HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Anak satu satunya


__ADS_3

“Chila, kamu gak mau masuk ke sana”?” tanya Michele sedikit berbisik dan menunjuk kamar Anna yang setengah terbuka.


“Enggak,” jawab Chila yang masih fokus mewarnai buku nya.


“Kenapa?” tanya Michele lagi mengerutkan dahi.


“Kata papa tadi, Ayah sedang ada perlu sama tante Forzen. Jadi Chila harus jadi anak yang baik, tidak boleh ganggu.”


“Iks, papa kamu gak asik!” decak nya sambil sesekali melihat ke arah kamar Aldi yang masih tertutup. beberapa saat yang lalu, Aldi pamit karena ingin ke toilet, maka dari itu Michele berusaha menghasut Chila agar menyusul Rasya dan Anna.


***


Beberapa hari setelah lamaran nya di terima oleh Anna, sore ini, Rasya bersama dengan mama Lily dan Chila berniat untuk mengunjungi kediaman Anna kembali. Tentu saja, ia ingin melamar Anna lebih formal kepada keluarga nya.


Dan kini, semua sudah berkumpul di ruang tamu rumah Anna, di sana Aldi dan mama Lily duduk berdampingan. Di sofa sebelah nya ada Aldi dan juga Michele, serta di seberang sana, Tian dan Anna dan di tengah nya Chila tengah duduk bertiga. Jangan tanya mengapa Chila malah duduk bersama Tian dan Anna, tentu saja karena itu kemauan nya sendiri yang sudah tak sabar ingin selalu bersama Anna.

__ADS_1


“Jadi, kedatangan saya dan mama saya kemari, karena saya ingin melamar putri om Tian untuk menjadi istri saya. Saya tahu, bahwa saya memiliki banyak kekurangan, tapi saya mencintai Anna sudah sejak dulu. Saya memang bukan laki laki sempurna, dan saya sadar, cinta yang saya berikan tidak bisa sebesar cinta yang om berikan padanya selama ini. Namun, saya akan terus berusaha untuk membuatnya bahagia di samping saya om. Izinkan saya untuk menikahi Anna dan membahagiakan nya,” ucap Rasya sedikit gugup dan tegang.


Walaupun ia sudah berlatih dan beberapa kali belajar mengucapkan kata kata, namun tetap saja dirinya merasa gugup dan tidak percaya diri. Karena ia tahu kekurangan nya lebih besar di banding kelebihan nya, dan gadis yang ingin dia nikahi bukanlah gadis biasa. Dia adalah putri kesayangan dan ratu di rumah nya, akan sangat sulit meminta gadis itu dari keluarga nya.


Sementara itu, Tian yang melihat wajah Rasya yang terlihat gugup hanya bisa tersenyum miring, namun dalam hatinya ia bersyukur bahwa akhirnya Rasya berani mengungkapkan perasaan nya dan berani menemuinya. Karena inilah yang ia tunggu selama ini, untuk sesaat ia sempat melirik kearah samping nya.


Anna, putrinya itu kini juga tak kalah gugup dari Rasya, tangan nya terus memeluk tubuh Chila, dan pandangan nya menunduk, mungkin ia sedang berdoa, batin Tian.


“Tidak perlu basa basi, jadi kapan kamu akan menikahi putri saya?” tanya Tian dengan tatapan wajah datar nya, namun dalam hatinya ia begitu bersyukur.


“Udah kak, besok aja langsung nikah!” celetuk Michele mengembangkan senyum nya begitu lebar.


“Hushh, kamu ini.” bisik Aldi sungkan.


“Lebih cepat lebih baik yank, iya gak An? Kak Rasya?” tanya Michele menggoda kedua calon pengantin yang terlihat sedikit malu.

__ADS_1


“Beri saya waktu satu minggu untuk mengurus semuanya,” ucap Rasya pada akhirnya, kini ia menatap Tian dengan tegas dan sangat yakin.


“Iya, saya rasa satu minggu cukup untuk menyiapkan semuanya. Mengingat, ini adalah pernikahan anak satu satunya kita kan, jadi saya ingin ini begitu berkesan. Dan juga pernikahan adalah sekali dalam seumur hidup, bukan?”


“Mah!” seru Rasya begitu pelan karena merasa kata kata mama nya terlalu berlebihan.


Seolah tersadar bahwa ucapan nya salah, mama Lily segera melirik ke arah Aldi dengan tatapan bersalah, “Maaf, Al, maksud mama bukan—“


“Tidak apa Mah, Aldi ngerti kok. Dan Aldi juga setuju dengan usul Mama. Pernikahan ini harus berkesan dan mewah, karena baik dari Rasya dan Anna, mereka hanya akan menikah satu kali seumur hidup.” jelas Aldi dengan senyum khas nya.


“Sayang, maksud kamu apa? Apakah pernikahan kita kemarin kurang berkesan? Atau kamu ingin menikah lagi nanti hah!” seru Michele yang tiba tiba merasa sensitif mendengar ucapan Aldi, "Awas saja kamu kalau berani punya niat buat menikah lagi!" imbuhnya seraya beranjak dan pergi meninggalkan ruang tamu.


“Eh, bu—bukan begitu, Sayang ... “ seru Aldi saat melihat Michele malah beranjak dari sofa dan pergi ke kamar, “Maaf, silahkan di lanjut lagi, dan saya permisi dulu. Maaf Pa,” ucap Aldi lagi menatap papa Tian segan, lalu ia segera pergi.


Sebenarnya, Michele tidak marah mendengar ucapan Aldi. Hanya saja, ia sengaja berpura pura merajuk karena ingin mengalihkan pembicaraan. Ia tahu, pasti suaminya bersedih mendengar ucapan mama Lily, memang tidak ada yang salah, memang benar, Anna dan Rasya adalah anak tunggal, anak satu satunya, walau ada Aldi di antara mereka. Namun tetap saja, Aldi pasti merasa asing dan terasingkan, maka dari itu, Michele pura pura marah dan pergi agar Aldi ikut menyusulnya dan tidak lagi merasa sedih karena ucapan mama Lily.

__ADS_1


__ADS_2