
“Mama!” sentak Renata yang tadi mendengar suara teriakan sang mama, dengan cepat ia segera berlari kembali ke kamar baby Vito. Ke khawatiran nya benar terjadi, dimana mama nya kembali menyakiti hati putrinya. Tanpa berkata apapun, Renata segera mengambil paksa baby Vito dari tangan mama Susy, lalu ia lekas menghampiri Chila yang masih menangis di kasur matras.
“Hiks hiks hiks.” Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulut Chila selain isak tangis.
“Sayang, maafin Mami,” gumam Renata langsung memeluk tubuh mungil putri nya.
Vino datang dengan wajah yang sudah mengeras menahan amarah nya, ia sudah melarang mama mertua nya untuk datang selama proses penyembuhan Renata. Dan kini mama nya mengingkari hal itu, bahkan sikap keterlaluan mama mertuanya akan mengakibatkan kesalahan yang cukup fatal untuk ke depan nya.
“Renata, kamu harus sadar! Dia—“
“Kenapa mama disini? Siapa yang mengizinkan mama masuk ke sini!” teriak Renata tanpa menatap mama nya, ia masih fokus memeluk kedua anaknya. Tubuhnya sudah bergetar hebat sejak tadi, jantung nya kembali berdetak semakin cepat.
“Ren—“
“Tidak seharusnya mama disini!” geram Vino mencoba menahan amarah nya.
__ADS_1
“Vin, kamu juga membela anak itu? Asal kalian tahu, anak itu hampir mencelakai Vito. Dia melemparkan ponsel itu ke kaki Vito. Kalian bisa melihat kaki Vito merah!” seru mama Susy menatap tajam pada menantu nya.
“Mami, Chila gak sengaja, Chila gak sengaja. Chila hiks hiks hiks.” kata Chila di sela isak tangis nya.
“Halah, terlalu banyak alasan kamu! Begini cara ayah kamu dalam mendidik hah!”
“Mama cukup!!” teriak Renata, “Tidak cukupkah mama menyakiti Rena selama ini Ma?” tanya nya dengan intonasi suara yang lebih rendah.
“Tidak seharusnya mama disini, sudah cukup mama merusak mental Rena selama ini Mah. Untuk yang terakhir kalinya, Vino masih menghargai mama sebagai mertua Vino, tolong. Tolong keluar dari rumah Vino, tinggalkan kami dan kembalilah ke Dubai atau kemana pun asal jangan pernah datang kemari lagi.” Kata Vino dengan raut wajah datar dan dingin nya.
Deg!
“Vin, kamu jangan bercanda!” seru Susy tak terima.
“Vino tidak pernah bercanda. Vino capek Mah, Vino capek berada di posisi seperti ini, sekian lama, tolong biarkan kami bahagia. Tanpa kehadiran mama.”
__ADS_1
“Astagfirullah, kalian berdua benar benar durhaka. Tega kalian membuang mama hah!”
“Bukan kami yang membuang mama, tapi mama sendiri yang menjauh dari anak mama. Silahkan pergi,” kata Vino menunjuk ke arah pintu.
Tidak terima dengan perlakuan Vino dan Renata, Susy pun bukan pergi malah menghampiri Chila dan Renata. Ia melepaskan paksa pelukan Chila dan Renata lalu menarik paksa tangan Chila agar ikut dengan nya.
“Gak mau! Lepasin Chila, sakit, Chila gak mau!” teriak Chila meronta.
“Mama!” seru Renata dan Vino bersamaan, Vino berusaha untuk mengambil alih Chila, namun tidak bisa karena mama Susy terus mencengkram erat tangan Chila.
Vino tidak mau semakin menyakiti Chila, “Mah, lepasin Chila mah, kasian dia. Dia cucu mama!”
“Mimpi kamu!Dia ini anak haram, kamu harusnya bersyukur dan berterimakasih sama Mama, karena mama kamu terbebas dari anak ini!” pekik mama Susy yang terus menarik tangan Chila menuju pintu keluar.
“Gak mau, sakit Oma, lepasin Chila hiks hiks lepasin!”
__ADS_1
“Diem kamu!” sentak Susy menunjuk wajah menantunya. Vino masih terus berusaha melepaskan cengkraman tangan mama susy dari Chila hingga tiba tiba saat sudah sampai di depan pintu—
“Lepaskan putri saya!”