
“Jadi, mulai hari ini, Chila akan berangkat sama Bunda? Horee!” sorak Chila saat hendak berangkat ke sekolah bersama bunda Anna.
“Iya Sayang, mulai sekarang Chila dan Bunda akan berangkat bersama Ayah, dan nanti saat pulang, Chila akan di jemput sama bunda yah. Jadi—“
"Jadi, Chila gak boleh nakal!" saut nya cemberut, "Padahal, Chila itu gak pernah nakal! Ayah gak percaya sama Chila."
“Iya, Ayah percaya kalau Chila gak nakal. Hanya saja, anak ayah sudah besar semakin cerewet dan usil. Kasian teman teman Chila, ya.” Kata ayah Rasya sambil menggendong tubuh mungil putrinya masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Chila malah semakin memanyunkan bibir nya smabil tangan bersedekap di dada. Pasalnya, ayah nya selalu merasa kasian kepada teman teman Chila, padahal, seharusnya ayah nya membela nya bukan malah bersimpati kepada teman teman nya.
“Jangan manyun begitu Sayang, ayah tahu, apa yang kamu pikirin sekarang!” ujar ayah Rasya saat sudah mendudukkan Chila di mobil.
__ADS_1
“Ayah gak tahu, makanya Ayah belain temen temen Chila!’ cetus anak kecil itu dengan sebal.
“Bagaimana bisa, Ayah tidak tahu hem? Mrs Della selalu mengatakan nya pada Ayah,” kata Rasya menggelengkan kepala nya.
Memang benar, semua aktivitas Chila di sekolah, selalu di laporkan padanya. Terlebih saat Chila sangat suka berbuat jahil kepada teman teman sekelas nya. Chila tidak nakal, hanya saja dirinya sangat suka meletakkan sesuatu atau menyembunyikan sesuatu milik teman nya. Bahkan, beberapa hari yang lalu, Michele mengadu bahwa Chila di sekolah berkelahi, ia sengaja menumpahkan makanan milik teman nya serta menyiram teman nya dengan minuman.
Sungguh, Rasya tidak menyangka bahwa Chila bisa menjadi seperti itu. Ia bingung harus menyalahkan siapa, dirinya lah orang tuanya, namun sifat Chila benar benar sangat mirip dengan mama nya. Kadang, Rasya heran sebenarnya Chila itu anak nya atau anak Michele, karena sifat keduanya sangat sangat mirip.
Pintar, berprestasi dan kalem tentu nya. Sementara Chila hanya mewarisi kepintaran nya saja. Untuk prestasi belum terlalu terlihat. Hanya saja, kepintaran nya untuk merajuk, menangis dan merayu, Chila sangat ahli.
“Ayah gak asik!” seru Chila, ia memilih membuang muka nya ke arah samping agar ayah nya tidak melihat wajah nya yang kesal.
__ADS_1
Anna yang melihat perdebatan keduanya hanya mampu menggelengkan kepalanya, saat Rasya sudah masuk ke dalam mobil, Anna pun juga ikut segera masuk, namun dia bukan masuk dan duduk di depan. Melainkan, ia memilih duduk di belakang bersama dengan Chila.
“Princess Chila, kalau cemberut itu jadi jelek tahu! Dan lihat deh, pasti bentar lagi bakal hujan, karena princess nya lagi sedih,” gumam Anna berpura pura menatap langit.
“Bunda kenapa duduk disini? Sana duduk di depan sama Ayah! Sana sana sana,” usir Chila yang sedang tak ingin di ganggu.
“Kok Chila mengusir bunda? Chila gak mau di anterin sama bunda hem? Mau nya sama ayah saja?”
“Gak mau!” jawab Chila dengan cepat, “Chila gak mau sama Ayah, nakal, jahat, gak sayang sama Chila.” Katanya lagi dengan penuh tatapan kesal pada sang ayah.
Anna hanya tersenyum tipis melihat wajah Chila yang semakin kesal, namun Rasya malah bersikap tenang dan biasa saja.
__ADS_1
‘Nanti, pulang sekolah kita kerjain Ayah. Biar gak nakal lagi sama Chila, mau gak?’ bisik Anna di telinga Chila, hingga membuat gadis kecil itu tersenyum dan langsung menganggukkan kepala nya.