HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Ketahuan


__ADS_3

“Kaka, dimana Papa? Kepala Anna pusing?” tanya Anna bergumam sambil memijit pelan kepala nya.


“Ann, coba deh kamu lihat. Ini sangat mirip dengan siapa?” tanya Michele mendekatkan seorang bayi di depan Anna.


Anna menghela nafas nya sedikit kasar, “Tentu saja mirip sama ayah nya, kenapa kakak pakai tanya segala sih!” cetus nya semakin terasa pusing.


“An, kamu yakin gak ngerasain apa apa saat melihat bayi ini?”


“Astaga, ya Tuhan kakak ini kenapa sih? Kalau emang kakak gak mau di titipin ya udah siniin. Biar dia disini sama Anna sampai ayah nya datang!”


Saat ini, di ruangan Anna hanya ada dirinya dan juga Michele. Sementara Aldi dan Rasya juga Chila memilih untuk mengunjungi dokter untuk meminta penjelasan. Mengapa bisa, Anna tidak mengingat anak juga suaminya.


Cklek!

__ADS_1


Suara pintu ruangan yang terbuka, membuat Anna dan Michele langsung mengalihkan pandangan nya. Seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat begitu menawan walau sudah terlihat sedikit uban di rambutnya. Dengan langkah tergesa, laki laki itu segera menghampiri brankar putrinya dan langsung memeluknya erat.


“Akhirnya kamu bangun juga, Papa sangat mengkhawatirkan kamu,” gumam nya, Anna sadar bahwa papa kini kini sedang menangis saat memeluknya.


“Anna kan sudah janji kalau Anna akan baik-baik saja. Anna putri yang kuat,” jawab Anna membalas pelukan sang papa.


“Iya, sekarang Papa percaya. Putri Papa memang yang terbaik, terhebat dan terkuat.” Papa Tian melepaskan pelukan nya, ia mencangkup kedua pipi putrinya lalu mengecup kening nya dengan penuh kerinduan.


“Bagaimana? Apa kamu sudah melihat cucu Papa hem? Apakah kamu sudah memberikan nya nama? Hingga sekarang, suami kamu belum mau memberikan nya nama, apa kamu tidak kasihan? Dia masih menunggu kamu bangun dan ingin kamu yang memberikan nya nama,” kata papa Tian sambil menghela nafas nya panjang.


“Su—sudah Pa,” jawab Anna lirih namun masih bisa di dengan oleh Michele.


Sontak saja Michele langsung membulatkan matanya dengan sempurna, ia langsung kembali menghampiri Anna dan memberikannya tatapan tajam dan menuntut.

__ADS_1


“Jadi ... “ tekan Michele menahan kesal.


“Hehehe, maaf.” Cicit Anna menyengir tanpa dosa.


“Astagfirullah, untung kamu lagi sakit ya An, kalau kamu sehat udah aku pastiin aku getok kamu pake botol minuman itu!” cetus Michele sambil melirik sebuah botol minuman yang lumayan besar dengan penuh air, dan bisa di bayangkan kalau botol itu melayang bisa di pastikan Anna akan kembali pingsan.


“Ada apa ini?” tanya papa Tian yang belum mengerti akan situasi yang ada.


“Gapapa Pa, tunggu Aldi sama kak Rasya aja sebentar lagi. Tunggu penjelasan dari dokter tentang kesehatan Anna!” cetus nya dengan kesal, lalu Michele memilih duduk di sofa yang sudah di kembalikan ke tempat semula.


“Kan kakak duluan yang mulai! Kakak sok sok an mojokin Chila. Ya udah, Anna kan Cuma meluruskan aja!” ucap Anna membela diri.


“Ya tapi gak gitu juga An, kamu tau gak gimana khawatirnya dua laki laki itu hem!”

__ADS_1


“Biarin aja!” jawab nya enteng.


“Ada apa sih?” papa Tian semakin merasa bingung dan penasaran, mengapa anak dan menantu nya berdebat seperti itu.


__ADS_2