HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Panik


__ADS_3

Hooekkk


Hoeekkk


Aarrrrkkkhhh


Rasya langsung membuka matanya saat mendengar suara jeritan Anna yang sudah berada di dalam kamar mandi. Dengan cepat, ia segers beranjak dan menyusul istrinya di kamar mandi, dan hal pertama yang ia lihat adalah, saat dimana istrinya sudah terkulai lemas di bawah wastafel dengan memeluk lutut nya dengan wajah yang bisa di katakan tidak baik baik saja.


“Sayang, kamu kenapa? Kita ke rumah sakit?” kata Rasya langsung panik.


“Kepala aku pusing, perut aku sakit banget, perih ... “ ringis Anna sesekali dengan menggigit bibir nya.


Hooekkk

__ADS_1


Lagi dan lagi, perut nya kembali bergejolak hebat, membuat Anna mau tak mau berusaha berdiri pada wastafel. Tubuhnya sudah sangat lemas, namun ia juga tidak mungkin memuntahkan isi perutnya di lantai.


“Kakak, Anna gak kuat, sakit bangett!” desis Anna semakin lemah. Rasya yang seolah mengerti keadaan istrinya segera menggendong Anna dan membawa nya ke rumah sakit.


Hari masih sangat pagi, mungkin masih sekitar jam lima. Jadi Chila belum bangun dan ia tak perlu memikirkan Chila dulu. Kini konsentrasinya ada pada Anna yang semakin merintih karena perut nya terasa sangat kaku dan kram.


“Sayang, bertahan.” Sepanjang jalan, Rasya semakin di buat panik, saat melihat Anna kembali ingin memuntahkan isi perut nya. Ia tidak perduli bila mobil nya kotor, hanya saja ia sangat khawatir melihat keadaan Anna seperti ini.


Entah harus bahagia atau sedih, namun tak bisa di pungkiri, dua perasaan itu ada dalam benak Rasya saat ini. Dan ia sangat berharap bahwa apa yang ia pikirkan benar adanya.


“Bagaimana keadaan istri saya Dok?” tanya Rasya langsung berdiri saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan itu.


“Istri anda tidak apa- apa, hanya saja, asam lambung nya naik jadi—“

__ADS_1


“Asam lambung Dok? Istri saya gak—“


“Hamil?” tebak Dokter seolah mengerti arti dari raut wajah Rasya, sementara itu Rasya hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


Kecewa, sedikit tapi ia juga lega karena istrinya baik baik saja.


“Istri anda memang sedang hamil Pak, dan juga asam lambung nya juga naik, maka dari itu istri anda muntah parah serta sakit di bagian perut dan ulu hati nya. Saran saya, lebih baik istri anda di rawat untuk beberapa hari agar kondisi nya benar benar stabil,” jelas dokter panjang lebar seketika mengembalikan senyum di wajah Rasya kembali.


“Ja—jadi benar dok? Dugaan saya benar dok?” tanya Rasya memperjelas pendengaran nya kembali.


“Iya Pak, selamat, anda akan menjadi orang tua,” kata dokter memberikan salaman kepada Rasya.


“Saya sudah jadi orang tua dok, anak pertama saya sudah tuju tahun. Astaga, terimakasih banyak dok, putri saya pasti akan senang bila tahu dia akan mempunyai adik.” Ucap Rasya sangat bahagia.

__ADS_1


“Sekali lagi selamat Pak, saya permisi dulu.” Rasya menganggukkan kepalanya saat dokter berpamitan, ia pun langsung menghubungi keluarga nya, terutama ayah Tian dan mama Lily agar datang ke rumah nya dan menjaga Chila sementara dirinya di rumah sakit.


“Rasya,” panggil seseorang saat dirinya hendak masuk ke dalam ruang perawatan Anna. Ia sangat tahu suara siapa itu, dirinya enggan berbalik namun ia juga tidak mungkin berlalu begitu saja.


__ADS_2