HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Rayuan Chila


__ADS_3

Satu minggu, setelah kejadian mengerikan itu, kini Anna sudah mulai membuka matanya. Namun, meski ia sudah sadar dan membuka matanya, gadis itu tetap diam dan tak bereaksi apapun. Menurut dokter, Anna memang mengalami taruma pada psikis nya. Hal itu membuat gadis itu hanya bisa terdiam menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Bahkan berulang kali dokter dan juga Tian dan Aldi berusaha untuk memanggil atau bertanya namun tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya sesekali ia meneteskan air mata dan memeluk kedua kakinya di atas tempat tidur.


Tak jarang juga, Anna menangis dan terisak dan itu harus membutuhkan dokter memberikan obat penenang baru ia akan diam dan istirahat. Selama dua hari ini, Tian benar benar di buat nangis saat melihat keadaan putri nya yang jauh dari kata baik baik saja.


“Luka di tubuh Anna sudah membaik, dia juga sudah bisa pulang. Tapi—“


“Tapi apa Dok?” tanya Tian dan Aldi bersamaan.


“Dia membutuhkan Psikiater, saya khawatir bila di biarkan maka trauma nya akan semakin parah, dan ia tidak bisa kembali.” Tutur Dokter itu menghela nafas nya berat. Karena ini sudah bukan kali pertama atau kedua dokter menyarankan agar mereka memanggil Psikiater, namun Tian tidak mau.


“Tapi anak saya tidak gila Dok!” seru Tian pelan.


“Psikiater bukan hanya untuk orang yang terkena gangguan jiwa berat, namun juga ringan Pak. Dan—“


“Jadi menurut dokter, anak saya sudah termasuk gila!” seru Tian tak terima.


“Bukan, bukan seperti itu Pak, tapi—“


“Sudahlah Dok, tak apa. Biar saya yang akan berbicara pada papa saya,” Ujar Aldi memotong ucapan dokter. Ia merasa kasian pada dokter yang merasa bingung karena sulit menjelaskan kepada Tian yang selalu saja emosi.


“Baiklah,kalau begitu saya permisi dulu.” Aldi hanya menganggukkan kepalanya, sementara Tian ia tidak menanggapi dan langsung menghampiri putri nya.


****


“Ayah, memang nya tante Forzen sakit apa? Chila juga mau jenguk!” rengek Chila sejak pagi yang selalu mengekor kemana pun ayah nya pergi. Ya hari ini weekend, dan Chila sudah sibuk ingin mengikuti ayah nya yang hendak ke rumah sakit untuk mengunjungi Anna.

__ADS_1


Sudah hampir satu minggu ini, Rasya selalu sibuk bolak balik ke rumah sakit. Bahkan, setiap kali ia pulang dari kantor, ia menyempatkan diri untuk mampir ke rumah sakit, dan pulang telat. Bersyukur, Chila anak yang pengertian dan tidak mudah merajuk, terlebih ini karena tante kesayangan nya, namun tetap saja, hampir setiap hari anak itu merengek ingin ikut ke rumah sakit untuk menjenguk tante Forzen kesayangan nya.


“Sayang, kamu di rumah saja dulu sama Oma yah. Nanti, mama kesini,” kata Rasya, kini ia mendudukkan dirinya di lantai mensejajarkan tinggi dengan Chila.


“Gak mau! Mama gak usah kesini, kasian dede bayinya. Chila mau ikut Ayah saja, Chila kangen sama tante Forzen.”


“Ajak saja lah Ras, kasihan Chila dari kemarin ingin ketemu Anna. Siapa tahu, dengan kehadiran Chila, Anna bisa sedikit terhibur,” saut oma Lily yang baru datang.


“Tapi mah—“


“Ajak aja Ayah.” Kata Chila dengan yakin, Rasya tidak punya pilihan lain. Akhirnya ia mengalah dan membawa Chila ke rumah sakit. Ia berharap dengan Kedatangan Chila bisa sedikit membantu pemulihan Anna.


Setelah sampai di rumah sakit, Rasya dan Chila segera menuju ruang perawatan Anna. Keadaan masih sama, Anna masih terjaga dengan pandangan kosong, tidak menghiraukan siapapun yang memanggil nya apalagi bertanya padanya. Semua benar-benar kosong, datar dan seolah tak ada kehidupan apapun. Anna masih menikmati kesendirian nya.


