
Setelah menyelesaikan meeting nya, Rasya pun segera bergegas ke kampus Anna, ia berharap bahwa gadis itu belum pulang. Ia sudah berulang kali mengubungi Anna, bahkan mengirimkan pesan, dan hingga kini tidak mendapat jawaban apapun, beruntung ia bertemu dengan dua sahabat Anna, yakni Farah dan Karin.
“Maaf, dimana Anna?” tanya Rasya dengan lembut dan sopan seperti biasa,
“Maaf Kak, Anna sudah pergi dari tadi.” Jawab Karin, “Tadi kami pergi ke Mall sana, tapi dia pergi dulu katanya mau menemui siapa tadi Rah?” imbuh nya sambil menunjuk sebuah Mall yang gedung nya berada tak jauh dari kampus.
“Kak leon apa siapa ya, aku lupa. Tapi pokok nya itu lah,” saut farah sambil masih fokus dengan ponsel nya.
“Leon? Kemana?” tanya Rasya.
“Tidak tahu kak, tapi tadi kami seperti denger kayaknya dia mabuk.” Jelas Karin mengingat kembali obrolan Anna.
“Baiklah, terimakasih yah.” Kata Rasya, kini ia tahu kemana Anna pergi. Dengan langkah cepat, ia segera masuk ke dalam mobil dan menuju Kafe milik Leon.
__ADS_1
Rasa, Aldi dan juga Angga, sudah hafal betul bila Leon mabuk pasti berada di kafe. Seperti saat dulu masih sekolah, dia sekalu mengajak minum di ruangan private milik nya dnegan dalih mereka nongkrong dan bermain musik, namun Leon selalu membawa minuman yang entah darimana ia dapat kan.
Sekitar tiga puluh menit, Rasya sudah tiba di kafe, ia segera masuk dan menanyakan kepada pelayan.
“Permisi, apakah Leon ada?”
“Oh pak Leon ada di ruangan nya Pak, dan tadi juga ada seorang perempuan yang menemani pak Leon.” Tutur salah seorang pelayan.
“Baiklah kalau begitu saya naik dulu, permisi.” Rasa segera berjalan cepat menuju lantai dua, dan saat ia sudah dekat dengan ruangan itu, ia mendengar suara Anna yang terus berteriak meminta tolong. Jantung Rasya berdetak dengan begitu cepat, hatinya begitu sakit mendengar suara teriakan Anna. Ia pun segera mempercepat jalan nya, mungkin lebih tepat nya berlari agar segera sampai di ujung lorong yang berada ruangan Leon.
Satu pemandangan yang sangat membuat darah Rasya mendidih. Rahang nya mengeras serta kepalan tangan siap meninju sahabat nya saat itu juga.
Bugg!
__ADS_1
“Bangsaattt!” teriak Rasya begitu nyaring dan langsung menghajar Leon membabi buta. Akal sehat nya seakan hilang, ia sudah tidak perduli bila ia menghajar atau bahkan akan membunuh sahabat nya.
Hatinya sakit, ia tidak terima melihat Leon menelanjangi Anna, terlebih tangan Leon terus mencengkram leher Anna hingga membuat gadis itu merintih kesakitan.
“Gue gak nyangka, lo se- anjing ini!” pekik nya dengan nafas memburu, ia bangkit dan menatap Leon yang sudah terkapar di lantai dengan berlumur darah.
“Ka- kak ... “ panggil Anna begitu lirih, namun mampu membuat Rasya tersadar. Dengan cepat, Rasya segera membalik tubuh nya dan menatap ke arah Anna.
Hatinya begitu sakit, seolah tersayat melihat keadaan Anna yang cukup parah. Lehernya terdapat bekas cekikan Leon yang lumayan parah, sangat merah dan juga berdarah karena terkena kuku mungkin. Ia segera melepaskan jas nya dan membalut kan nya pada gadis itu, hingga tanpa sadar air matanya ikut menetes.
“Ka- kakak, Anna gak bisa nafas ... “ gumam Anna dengan sedikit kesulitan.
“Bertahan lah. Kita ke rumah sakit sekarang,” bisik Rasya begitu pelan di sertai isak tangis yang tertahan.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan keadaan Leon, ia segera menggendong tubuh Anna dan segera membawa nya ke rumah sakit. Namun, sebelum itu ia sudah mengatakan pada pelayan Kafe agar segera memanggilkan ambulan, karena kondisi Leon cukup parah.
Tentu saja hal itu membuat seluruh karyawan kafe menjadi panik dan berlari melihat keadaan anak dari bos nya.