HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Rasa bersalah Chila


__ADS_3

“Bunda gapapa, Bunda gapapa. Bunda nya Chila kuat, bunda nya Chila kuat. Dede bayi juga gak nakal, dede bayi kuat. Chila salah, Chila yang nakal, semua gara-gara Chila hiks hiks.” Gumam gadis itu menggerutu seorang diri di sebuah kursi, air matanya sejak tadi tak berhenti mengalir, ia sangat merasa bersalah akan apa yang terjadi hari ini. Andai, dirinya tidak memaksa bunda nya untuk membantu nya bertemu dengan ibu kandung nya, tentu semua ini mungkin tidak akan terjadi. Dan kini, Chila merasa sangat ketakutan, ia takut bila sampai terjadi sesuatu dengan bunda dan calon adiknya.


“Sayang, jangan seperti ini.” Rasya yang melihat putrinya masih syok dan begitu merasa bersalah, langsung menghampiri nya Dan berjongkok di depan Chila dengan menggenggam kedua tangan nya.


“Bunda hiks hiks hiks. Semua salah Chila Ayah, semua karena Chila hiks hiks.” Gumam Chila di sela isak tangisnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya papa Tian dengan raut wajah datar nya menatap Rasya.

__ADS_1


“Pa, Rasya akan jelasin tapi tidak sekarang. Rasya mohon,” pinta Rasya menatap mertuanya, ia mengisyaratkan akan menenangkan Chila terlebih dulu.


Papa Tian menghela nafas nya dengan kasar. Hatinya sudah bergemuruh sejak tadi. Sebenarnya, kepulangan nya masih minggu depan, namun entah kenapa sejak kemarin hatinya tidak enak dan khawatir. Ia tidak tahu dengan apa yang ia cemaskan, namun ia putuskan untuk pulang secepatnya, memastikan semua aman dan baik baik saja baru ia akan kembali lagi mengurus pekerjaan.


Dan benar saja, saat dirinya baru sampai di rumah Rasya, Ia sudah melihat bagaimana Anna, putrinya kesakitan namun wanita itu masih berpura pura kuat dan keras kepala. Tentu saja, keras kepala Anna di dapatkan dari dirinya. Tian tidak bisa mencegah Anna pergi, hingga akhirnya ia putuskan untuk menunggu Anna di rumah sakit.


Takut, khawatir, resah, gelisah dan marah semua bercampur menjadi satu di benak papa Tian. Ia takut, kejadian saat dimana Cristy melahirkan Anna akan terulang kembali.Namun ia masih berusaha tenang, ia kembali mengingat ucapan Anna saat sebelum pergi.

__ADS_1


Papa Tian menyugar rambutnya dengan kasar, menyandarkan kepala ke dinding dan terus berdoa agar putrinya baik-baik saja. Meskipun umurnya tak lagi muda, namun papa Tian masih terlihat begitu fit dan gagah, di umurnya yang hampir menyentuh kepala lima, wajahnya masih terlihat seperti kepala empat. Bila di sandingkan dirinya dan Rasya, maka tidak akan terlihat seperti mertua dan menantu. Mungkin lebih akan terlihat seperti kakak dan adik.


“Opa jangan marahin papa. Ini salah Chila, Chila yang buat bunda seperti ini. Maafin Chila Opa,” kata Chila menghampiri opa Tian dan menggenggam tangan laki laki paruh baya itu.


“Sayang ...” Rasya menatap Chila dan menggelengkan kepalanya, ia tidak tega melihat wajah putrinya yang penuh dnegan rasa bersalah.


Bila ada yang harus di salahkan, itu bukan Chila,namun dirinya. Harusnya ia tidak mendiamkan Anna, harusnya ia bisa menekan ego nya. Benar dengan apa yang di katakan Michele, ‘Dendam hanya akan menambah luka tanpa bisa menyembuhkan luka itu sendiri.’

__ADS_1


Dan kini, ia menyesal, karena kemarahan dan kekecewaan nya, Anna harus berada di di posisi seperti ini. Andai sejak awal dirinya bisa memberikan pengertian kepada Chila tentang ibu kandung nya, dan bisa membatasi rasa ke ingin tahuan Chila, tentu semua tidak akan seperti ini.


'Harusnya aku lebih bisa memperhatikan kamu Sayang, maafkan aku yang belum bisa menjadi suami siaga untuk kamu. Ini semua salahku, iya salah aku, kumohon segeralah sembuh agar kau bisa memarahi ku dan membenci ku sepuas kamu. Tak apa, aku rela asal kamu akan terus baik-baik saja.' gumam Rasa dalam hati.


__ADS_2