
“Chila!” panggil Rasya yang entah sudah sejak kapan berada di belakang mereka. Sontak, Renata langsung melepaskan pelukan nya dan menoleh ke belakang, dimana ia bisa melihat wajah Rasya yang biasanya teduh dan hangat, namun kini malah datar, dingin dan menyeramkan.
“Ayah, masa tante nya nangis.Chila gak apa- apa in beneran deh!” kata Chila polos menatap ayah nya, tentu saja hal itu malah semakin membuat air mata Renata semakin tumpah.
“Sayang, kamu bawa Chila ke kamar.” Ucap Rasya menatap istrinya, Anna hanya bisa mengangguk dan menghampiri Chila.
“Ayo Sayang,” kata Anna mengulurkan tangan untuk menggandeng Chila.
Chila hendak beranjak, namun Renata menahan tangan kanan nya, matanya menatap Chila dengan penuh harap, membuat Chila menjadi semakin bingung.
Renata belum berkata apa- apa, sejak tadi ia hanya menikmati pelukan Chila, ia belum mengeluarkan sepatah kata apapun pada putrinya, namun kini ia harus di pisahkan kembali. Berat, itulah yang ia rasakan kini, sangat berat.
__ADS_1
“Sayang ... “ panggil Anna lagi membuat Chila langsung melepaskan tangan Renata dan segera melenggang pergi bersama bunda nya.
“Maaf ya Tante, Chila harus ikut Bunda.” Gumam Chila pelan, tak tega.
“Kak!” Renata langsung menatap Rasya dengan tatapan memohon, namun Rasya tetap datar dan dingin, “Kenapa kamu begitu jahat.” Lirih nya.
“Iya, anggaplah aku seperti itu. Dan sekarang, kamu sudah tahu bahwa aku laki laki jahat, maka dari itu, jangan lagi dekati keluarga ku!” ucap Rasya datar namun terdengar seperti ancaman.
“Kamu sudah menemuinya,” jawab Rasya datar,membuat Renata langsung terdiam. Bukan, bukan hanya menemui maksud Renata, namun ia juga ingin di akui, ia ingin selalu bersama putri nya, ia juga ingin di panggil ibu, bunda, mama atau apa oleh Chila. Bukan tante, ia tidak suka panggilan itu, itu sangat menyakitkan untuk nya.
“Kak, aku mohon. Izinkan aku bersama Chila, hanya sebentar. Beri aku kesempatan, aku mohon.” Pinta Renata hendak menyentuh tangan Rasya,namun laki laki itu segera menghindar dan memundurkan tubuh nya.
__ADS_1
“Kesempatan untuk apa? Kesempatan untuk menyakiti putriku? Harusnya kamu memohon bukan padaku Ren, memohon lah pada orang yang tepat.Aku hanya ingin melindungi putri ku, sudah berulang kali aku katakan. Lupakan kami, kehadiran kamu, hanya akan menambah luka.”
Deg!
Renata langsung mendongakkan kepala nya, matanya menatap Rasya dengan perasaan campur aduk dan tak menentu.
“Kalau kamu menyayangi Chila, jangan temui dia. Atau kamu akan melihat nya terluka.” Kata Rasya lagi, lalu ia segera pergi meninggalkan ruang tamu dan segera menyusul anak dan istri nya di kamar.
Renata semakin terisak, bahkan kini ia sudah terduduk di lantai. Untung saja, Aldi segera membantu nya untuk berdiri dan berpindah duduk ke sofa. Begitupun dengan Michele yang juga menghampiri Renata dan berusaha untuk menenangkan nya.
“Ren ...” panggil Michele begitu lirih.
__ADS_1
“Chel, a—aku hiks hiks hiks. A—aku gak bisa Chel, a—aku egois, aku ingin jadi egois, ta—tapi aku juga gak mau nyakitin Chila. Chel, a—aku harus bagaimana hiks hiks..” Michele segera memeluk Renata setelah memberikan baby Vito kepada Aldi, ia sedang berusaha menenangkan sahabat nya dan mencoba memberikan pengertian walau ia tahu apapun pendapat yang keluar dari mulut nya tidak akan bisa membantu apapun.