
“Ayo Om, ayoo, buruan!” Dengan perasaan bahagia, Chila bersorak dan sesekali bernyanyi sambil menuruni anak tangga. Di belakang nya, Mike tampak begitu kesal karena begitu malas untuk keluar. Dirinya ingin istirahat dan bermain ponsel di kamar, namun apalah daya bila Chila sudah ada di rumah itu, dirinya tak akan bisa bersantai.
Seperti siang ini, Chila terus merengek mengajak nya jalan jalan. Ah bukan hanya Chila, namun kakak lucknat Mike pun juga sama, karena dia lah biang keladi utama nya.
Seperti beberapa hari yang lalu, saat dirinya di paksa harus mengantarkan periksa ke dokter kandungan, dirinya harus memakai masker serta jaket tebal, karena Michele dan Chila terus bernyanyi di sepanjang rumah sakit menuju ruang dokter.
Malu, jangan tanyakan lagi. Terkadang Mike sampai bingung dan penasaran, apa yang bunda nya dulu idamkan saat hamil sang kakak. Mengapa ayah dan bunda nya bisa memiliki anak se ajaib kakak nya itu. Dan ia sedikit bersyukur, karena hingga kini, kakak ipar nya masih waras setiap menghadapi sikap kakak nya.
“Chila, pelan pelan atau kamu akan jatuh!” seru Mike pelan sambil menahan tangan Chila karena hampir saja bocah kecil itu terpleset.
“Hehehe.” Chila hanya mendongak dan menyengir polos menatap Mike, lalu ia melanjutkan jalan nya, namun kini dengan berjalan tidak banyak tingkah seperti sebelum nya, “Mamaaaa... yuhuuu, ayo Mah, om nya sudah siap!” teriak Chila mencari keberadaan mama Michele.
__ADS_1
“Ini mulut kenapa begini sih!” seru Mike yang langsung membungkam gemas bibir Chila, “Kamu itu anak perempuan, jangan ngikutin mama Michele, dia itu sesad.” Imbuh nya lagi di iringi dengan decak an kesal.
“Gak boleh kaya mama Icel? Terus Chila kaya gimana? Kaya OM?” tanya Chila dengan wajah polos nya, “Chila harus diem terus kaya patung, kalau kata mama Icel, om itu kanebo. Tapi Chila gak tau kanebo itu apaa.” Celoteh nya dengan memanyunkan bibir.
“Pokoknya, jangan ngikutin gaya dan sikap mama kamu yang sesad itu. Kalem, anggun, jadi anak gadis harus lembut dan sopan,” kata Mike dengan tegas, “Ngerti?” imbuh nya dan langsung mendapatkan anggukan kepala oleh Chila.
“Sesad, sesad, kamu tuh yang sesad!” sentak Michele yang tiba tiba datang dan langsung memukul bahu adik nya dnegan tas.
“Kakak!” seru Mike mengusap bahu nya yang terasa lumayan panas, “Kakak itu emang sesad. Ngajari Chila kaya begitu!”
“Tau ah, ayo buruan, kamu nyetir!” ucapnya kesal allu ia melemparkan kunci mobil pada Mike dan menggandeng Chila keluar rumah.
__ADS_1
Sore itu, Michele, Chila dan Mike menghabiskan waktunya dengan berjalan jalan di Mall. Tak hanya itu, mereka juga bisa makan sepuasnya, tentu saja mumpung tidak ada Aldi atau Rasya, jadi Michele mengajak Chila untuk makan junk food sepuasnya.
“Awas kamu ntar ngadu ngadu!” ancam Michele sesaat sebelum memakan makanan nya, sementara yang di ancam hanya mampu mendengus kesal.
“Tapi ya gak sebanyak ini juga kak, kalau nanti ada apa apa, emang kakak mau nanggung semuanya sendiri? Mike juga yang kena getah nya nanti,” keluh Mike menghela nafas nya berat, “Dan kamu, Chila jangan makan banyak banyak. Besok ayah kamu pulang, kalau kamu makan banyak, sakit perut kamu gak bisa ikut jemput ke Bandara.” Ancam Mike yang membuat Chila langsung terdiam, dan menelan saliva nya susah.
Chila bukan takut akan sakit bila makan terlalu banyak, hanya saja ia terdiam karena besok ayah dan bunda nya akan pulang, dan itu berarti akan ada yang pergi juga.
“Berarti besok, Om juga pergi dong?” tanya Chila pelan memanyunkan bibir nya menatap Mike sambil menggenggam sebuah burger di tangan.
“Michele!” mendengar ada yang memanggil,membuat ketiga orang itu langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1