Ayah,” panggilan Chila membuat mata Rasya dan Tian segera teralihkan menatap kedua putri mereka yang sedang berjalan bersama sambil bergandengan tangan.
Yah, tentu saja anak mereka. Anna yang anak Tian, sementara Chila anak dari Rasa.
Setelah berpamitan dan mencium punggung tangan Tian, kini ketiga nya masuk ke dalam mobil dan segera pergi sebelum sore. Sepanjang perjalanan, mereka isi dengan candaan dan tawa bersama, ini lah yang di inginkan oleh Chila. Ia sangat ingin memiliki keluarga yang utuh, ia sangat ingin memiliki keluarga yang lengkap agar bisa selalu tertawa dan bersama seperti sekarang.
Setelah sampai di Mall, mereka segera masuk dan bersenang senang. Hingga saat mereka hendak memesan makanan di sebuah restauran yang berada di dalam mall itu, mereka di kejutkan oleh kedatangan orang yang sangat Rasya kenal.
__ADS_1
“Ada apa kak?” tanya Anna penasaran dan matanya ikut mengamati arah kemana Rasya menatap.
Terlihat ada satu keluarga dengan satu anak kecil yang mungkin umur nya tak beda jauh dari Chila. Mereka duduk tak jauh dari tempat duduk Rasya, namun rasya enggan menegurnya karena takut salah orang. Yah, salah orang, matanya sangat jelas melihatnya, ia belum rabun, pikirnya.
“Enggak kok, itu kaya temen sekolah dulu, tapi dengan siapa?” gumam Rasya yang masih terus mengamati perdebatan antara dua orang itu.
“Siapa sih memang nya?” tanya Anna penasaran.
“Sudahlah tidak penting, biar nanti kaka tanyakan dulu sama Michele,” kata Rasya tidak ingin melanjutkan ucapan nya, ia segera mencari topik lain, membahas yang mana membuat Anna dan Chila kembali tertawa bersama nya.
Saat di tengah tengah makan malam, tiba tiba Chila meminta izin untuk mencuci tangan. Awalnya, Anna ingin mengikuti Chila, namun gadis kecil itu menolak dan memilih pergi sendiri, karena tempat cuci tangan itu tidak terlalu jauh dari meja makan nya.
Seru Chila langsung menjauhkan diri saat seorang anak laki laki tampak mencuci tangan nya dengan kesal hingga membuat baju yang di kenakan Chila menjadi basah.
“Hati hati!” cetus Chila dengan kesal, seketika menyadarkan anak kecil laki laki itu.
“Maaf, a- aku tidak sengaja, aku hanya sedikit kesal.” Keluh anak laki laki itu dengan penuh penyesalan, namun Chila hanya membalas nya dengan senyuman, “Aku hanya sedikit kesal dengan om ku, sekali lagi maafkan aku.”
“Ya sudah, aku memaafkan mu,” jawab Chila tersenyum begitu teduh.
__ADS_1
“Semudah itu?” tanya anak laki laki mengerjabkan matanya beberapa kali.
“Memaafkan kan memang mudah, apalagi kalau kamu bersungguh sungguh saat meminta maaf. Itulah yang di ajarkan oleh papa ku.”
“Aku sungguh meminta maaf kok. Dan ini sebagai tanda permintaan maaf aku,” kata anak laki laki itu memberikan sebuah sapu tangan berwarna biru sedikit gelap dan kepada Chila.
“Bagus sekali,” gumam Chila saat tangannya mengusap jahitan nama yang begitu tersusun rapi di ujung sapu tangan itu.
“Itu, buatan mama aku. Simpan yah, dada!” ucap anak laki laki itu lalu ia segera berlari dan kembali bersama om dan tante nya.
.
.
.
.
Sabar ... siapkan hati kalian sebelum mereka bersatu 🙈🙈🙈
__ADS_1