
“Jangan ... jangan ... aku Anna ... lepaskan... jangan ... “ gumam Anna begitu lirih masih dengan mata terpejam, namun dahinya penuh dengan keringat.
Sementara Rasya yang tadinya hendak pergi keluar karena sudah di dalam lumayan lama, langkah nya langsung berbalik dan menghampiri Anna.
“Anna, hey bangun ... Anna ... “ panggi Rasya dnegan menggenggam tangan Anna berusaha memberikan ketenangan.
“Gak mau! Lepasin, jangan .. sakit .. gak mau!” jerit Anna semakin histeris namun matanya masih terpejam begitu erat. Rasa pun segera menekan tombol emergency, dan tak berapa lama seorang dokter beserta perawat nya masuk, di ikuti oleh Tian dan juga Aldi yang tak kalah terkejut nya karena melihat dokter berlari menuju ruangan Anna.
“Jangan kak, hiks hiks, jangan ,... Anna gak mau ... Papa, to—“ suara Anna terhenti saat dokter memberikan nya obat penenang, dan juga setelah papa Tian memeluk putri nya.
__ADS_1
“Ini papa Sayang, ini papa ... Jangan takut,” bisik Tian di telinga Anna.
“Anak saya kenapa Dok?” tanya Tian menatap dokter.
“Sepertinya, putri anda mengalami trauma yang sedikit berat. Kita tunggu sampai dia sadar, Untuk saat ini, biarkan dia istirahat dulu, nanti bila dia bangun dan masih seperti itu, saya akan melakukan observasi lebih lanjut.” Tutur dokter lalu ia segera pamit keluar.
Aldi yang sejak tadi diam, kini ia mengepalkan tangan nya dnegan kuat. Dan tanpa berkata lagi, ia segera melenggang keluar meninggalkan ruangan Anna. Tujuan nya saat ini adalah ruang rawat Leon. Tidak akan ada lagi persahabatan di antara mereka, Aldi sangat marah dan ia semakin marah saat melihat adiknya mengalami trauma seperti itu.
“Aku gak bisa Ras, aku gak bisa diem aja! Anna—“
__ADS_1
“Aku tahu, aku tau kanu menyayangi Anna. Tapi saat ini Leon masih koma.” Kata Rasya dengan raut wajah datar nya. Yah, memang kini keadaan Leon memang sudah koma akibat perbuatan Rasya. Dan dari keluarga Leon juga sudah meminta maaf kepada Tian.
Jangan tanya apakah Tian memaafkan, tentu saja tidak. Tidak ada kata maaf untuk orang yang berani menyentuh putri nya. Walau sebenarnya ia tahu bahwa keluarga Leon tulus Meminta maaf, namun Tian memilih diam dan meninggalkan mereka begitu saja. Sementara Aldi dan Rasya juga diam menahan marah, tidak memaafkan namun juga tidak menolak.
“Leon ... dia bajingan Ras!” Tubuh Aldi luruh ke lantai, menyandarkan kepalanya pada dinding, kepalanya mendongak ke atas, menatap wajah Rasya. Kini ia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Hatinya terlalu sakit, membayangkan Anna, adiknya yang ia sayangi sejak kecil, di lecehkan oleh sahabat nya sendiri.
Ia merasa begitu gagal sebagai seorang kakak. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana ketakutan nya Anna saat berada hanya berdua dengan Leon saat itu. Tak berbeda jauh dari Aldi, sebenarnya Rasya juga ikut merasa sakit dan hancur melihat keadaan Anna saat itu. Ia melihat dengan jelas luka di tubuh Anna dan kondisi Anna yang begitu memperihatinkan karena sudah hampir telanjang.
“Harusnya kamu membunuh laki laki itu kemarin. Kenapa Cuma kamu buat koma hah!” sentak Aldi meluapkan emosi nya, berulang kali ia menghela nafas nya berat, serta memukul lantai sebagai pelampiasan amarah nya.
__ADS_1
“Dia itu dari kecil udah susah Ras, dia selalu sendiri, home schooling bahkan tidak memiliki teman. Papa selalu menjaga nya, dia baru bisa merasakan kebebasan saat SMA hingga sekarang, tapi kamu lihat sekarang, dia mendapatkan luka lagi. Mengapa Allah tidak adil padanya, tidak cukupkan Allah mengambil mama Cristy? Kenapa Allah juga memberikan cobaan pada Anna seperti ini?’ gumam Aldi terus meracau, membuat dada Rasya semakin terasa sesak.
‘Cepatlah bangun An, kami semua menyayangi mu, menunggu kamu bisa ceria seperti biasa. Aku janji, setelah kamu bangun nanti, aku akan berusaha membuat kamu bahagia. Kamu bilang, kau harus membuka hati bukan? Aku sudah membuka nya, dan hatiku semuanya milik kamu, tapi aku mohon segera lah bangun dan kita bisa membuka lembaran baru sesuai keinginan kamu.” Gumam Rasya dalam hati di sertai dnegan helaan nafas panjang.