HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Jangan terluka


__ADS_3

“Tante Forzen!” suara melengking hal anak kecil yang berlarian menuju brankar Anna, membuat beberapa orang di sekitar langsung menatap ke arah sumber suara.


Chila, gadis itu langsung berlari menghambur kepada Anna saat melihat tante Forzen nya lemah tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit.


“Tante sakit? Dimana? Tante kebut kebut ya mobil nya? Jangan kebut kebut tante, sakit kan? Ckck!” Chila langsung bersedekap sambil memanyunkan bibir nya sebal menatap Anna, tentu saja hal itu membuat semua orang hampir tertawa. Sifat Chila persis seperti orang tua yang sedang memarahi anaknya.


“Iya deh iya, maaf yah.” Ujar Anna lirih dengan senyum teduh di wajah nya, “Kamu baru pulang sekolah hem?” tanya Anna lembut, lalu ia menggeser tubuh nya sedikit saat melihat Chila hendak ikut naik ke atas tempat tidur.


“Ihh, susah banget sih! Ini ketinggian, kaki Chila gak sampai!” sungut Chila sedikit kesal, lantaran mau naik tapi tidak terlalu sampai.


“Bukan ketinggian Chila, tapi kaki kamu masih pendek!” jawab Aldi yang langsung mengangkat tubuh Chila dan mendudukkan nya di samping Anna.


“Kaki Chila panjang Papa, memang ini yang terlalu tinggi!” kata Chila meralat ucapan papa nya.


“Iya iya, papa percaya,” ujar Aldi mengalah. Siang itu, kebetulan Aldi lah yang bertugas merawat Anna, sementara Tian sedang ada pekerjaan sebentar. Michele, dia di rumah karena kesehatan nya kurang baik.


“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Rasya membuka suara, ia menarik kursi di samping Anna dan mendudukkan dirinya di sana.


Gugup, malu, dan ia merasa bodoh! Terlalu kekanak-kanakan, sok kabur namun pada akhirnya malah menyusahkan. Itulah yang ada di pikiran Anna saat ini, ia merutuki dirinya sendiri yang sudah membuat semua orang khawatir.

__ADS_1


“A- aku gapapa,” jawab Anna sedikit terbata.


“Jangan ulangi lagi, kamu bisa membahayakan diri kamu lebih dari ini. Jangan terluka,” kata Rasya pelan namun begitu jelas terdengar di telinga Anna.


“Chila, ayo ikut papa.” Ajak Aldi.


“Gak mau, Chila mau sama tante Forzen!” tolak Chila.


Aldi menghela nafas berat, lalu sebuah ide muncul di benak nya, “Kita beli buah buat tante kamu. Kamu datang ke sini untuk menjenguk, tapi tak bawa buah tangan!”


“Ihh, itu sudah ada buah di meja!” jawab Chila polos melirik buah di atas nakas.


“Ras, aku keluar dulu.Sepertinya kalian butuh waktu bicara!” Rasya hanya mengangguk saat Aldi pamit untuk keluar, ia memang harus berbicara berdua dengan Anna.


Seperginya Aldi dan Chila, kini ruangan itu hanya ada Rasya dan Anna.


“Apa kamu masih marah padaku?” tanya Rasya dengan lembut.


“A- Anna tidak memiliki hak untuk marah,” jawab Anna menundukkan wajahnya, rasanya ia merasa begitu malu bisa harus menatap wajah Rasya.

__ADS_1


“Anna,” dengan tiba tiba, rasya menyentuh tangan Anna hingga membuat gadis itu sedikit tersentak, “Aku mohon, jangan lukai diri kamu lagi, apalagi hanay demi laki laki seperti ku!’ imbuh Rasya di sertai helaan nafas begitu berat.


“Jangan terluka lagi, jangan membuat ku cemas. Aku mohon,” ujar Rasya begtu lirih, namun matanya mengatakan penuh kekhawatiran dan ketulusan untuk Anna.


“Kakak melarang ku terluka, tapi kakak yang membuat Anna terluka!” jawab Anna dengan memberanikan diri menatap Rasya, walau di sertai lelehan air mata, namun Anna masih mencoba tegar dan tidak terisak di depan Rasya.


“Kakak terlalu pandai menutup diri dan akses kebahagiaan, kaka juga menyukai Anna tapi kenapa kakak gak mau membuka pintu untuk Anna hiks hiks.” Anna sudah tak kuasa menahan isak tangis nya, membuat hati Rasya semakin merasa tersayat.


"Maafkan aku Anna, tapi—"


"Apakah Anna seburuk itu sampai kakak benar benar tidak mau membuka hati untuk Anna?" Anna kembali menatap mata Rasya dengan penuh lelehan air mata.


"A—apa karena Anna gadis lemah dan banyak penyakit, makanya kakak selalu menolak Anna?"


"Anna, bukan seperti itu. Aku sudah menjelaskan semua nya sama kamu." Kata Rasya mengusap wajah nya dengan kasar.


"Penjelasan kakak tidak masuk akal!" Seru Anna, "Kenapa kakak tidak mau mencoba terlebih dulu hiks hiks."


Merasa tak tega, Rasya pun segera memeluk tubuh mungil Anna yang sedang terbaring di brankar. Hingga sebuah suara yang memanggil Anna, membuat keduanya terhenyak dan langsung menatap ke arah pintu.

__ADS_1


“Anna .... “


__ADS_2