HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Penjelasan Rasya


__ADS_3

Belum sempat Rasya menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Aldi, tiba tiba mereka di kejutkan oleh seorang pasien yang tengah di dorong oleh beberapa perawat menuju ruang UGD.


Mata Aldi menyipit, mengamati pasien yang baru saja datang, namun tiba tiba ia terkejut saat melihat ternyata sahabat nya yang datang dengan luka yang lumayan parah hingga tak sadarkan diri seperti itu. Berbeda dengan Aldi yang terkejut dan merasa simpati pada Leon, wajah Rasya sejak tadi terlihat mengeras dengan tangan yang mengepal kuat menahan amarah.


“Leon, ... kenapa dia bisa seperti itu Sus?” tanya Aldi kepada salah seorang perawat.


“Maaf Pak, kami belum tahu pasti.” Jawab suster lalu ia hendak melanjutkan langkah nya menuju ruang UGD sebelum akhirnya Rasya ikut menghentikan langkah suster tersebut.


“Tolong segera pindahkan gadis yang di dalam, jangan sampai dia melihat laki laki itu!” ujar Rasya begitu dingin, hingga membuat Aldi dan om Tian menatapnya heran.

__ADS_1


“Jangan tanyakan apapun, saya mau Anna segera di pindahkan. SEKARANG!” imbuh nya dengan tegas.


“Ada apa Ras?” tanya Aldi penasaran, karena selama ia mengenal Rasya baru kali ini ia melihat Rasya terlihat se marah ini.


“Aku yang menghajarnya, dan seharusnya aku juga membunuhnya!” ujar Rasya dengan raut wajah datar nya, tentu saja hal itu membuat Aldi dan juga om Tian sangat terkejut, karena Rasya bukanlah type orang yang mudah marah apalagi sampai mengatakan hal seperti itu. Sementara itu, Rasya yang melihat raut kebingungan di wajah Aldi dan om Tian, akhirnya menceritakan semuanya.


“Bagaimana mungkin?” gumam Aldi begitu lirih, hatinya ikut sakit dan amarah nya ikut memuncak, membayangkan adik nya di perlakukan seperti itu oleh sahabat nya. Tak berbeda dengan Aldi, om Tian pun juga ikut marah dan mengumpat kasar, tentu saja ia tidak terima mendengar putri kesayangan nya di perlakukan seperti itu.


Bila tadi dokter hanya mengatakan tentang luka yang di alami oleh Anna, dan kini ia semakin marah saat mendengar bahkan Leon sampai hampir menelanjangi Anna. Tian tidak bisa membayangkan hal itu bisa menimpa putri nya. Hidupnya serasa runtuh, air matanya terus mengalir deras membasahi pipi nya tanpa permisi.

__ADS_1


****


Hingga pagi hari, Anna belum juga membuka matanya. Dan Tian, ia sama sekali tidak mengizinkan siapapun masuk untuk melihat Anna. Bahkan, Aldi pun tidak ia perbolehkan masuk, hanya dirinya yang bisa masuk. Ia tidak akan membiarkan laki laki lain melihat keadaan Anna saat ini, dan semalaman penuh, Tian sampai tidak tidur karena menemani putri nya.


“Sayang, maafin papa. Bangun sayang, jangan tinggalin papa. Maafin papa, papa gagal jagain kamu,” gumam Tian begitu lirih, air matanya seolah tidak bisa mengering, sejak kemarin ia terus menangis hingga membuat matanya bengkak.


“Sayang, maafkan aku yang tidak bisa menjaga putri kita. Ku mohon, kembalikan putri kita, jangan bawa dia, aku mohon, aku tidak akan sanggup untuk kehilangan lagi, aku mohon kembalikan putri kita, aku janji aku akan lebih hati hati lagi menjaga nya, aku mohon ... “ gumam Tian yang sudah memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Anna.


“Aku sudah cukup berat kehilangan kamu, aku gak mau sampai putri kita juga meninggalkan ku, aku mohon ... Kembalikan putri kita ... “ gumam nya semakin lirih hingga akhirnya ia terlelap karena kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2