“Tante ... “ panggil Chila begitu lirih. Anak itu kini sudah duduk di samping Anna, tepatnya ikut naik ke atas tempat tidur. Ia terus menggenggam tangan Anna, mengusapnya dengan begitu lembut, bahkan sesekali ia mencium pipi dan tangan Anna.


“Tante gak kangen sama Chila yah? Tante cepet sembuh dong, Chila sedih lihat tante begini.” Tuturnya lagi, dan kini anak itu sudah mulai meneteskan air mata, “Tante lihat deh, Chila nangis loh. Tante gak pengen gitu usapin air mata Chila? Tante gak sayang lagi ya sama Chila?”


“Tante, kata guru Chila begini, apapun musibah yang kamu hadapi, ikhlaskan maka Allah akan Mengganti setiap air matamu dengan kebahagiaan. Itu kata guru Chila, jadi tante harus bisa ikhlas yah, ada Chila, ada Ayah, mama sama papa dan juga ada opa Tian yang sayang sama tante.”


“Tapi, di antara mereka, sayang nya Chila paling gede, beneran. Chila mau sama tante, ayo dong tante, usapin air mata Chila. Air nya udah banyak hiks hiks.” Chila semakin terisak saat tidak mendapatkan respon dari Anna.


Di dalam ruangan itu, kini hanya ada Anna dan juga Chila. Rasya pamit pergi keluar karena tadi mendengar Aldi dan om Tian sedang menemui Leon di ruangan nya karena dia baru sadar tadi pagi.


“Tante mau gak kalau Chila panggil bunda? Chila mau tante jadi bunda Chila, ayo dong tante Forzen. Ayo lihat Chila, jangan diem terus, Chila gak suka di diemin, nanti Chila makin nangis loh hiks hiks.”

__ADS_1


Satu kemajuan, Anna memiringkan wajah nya, kini menatap pada Chila yang masih menangis sesenggukan. Walau pun ekspresi nya masih datar, namun tangan Anna sudah bisa di gerakkan. Ia membalas genggaman tangan Chila namun sedikit erat, seolah ia merasa ketakutan.


“Tante!” pekik Chila pelan, satu senyum terbit di wajah Chila saat merasakan respon dari tante Forzen.


“Jangan menangis,” desis Anna begitu lirih sambil menghapus air mata Chila, membuat Chila semakin merasa senang.


Namun, kesenangan itu hanya sebentar, karena detik berikut nya Chila melihat bahwa Anna kembali terisak dengan nafas naik turun dan memburu. Panik, Chila berusaha memeluk Anna, namun tubuh Anna semakin bergetar hebat.


“Lepas, lepasss!” teriak Anna berusaha melepaskan Chila dari pelukan nya,namun Chila masih tetap memeluk Anna sambil menangis.


“Papaa! Ayahhh!” Teriak Chila di sertai isak tangis,beruntung tepat saat Chila berteriak, Aldi dan Rasya hendak masuk.


Dengan segera, Rasya langsung berlari dan menghampiri brankar Anna. Aldi langsung mengambil Chila dari pelukan Anna, sementara Rasya langsung mendekap tubuh Anna dan menekan tombol emergency untuk memanggil dokter.


“Ssstt, tenang lah. Aku disini,” bisik Rasya di telinga Anna.


“lepasinn, lepass! Jangan sakiti aku! Nama ku Anna, aku Anna!”


“Iya Anna, sudah. Dengerin aku, kamu lihat, ini aku, Rasya!” kata Rasya dengan tegas sambil mencangkup kedua pipi Anna yang masih berlelehan air mata.


“Kak Rasya ... “ Rasya mengangguk saat Anna berhasil menyebut nama nya walau sangat lirih, lalu ia kembali merengkuh tubuh Anna dengan sangat erat.


“Anna takut, Anna takut, dia jahat, dia jahat Anna takut hiks hiks.” Gumam nya terus meracau, dan Rasya hanya bisa memeluk dan mengusap usap kepala dan punggung Anna.


“Iya, dia jahat. Dan dia akan mendapatkan balasan setimpal, jangan pikirkan lagi. Ada aku disini,” kata Rasya dan Anna semakin mengeratkan pelukan nya. Hingga tak berapa lama, beberapa dokter datang, salah satu nya adalah dokter psikiater. Walaupun awalnya Tian kurang setuju, namun dengan desakan dan paksaan Aldi akhirnya demi kebaikan dan kesembuhan Anna, Tian mengiyakan nya.

__ADS_1


__ADS_2