
“Kak Rasya!” panggil Michele saat memasuki rumah Rasya dan melihat laki laki itu tengah menyeruput kopinya serta memegang Sebuah i-pad.
“Hem,” jawab Rasya sengaja cuek.
“Dih, marah beneran!” kata Michele cemberut, lalu ia segera duduk di samping Rasya , “Kak Rasya beneran marah sama Michele?” tanya nya sekali lagi.
“Menurut kamu?” tanya Rasya langsung menatap ke arah adik ipar nya dengan tatapan tajam.
“Hehehe, iya iya maaf. Oke, Michele akui Michele salah, tapi aku juga gak bermaksud begitu,” katanya mengelak dan masih mau menghindar.
“Chel, aku tidak keberatan kalau kamu membawa Chila. Tapi kamu meninggalkan nya di sana, itu membuat ku keberatan!” kata Rasya dengan tegas.
“Kak Rasya keberatan karena Chila tadi jatuh, atau keberatan melihat Anna dan kak Leon berdua?” tanya Michele dengan senyum menyeringai.
__ADS_1
Uhuukk hukk uhukkk!
Rasya yang sedang menyeruput minuman nya kembali tersedak, dia pun langsung menatap Michele dengan semakin tajam. Bukan takut, namun Michele justru semakin tergelak. Kini Michele tahu, bahwa dugaan nya memang benar, Rasya masih menyukai Anna, terbukti dengan saat Rasya melihat Anna dan Leon berdua,Rasya marah.
Michele sengaja mempertemukan Anna dan Leon di restauran itu, karena Michele kembali mengingat saat acara pernikahan Angga saat itu, Michele melihat ada sesuatu yang berbeda dari cara pandang Rasya kepada Anna dan Leon. Maka dari itu, ia sengaja mengajak Anna dan Chila, untuk makan siang sekalian bertemu dengan Leon.
Tentu saja itu ia lakukan di sana, karena ia juga tahu dari Aldi bahwa Rasya akan ada meeting di restauran itu. Niat awal Michele, awalnya ia akan membawa Chila dan membiarkan Anna dan Leon hanya berdua, namun pada akhirnya Chila yang tidak mau ia ajak pulang duluan, ia masih ingin bersama tante Forzen nya. Jadilah, Michele pergi seorang diri dan membiarkan Chila bersama Anna.
“Jangan ngaco kamu!” sungut Rasya mengelak kesal.
“Michele!” geram Rasya, “Tetap saja dia orang lain!” ucapnya dengan tegas.
“Berarti kakak tidak mempercayai sahabat kakak sendiri?” Rasya memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Michele yang berisi jebakan.
__ADS_1
“Kakak, aku mau nanya serius sama kaka,” kata Michele dengan raut wajah serius.
“Katakan,” kata Rasya nampak acuh dan masih fokus dengan I-pad nya.
“Aku tahu, dulu Anna pernah nyatain perasaan nya sama kakak.” Ucap Michele, namun Rasya masih tidak memperdulikan nya, “Apa kakak benar benar tidak mau menerima Anna?”
“Tidak!” jawab Rasya dnegan cepat.Memang iya, Rasya tidak ingin bersama Anna, walau sebenar nya, hati Rasya juga sudah nyaman dengan gadis itu. Kembali lagi, ia cukup sadar diri akan status nya kini.
“Kenapa? Ma- maksud ku, coba kasih satu saja alasan, kenapa kakak tidak bisa mencintai Anna? Dia baik, lembut, dan juga penyayang. Chila nyaman dengan dia, dan aku rasa, kakak juga suka sama Anna, terbukti saat kakak merasa cemburu melihat kedekatan Anna dan kak Leon.”
‘Bukan tidak bisa mencintainya. Bahkan kini aku sudah mencintai nya, sejak dulu Chel. Srjak saat kamu meninggalkan ku, tapi aku cukup sadar diri, aku bukan Rasya yang dulu penuh prestasi dan kebanggaan. Namaku sudah buruk karena kelakuan ku, dan aku tidak mau membuat keluarga Anna malu memiliki menantu seperti ku,’ gumam Rasya dalam hatinya, yah dalam hati, karena ia tidak mungin mengatakan itu kepada Michele secara gamblang.
“Tidak apa, sudahlah. Chila ada di kamar nya, ia menunggu kamu. Mendingan kamu langsung ke atas, kerjaan aku banyak, gara gara kalian!” usir Rasya lalu ia kembali fokus pada kerjaan nya.
__ADS_1
“Apaan kerjaan, dari tadi kakak scroll instagram kan!” tebak Michele dengan kesal dan hampir membuat Rasya terbelalak karena tebakan Michele benar adanya. Namun ia begitu pandai menutupi keterkejutan nya.
“Ah iya, satu pesan Michele. Jangan sia siakan seseorang yang selalu setia menunggu mu, karena akan ada masa dimana seseorang itu lelah dan akan pergi bersama orang yang juga menunggu nya berhenti berharap pada sesuatu yang tak pasti,” bisik Michele lalu ia segera melenggang pergi menuju kamar Chila.Sementara Rasya, ia terpaku mendengar penuturan Michele yang sangat tumben berbicara puitis, karena biasa nya wanita itu bar bar dan selalu bicara sembarangan.