HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Kenapa harus kamu?


__ADS_3

Setelah puas bermain dan makan, kini Anna dan Chila sudah kembali pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, Anna selalu mewanti wanti agar Chila tidak mengatakan dengan siapa mereka pergi tadi, Anna juga memberikan sedikit pengertian pada Chila. Walau sulit dan sedikit kurang mengerti, namun Chila menganggukkan kepala dan menurut.


Bila biasanya Rasya pulang ke rumah selalu lewat jam lima, namun hari ini entah mengapa baru jam empat mobil milik Rasya sudah terparkir di halaman rumah. Yang menandakan bahwa suaminya itu sudah pulang.


“Chila ingat ya pesan bunda Sayang?” tanya Anna sekali lagi memastikan.


“Insyaallah bunda,” jawab Chila dengan senyum mengembang di wajah nya.


Sejujurnya, Anna tidak ingin mengajari Chila berbohong, namun ia juga tidak bisa membiarkan Chila untuk jujur saat ini. Katakanlah dirinya berdosa karena sudah membohongi suaminya dna mengajari anak nya berbohong, namun ia melakukan itu karena terpaksa.


“Assalamualaikum, ayah!” pekik nya terkejut dan langsung menghambur kepada papa nya yang sedang duduk di ruang tamu, yang mana nampaknya Rasya sengaja menunggu kepulangan anak dan istri nya.


“Waalaikumsalam, putri cantik Ayah.” Jawab Rasya tersenyum lalu mencium pucuk kepala Chila, “Uh bau asem nih. Mandi dulu gih, terus sholat.”

__ADS_1


“Oke siap Ayah!” kata Chila langsung memberikan hormat kepada papa nya membuat Rasya terkekeh pelan.


Seperginya Chila menuju kamar, Rasya langsung menatap istri nya. Tidak ada tatapan marah, hanya saja wajah nya datar. Ia menunggu penjelasan istrinya mengapa baru pulang jam segini, pikir Rasya.


“Aku tunggu di kamar!” kata Rasya pelan dan ia segera beranjak menuju kamar.


Anna menghela napas nya sedikit berat. Bohong, adalah hal yang paling sulit Anna lakukan. Belum sempat Rasya bertanya padanya, ia sudah merasa sangat gugup dan tubuh nya bergetar. Jantung nya berdetak dengan begitu cepat, serta keringat dingin mulai menetes membasahi kening nya.


Cklek!’


“Kakak—“


“Kenapa?” potong Rasya saat Anna hendak berbicara. “kenapa kamu harus melakukan ini?”

__ADS_1


Marah, kecewa itulah yang Rasya rasakan saat ini. Bagaimana tidak ia mendapatkan info dari supir nya bahwa Anna bertemu dengan Renata di sekolah. Bahkan Renata juga mengajak nya jalan jalan di Mall. Tanpa izin dari nya, bagaimana Rasya tidak marah dan kecewa.


“Ma—maafin Anna,” gumam Anna menelan saliva nya dengan susah.


“Apa kamu tidak mendengarkan aku? Apakah kamu tidak bisa menghargai keputusan ku?” tekan Rasya menatap datar pada wajah istrinya.


“Bu—bukan begitu kak, Anna ... “ wanita itu langsung mengepalkan tangan nya dengan sangat kuat, kepalanya sejak tadi menunduk tak berani menatap sang suami.


“Kenapa harus kamu yang melawan ku Anna, kenapa harus kamu?’ desis Rasya begitu kecewa, "Kamu tahu betul kelemahan aku, kenapa harus kamu! Apakah aku harus marah sama kamu? Atau haruskah aku membentak kamu? Berulang kali aku sudah mengatakan nya sama kamu An, berulang kali!" serunya sambil menarik nafas panjang agar emosi nya tidak lepas.


“Maafin Anna kak, hiks hiks hiks.” Kini Anna Sudah terisak di tempat nya, ia tidak berani menatap langsung pada suaminya, ia hanya bisa menangis sambil menunduk.


Rasya menghela nafas nya kasar, ia tidak bisa melihat Anna menangis seperti ini. Ia tahu bahwa saat ini istrinya sedang ketakutan namun dirinya juga sangat kecewa, namun ia kembali teringat bahwa kini istrinya sedang hamil. Mau tak mau, akhirnya ia mengalah dan menghampiri Anna.

__ADS_1


Memeluknya dengan erat dan mencoba meredam kekesalan nya sendiri, “Aku mohon, jangan ulangi lagi. Cukup ini yang terakhir kamu melakukan nya.” Kata rasya begitu pelan dan lembut, sudah tidak ada aura dingin lagi.


“Maafin Anna, hiks hiks hiks.” Anna menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan rasya tak kalah erat.


__ADS_2