
Ting Tong ...
Suara bel pintu pagi itu membuat beberapa orang yang tengah menikmati sarapan nya menjadi sedikit terganggu. Siapa yang bertamu sepagi ini di hari weekend, itulah yang mereka pikirkan.
“Biar Anna saja yang buka, Bi.” Kata Anna beranjak dari tempat duduk nya, awalnya Rasya sudah mencegah, namun Anna menggelengkan kepala dan tersenyum. Ia tetap ingin membuka pintu hingga akhirnya Rasya menganggukkan kepala dan melanjutkan sarapan nya.
“Bunda, Chila mau ikut!” seru gadis itu dan Anna dengan senang hati mengajak nya. Dan ini, di meja makan itu hanya tersisa tiga orang laki laki dan juga Michele yang masih menikmati makanan nya.
Setiap weekend, Michele dan Aldi pasti akan menginap di rumah papa Tian. Selain agar ramai, juga karena Aldi harus mengajari Chila mengaji. Chila sudah ada guru ngaji, namun Chila tetap mau papa nya yang mengulang setiap minggu nya.
Cklek!
__ADS_1
Deg!
Anna berulang kali mengerjapkan matanya, jantung nya seolah berdetak begitu cepat saat melihat tamu yang datang ke rumah nya. Sementara itu, Chila nampak memiringkan kepala nya menatap meneliti seorang wanita yang sudah berdiri di depan nya dengan tatapan bingung.
Tatapan keduanya bertemu, hingga membuat mata wanita itu berkaca-kaca.
“Kak Renata ... “ gumam Anna begitu lirih, ia masih syok, terkejut dan juga takut. Bukan takut pada Renata, namun ia takut suaminya akan marah.
“Ha—hay Anna,” sapa nya sedikit terbata, nafas nya juga seolah tercekat di tenggorokan ia merasa begitu susah untuk mengeluarkan suara, terlebih melihat seorang gadis mungil yang sedang berdiri di samping Anna dengan rambut panjang yang di gerai indah itu sesekali tertiup angin.
“Mama sama Bunda gak sopan! Masa tante nya di suruh berdiri terus sih!” cetus Chila seketika membuat ketiga wanita itu tersadar dari keterkejutan nya.
__ADS_1
“Ayo tante, masuk saja, jangan peduliin Bunda sama Mama.” Katanya lagi dan mempersilahkan Renata untuk masuk.
Sakit, ia merasa bagai ada ribuan panah yang langsung menusuk ke jantung nya. Sesak, sangat menyakitkan. Mendengar anak yang ia lahir kan dari rahim nya, memanggil nya dengan sebutan Tante. Sementara memanggil orang lain Mama dan Bunda. Tanpa sadar, air mata Renata lolos begitu saja membasahi pipi nya.
“Tante, dede nya lucu deh. Nanti Chila juga mau punya dede, dua.” Kata Chila menunjukkan dua jarinya pad Renata, “Dari bunda satu, sama dari mama satu!” seru nya lagi yang membuat hati Renata semakin sakit tak tertahan.
Sementara itu, Anna dan Michele masih diam mematung melihat Renata dan Chila yang sudah duduk di sofa ruang tamu bersama baby di gendongan Renata.
“Kok Tante nangis sih? Tante capek yah? Atau haus, Chila mintain bibi buat minum yah?” tawar Chila begitu sopan, namun dengan cepat Renata menggelengkan kepala nya, air matanya sudah takbisa ia bendung lagi. Ia tak percaya bahwa kini ia benar bisa bertemu langsung dengan putri nya.
Selama ini, ia hanya bisa melihat lewat foto, dan kini ia bahkan bisa menyentuh nya langsung. Dan tanpa berlama lama, Renata langsung memeluk tubuh Chila dengan begitu erat, dengan tangan satu lagi yang masih menggendong baby nya.
__ADS_1
“Ren, kasian Vito!” seru Michele dan langsung mengambil bayi Renata agar tidak ke himpit.
Chila masih diam, ia hanya menurut saat ada orang asing yang memeluk nya, namun matanya tak lepas menatap bunda nya yang nampak memasang wajah sedih, terharu namun juga ada ketakutan di balik sorot matanya. Chila masih bingung, ia tidak tau harus berbuat apa, siapa tante Renata dan mengapa memeluk nya, ia tidak tahu.