HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Jerit Anna


__ADS_3

“Aaarrrkkhhhhh!” pekik Anna langsung terjatuh sambil mencengkram erat perutnya yang terasa semakin sakit. Ia sudah menahan nya sejak tadi, ia sudah berusaha untuk kuat, tapi kini dirinya benar-benar sudah tidak bisa menahan nya lagi.


Dirinya tidak sekuat yang di harapkan, ia tumbang. Ia tak mampu menahan kontraksi yang kian menyiksa nya sejak beberapa jam yang lalu. Rasya yang mendengar pekik kan dari Anna, segera membalikkan tubuh nya, ia begitu terkejut saat menyadari bahwa istrinya sudah terjatuh dengan berlumuran cairan lendir bercampur warna merah.


“Sa—Sayang, ka—kamu ...” Seketika tubuh Rasya mematung, ia tergagap untuk sesaat.


"Sa—sakit, kakak sakitt aahhh huhhh!" Anna terus berusaha menarik nafas panjang lalu ia hembuskan dan ia lakukan berulang.


"Ki—kita ke rumah sakit!" Setelah beberapa detik, Rasa sudah merilekskan diri, ia menarik nafas sedalam mungkin, dan segera mengangkat tubuh Anna dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Sshhh sakit, kakak sakit." Pekik Anna tertahan, air mata dan keringat sudah bercampur membasahi kening dan wajah nya.


"Bertahan Sayang, maafin aku. Maaf, ku mohon bertahan. Kamu kuat," gumam Rasya saat berlari menuju mobil sambil menggendong tubuh Anna.

__ADS_1


“Oma, maafin ayah nya Chila yah. Maaf juga buat Mami sama Papi hiks hiks, Chila mau ikut ayah sama bunda.” Pamit Chila masih bersikap sopan dan memastikan keadaan oma Susy, setelah itu ia segera ikut berlari mengejar ayah nya masuk ke dalam mobil.


Untuk sesaat, Vino dan Renata masih menatap kagum pada sosok Chila. Ia benar-benar menjadi anak yang begitu shaleha, Rasya sukses membesarkan Chila hingga menjadi sosok gadis yang begitu baik hati dan santun. Dan kini, Renata membenarkan ucapan Rasya kala itu, memang benar keberadaan nya hanya akan menambah luka gadis kecil itu.


'Aku bukan ibu yang baik untuk nya. Ya Allah maafin Mami, Sayang,' gumam Renata dengan perasaan bersalahnya menatap putrinya yang sedang berlari menuju mobil.


Sementara itu, di dalam mobil, Anna dan Rasya duduk di belakang, sementara Chila duduk di depan bersama supir.


“Sayang, bertahanlah. Ku mohon, bertahan, maafin aku.” Bisik Rasya dengan nada bergetar hebat, dirinya panik bercampur takut.


“Bunda, Chila gapapa. Bunda harus kuat, maafin Chila Bunda, maafin Chila hiks hiks.” Gadis kecil itu membalikkan tubuhnya menatap ke belakang, ia bisa melihat bagaimana wajah bunda nya begitu menahan sakit.


“Ma—maafin Bunda ... “ gumam Anna begitu lirih dengan suara yang hampir tak terdengar.

__ADS_1


“Enggak! Bunda gak salah, ini semua salah Chila. Maafin Chila, bunda jangan banyak bicara, Chila gak mau bunda kenapa_ kenapa!” seru Chila di sertai isak tangis nya. Sementara itu Rasya terus memeluk kepala istrinya, ia tak henti hentinya berdoa kepada Tuhan, serta meminta maaf kepada Anna.


“Ka—kakak, maafin Anna. Ma—maafin Anna belum jadi istri yang baik untuk kakak. Ma—maafin Anna yang selalu membantah ucapan kakak, maaf—“ Nafas Anna kian memburu, bahkan kini bibir nya sampai mengeluarkan darah akibat gigitan nya sendiri untuk menahan rasa sakit.


Jalanan yang sedikit macet, membuat mobil itu berjalan terasa lambat.


“Enggak Sayang, aku, aku yang minta maaf. Kamu harus kuat, kamu harus bertahan demi aku, demi Chila dan demi anak kita. Aku mohon, bertahan lah.” Gumam Rasya semakin terisak.


“Aauuwhhsshh! Sakitt!! Anna gak kuat kak!” jerit Anna semakin mencengkram perutnya dengan erat, tubuh nya sudah sangat basah akibat peluh walau pun keadaan mobil itu sudah ber-AC.


“Kamu harus kuat Sayang, harus.” Rasya terus berusaha menguatkan istrinya, “Pak buruan!” sentak Rasya kepada supirnya.


Setelah beberapa saat,mobil yang di tumpangi Anna sudah tiba di Pranata Hospital. Ternyata, di sana sudah ada papa Tian berdiri menunggu kedatangan mereka. Rasya sedikit di buat bingung, mengapa papa mertuanya sudah ada di rumah sakit, sementara dirinya belum mengabari apapun padanya.

__ADS_1


Tidak ingin membuang waktu, Rasya segera menggendong tubuh Anna dan membawa nya ke ruang IGD. Papa Tian dan Chila pun langsung ikut berlari mengekor di belakang Rasya. Hingga setelah membaringkan Anna di atas brankar, seorang perawat menyuruh nya untuk menunggu di luar.


“Bunda gapapa, Bunda gappa. Bunda nya Chila kuat, bunda nya Chila kuat. Dede bayi juga gak nakal, dede bayi kuat. Chila salah, Chila yang nakal, semua gara-gara Chila hiks hiks.” Gumam gadis itu menggerutu seorang diri di sebuah kursi, air matanya sejak tadi tak berhenti mengalir, ia sangat merasa bersalah akan apa yang terjadi hari ini. Andai, dirinya tidak memaksa bunda nya untuk membantu nya bertemu dengan ibu kandung nya, tentu semua ini mungkin tidak akan terjadi. Dan kini, Chila merasa sangat ketakutan, ia takut bila sampai terjadi sesuatu dengan bunda dan calon adiknya.


__ADS_2