HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Sidang


__ADS_3

“Tidak bisakah kakak mencoba nya terlebih dulu sebelum memutuskan?” tanya Anna dengan suara yang sudah sangat parau akibat menangis sejak tadi.


“Anna,” begitu sulit untuk Rasya untuk mengiyakan, namun ia juga tidak bisa menolak dan membiarkan Anna pergi atau menghindarinya lagi.


Anna bergeming, ia menarik napasnya sedalam mungkin dan menghapus air matanya. Oke cukup, sudah lelah ia berjuang dan menunggu,ia putuskan untuk berhenti. Rasya sama sekali tidak bisa berani untuk mengambil keputusan, rasya tidak bisa memperjuangkan nya.


Tanpa berkata apapun lagi, Anna segera mengambil tas nya yang sudah terjatuh di lantai, ia segera berlari meninggalkan Rasya. Baru saja Rasya hendak mengejar, namun suara pintu yang di buka dari dalam membuat nya terdiam dan mengurungkan niat.


Aldi dan Michele menatap rasya dengan tatapan yang sulit untuk di mengerti. Hingga beberapa detik, terdengar suara helaan napas berat dari Aldi dan juga Michele.


“Jadi, kak Rasya juga menyukai Anna?” tanya Michele menyimpulkan sendiri, “Dan itu sejak kakak patah hati karena Michele?” imbuhnya namun Rasya masih diam dan tidak menjawab, kini matanya hanya tertuju pada Aldi yang nampak menatapnya datar.


“Dulu aku tidak bisa menerimanya, karena dia adik kalian! Aku tidak mau di anggap menjadikan nya pelampiasan karena belum bisa move on dari kamu!’ jawab Rasya sambil memejamkan matanya sesekali.

__ADS_1


“Lalu?” tanya Michele mengerutkan dahinya lagi, “Apakah sekarang kakak juga masih belum move on dari Michele?”


“Jangan gila Chel! Kamu sekarang adikku!” senggah rasya dengan cepat.


“Lalu kenapa kakak masih juga tidak mau menerima Anna?” tanya Michele begitu frustasi. “Renata, oke, kalian berbeda keyakinan. Tapi Anna? Tuhan kalian sama, hati kalian juga sama saling mencintai, lalu apa lagi kak? Apa yang menjadi penghalang kalian?”


“Restu!” jawab Rasya datar, “Aku tidak mau membuat keluarga Anna malu saat putri satu satunya menikah atau bersama lelaki seperti ku!”


“Apa menurut mu, papa ku orang seperti itu?” tanya Aldi dengan raut wajah datar dan tak menyukai perkataan rasya.


“Papa Tian bukan orang yang gila akan perduli dengan pendapat orang lain. Dia bukan orang yang dengan mudah menilai seseorang hanya dari satu sudut pandang!” bela Aldi untuk papa Tian, “Terlebih untuk Anna.”


“Justru itu Al, Anna putri satu satunya om Tian. Dia tidak akan membiarkan putrinya terluka.”

__ADS_1


“Berarti kau berniat untuk melukai Anna setelah mendapatkan nya!” saut Aldi dengan cepat dan tatapan matanya semakin tajam menatap Rasya.


“Astaga, bukan seperti itu Al—“ Rasa sudah kehabisan kata kata, ia sudah tidak bisa menjawab ucapan Aldi lagi. Ia bingung bagaimana lagi untuk menjelaskan kepada Aldi dengan apa yang dia rasakan saat ini.


“Kak, tolong pikirkan lagi. Anna sangat mencintai kakak, dan juga Chila. Chila bahkan sudah sangat nyaman dengan Anna, bukankah ini yang kakak cari selama ini? Wanita yang mampu menjadi ibu dan istri untuk kakak dan Chila. Anna bisa menerima Chila, bahkan Anna bisa merawatnya dengan sangat baik. Terbukti bukan, beberapa hari saat kakak tinggal keluar kota, Chila nyaman dan aman di rumah Anna. Apalagi yang mau kamu tutupin kak! Kakak tinggal buka hati, buka mata kakak lebar lebar, jangan bohongi diri kakak!” kata Michele panjang lebar dan penuh nada kesal.


“Kakak jangan egois. Jangan jadikan satu kesalahan untuk menutup semua akses menuju hati kaka. Lepaskan beban itu kak, kakak butuh pendamping, dan Chila dia juga membutuhkan bunda. Jangan pernah insecure, dan yakinlah dengan apa yang kakak miliki saat ini. Chila bukan sebuah kekurangan yang harus kakak jadikan alasan, dia adalah kelebihan kakak!” imbuh Michele membuat Rasya terdiam dan mencerna ucapan wanita itu.


Drrtt drrtt drrtt


Suara getaran ponsel di saku celana Aldi menghentikan perdebatan mereka. Aldi mengerutkan dahinya saat menatap nama pemanggil yang berada di layar ponsel nya.


“Siapa?” tanya Michele penasaran.

__ADS_1


“Anna,” gumam Aldi pelan, lalu ia segera menggeser tombol hijau itu dan hendak menjawab.


“Kakak tolong Anna!” gumam Anna begitu lirih, namun seolah penuh dengan ketakutan dari seberang sana seketika membuat ketiga nya pias dan menegang hebat.


__ADS_2