HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Takut


__ADS_3

Setelah menyelesaikan ritual mandinya, kini Anna dan Rasya bersiap untuk istirahat karena memang keduanya sangat kelelahan. Namun, meski begitu, di antara keduanya sama sama tidak bisa tertidur nyenyak. Canggung, itulah yang di rasakan oleh keduanya saat ini.


Anna, sejak tadi ia terus memegang dada nya karena sudah berdetak tak karuan, nafas nya pun bahkan sampai sedikit memburu seolah habis berlari maraton. Sementara Rasya,laki laki itu hanya terdiam menatap langit langit kamar Hotel dengan perasaan yang juga campur aduk. Keduanya merasa sangat bingung, mereka malu dan juga canggung.


“Anna.”


“Kak Rasya.”


Keduanya memanggil secara bersamaan, hingga membuat keduanya langsung menoleh seketika. Anna mengulum senyum nya karena merasa malu saat Rasya menatap nya, begitupun dengan Rasya yang juga ikut tersenyum.


“Ada apa?” tanya keduanya lagi bersamaan, lalu keduanya pun terkekeh.


Kini, Rasya mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kanan, sementara Anna menjadi miring ke kiri sehingga kini wajah keduanya saling berhadapan.


Deg deg deg


Menghela napas nya berat, Anna memberanikan diri menatap Rasya dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Dirinya ingin berkata namun suara nya seolah tercekat di tenggorokan, terlalu sulit untuk mengutarakan apa yang ingin ia tanyakan.


“Apa kamu masih lelah?” tanya Rasya memulai pembicaraan, membuat Anna semakin mengigit bibir nya gugup, yang mana malah membuat Rasya semakin gemas di buat nya.


“Eemmm, se—sedikit ... “ jawab Anna semakin gugup saat menyadari arti kata pertanyaan yang Rasya ucapkan.


“Apa kamu takut? Belum siap? Aku tidak akan memintanya sekarang. Jangan takut,” ucap Rasya yang tahu bahwa saat ini Anna tengah merasa gugup. Ia pun merentangkan sebelah tangan nya, dan menarik kepala Anna agar tidur di lengan nya.


Tentu saja Anna tidak menolak nya. Walau pun jantung nya harus berdisko ria di dalam sana, namun tak bisa di pungkiri bahwa pelukan yang Rasya berikan mampu menenangkan kegelisahan dan ketakutan nya sejak tadi.


“Bukan Anna belum siap, ta—tapi ... Tapi Anna sedikit takut.” Desis nya begitu lirih sambil menyembunyikan wajah nya di dada bidang Rasya.

__ADS_1


“Apa yang kamu takutkan hem?” tanya Rasya begitu lembut, sambil tangan nya terus membelai wajah Anna hingga membuat sang empunya semakin merinding tak karuan.


“Sakit, ka—kata orang i—itu akan sakit. Ba—bahkan kak Michele juga bilang begitu. A—aku ... “ Anna langsung terdiam saat ia merasa tangan nya Anna sudah berpindah ke dagu nya dan mendongakkan wajah nya. Sehingga kini wajah nya dan wajah Rasya terasa semakin dekat hanya berjarak satu dua centi saja.


“Ka—kakak, jantung Anna, pegang deh.” Kata Anna polos, meraih tangan Rasya dan meletakkan nya di dada.


Memang benar adanya, Rasya bahkan bisa merasakan debaran jantung Anna yang begitu kencang, “Kenapa?” tanya Rasya dengan senyum nya seolah menahan tawa.


“Anna deg deg an banget. Anna emmmttt!”


Anna sudah tidak bisa meneruskan ucapan nya saat ia merasakan sebuah kecupan hangat nan basah di bibir nya. Matanya langsung membola dengan sempurna, karena ini adalah ciuman pertama bagi Anna.


Namun, tiba tiba tubuh Anna semakin menegang, jantung nya berdetak semakin kencang. Dan buliran keringat dingin membasahi tubuh nya, tangan nya bergetar hebat dan air mata nya lolos begitu saja. Memorinya kembali teringat saat saat dimana, dirinya hampir di lecehkan oleh Leon.


"Jangan! Gak mau! jangan! Aku Anna kak, berhenti, aku Anna," gumam Anna membuat Rasya melepaskan ciuman nya. Tentu saja Rasya langsung melepaskan nya karena ia melihat wajah Anna yang begitu ketakutan saat memejamkan mata.


"A—aku Anna, a—aku Anna hiks hiks."


"Anna, iya kamu Anna." Rasya mencangkup wajah Anna dan memaksa gadis itu untuk membuka mata, "Anna, buka mata kamu. Ini aku, Rasya, suami kami."


Deg!


Anna langsung membuka matanya dan ia bisa melihat wajah suaminya kini berada tepat di depan nya. Membuat air matanya malah semakin lolos.


"Apa kamu masih takut? jangan di paksakan," kata Rasya mengusap air mata Anna.


"Maaf kak, maaf ... " ucapnya lirih merasa tak enak pada Rasya.

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Bukan salah kamu, jangan di paksakan." Rasya berusaha menenangkan Anna agar tidak terlalu larut dalam trauma nya kembali.


Memang akan sedikit sulit memang, namun ia akan bersabar dan menunggu sampai Anna siap. Sementara Anna yang merasa tidak tega kepada Rasya, ia berusaha menguatkan diri dan tekat nya untuk mencoba dan melupakan semua kesedihan sebelumnya.


"Ta—tapi Anna mau mencoba nya sekali lagi." cicit Anna begitu lirih sambil kembali mencoba menguatkan batin nya.


"Apa kamu yakin?" tanya Rasya memastikan.


"Yakin, a—ayo kita coba lagi. Anna akan berusaha."


Rasya menganggukkan kepalanya, lalu dengan perlahan, ia kembali mendekatkan wajahnya pada Anna. Perlahan tapi pasti, bibir keduanya kembali menyatu. Rasya tersenyum di sela ciuman nya saat melihat mata Anna kembali terpejam dengan tangan yang mencengkram bajunya dengan cukup kuat.


Sedikit lega, karena kali ini, Anna tidak merasa ketakutan seperti sebelumnya. Hingga, setelah beberapa saat, Rasya pun melepaskan ciuman nya, ia menyatukan kening nya dan Anna, semakin tersenyum saat melihat mata Anna terbuka dengan wajah yang semakin merona.


“Anna malu,” lirih Anna semakin menyembunyikan wajah nya pada dada bidang Rasya dan tangan nya tak henti henti memukul mukul dada Rasya hingga membuat laki laki itu semakin gemas pada istrinya.


“Baru ciuman Sayang, belum yang lain.” Bisik Rasya begitu menggoda sehingga membuat tubuh Anna semakin terasa kaku.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Udah ya udah, Anna nya malu. Jadi skip saja, bye bye 🙈🙈🙈🙈


__ADS_2