
Anna mengerjapkan matanya beberapa kali saat mulai tersadar dari tidurnya. Ya, dia tertidur akibat obat yang di berikan dokter. Kini saat ia membuka mata, ternyata di sana sudah sangat ramai, ada mama Lily, papa nya, serta Michele dan juga Chila.
“Sayang,” Rasya yang sejak tadi menggenggam tangan Anna langsung tersenyum lebar saat melihat istrinya sudah membuka mata, "Apa yang kamu rasakan hem? Masih sakit? Mual? Atau—“
Anna langsung menggelengkan kepala nya pelan karena masih sedikit pusing, lalu ia melihat satu persatu wajah orang yang ada di kamar itu, bahagia, namun berbeda dengan papa nya yang nampak datar dan berdiri sedikit jauh darinya.
“Kakak, aku kenapa?” tanya Anna pelan karena tangan nya kini sudah di pasang oleh selang infus, “papa ... “ panggil Anna menatap papa nya, namun papa Tian masih bergeming di tempat nya.
“Bunda, bunda masih sakit gak?Yang sakit mana? Apakah ayah yang buat bunda sakit?” tanya Chila mengalihkan perhatian Anna.
“Bunda gapapa Sayang,” jawab Anna dengan senyum tipis nya.
“Selamat ya An,” kata Michele memeluk Anna sebentar di susul oleh mama Lily.
__ADS_1
“Selamat untuk apa?” tanya Anna mengerutkan dahinya bingung.
“Kamu hamil, Chila akan segera punya adik,” kata Rasya begitu lembut sambil mengusap perut Anna dan tangan kanan nya ia gunakan untuk mengusap rambut Anna.
Deg!
Seketika Anna langsung terdiam, ia kembali menatap papa nya. Dan kini, ia mengerti mengapa papa nya terdiam sejak tadi dengan wajah datar dan dingin. Tanpa sadar,mata Anna berkaca kaca menatap sang papa, begitu pun papa Tian yang nampak sedang menahan rasa marah dan haru nya.
Rasya hanya menganggukkan kepala nya, masih dengan senyum tenang. Ia tahu dan mengerti akan ketakutan papa Tian, karena saat tadi papa Tian baru sampai di rumah sakit, dirinya langsung mendapatkan hadiah cantik di wajah nya dari mertua.
“Ayo sayang, kita keluar dulu. Bunda mau istirahat sebentar,” ajak Rasya langsung menggendong Chila lalu mengajak Michele dan mama Lily keluar.
Dan kini, hanyalah tinggal papa Tian dan Anna. Papa Tian langsung menghela napas nya kasar, ia masih enggan mendekati putrinya, ia sangat takut. Perasaan nya semakin kacau, ia tidak menyangka bahwa waktu sudah semakin cepat berlalu.
__ADS_1
“Papa jangan marah,” rengek Anna yang sudah tidak membendung air matanya, tangan nya merentang seolah ingin di peluk oleh papa nya.
Dan disitu, tangis papa Tian ikut pecah, air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia segera memeluk putrinya dan menumpahkan segala perasaan yang ia rasakan.
Bukan papa Tian marah kepada Ana atau tidak mau menerima cucu nya, bukan. Hanya saja, papa Tian merasa ini terlalu cepat, ia masih sangat takut menghadai kehamilan, ia takut bila nasib Christy akan terulang lagi pada Anna. Bagi papa Tian, kehamilan dan melahirkan itu adalah hal yang sangat menyakitkan untuk nya.
Ia tidak pernah tahu bagaimana Anna saat di dalam kandungan Christy, ia hanya tahu bagaimana perjuangan Christy saat melahirkan Anna, dan di sana pula ia melihat bagaimana istrinya meregang nyawa hanya demi menyelamatkan buah hatinya
Ia sangat takut, ia takut bila nanti Anna juga harus berjuang seperti mama nya dulu, ia takut ia tidak akan sanggup kehilangan lagi. Berbagai pikiran buruk karena ketakutan itu langsung menyerang dan menghantui pikiran papa Tian.
“Papa tidak suka, mengapa kamu harus secepat ini—“
“Papa, Anna gapapa, Anna janji akan melewati semua ini dengan mudah. Papa jangan lupa, Anna lebih kuat dari mama, Anna janji tidak akan meninggalkan Papa, Anna tidak akan pernah biarin Papa sendirian, Anna janji, papa jangan takut lagi hiks hiks.”
__ADS_1