HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Kekhawatiran Rasya


__ADS_3

Rasya tidak menggunakan mobil nya, ia memilih naik taxi agar ia bisa mendekap tubuh Anna dan berusaha membuat Anna agar tetap terjaga.


“Bertahanlah Anna, aku mohon hiks hiks. Maafkan aku, maafkan aku.” Bisik Rasya di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Anna menarik nafas nya dengan sangat dalam, lalu menghembuskan nya perlahan. Ia merasa sangat kesakitan, bahkan hanya untuk menelan saliva saja, rasanya ia tidak sanggup. Berulang kali ia berusaha memejamkan mata, namun Rasya melarang nya, ia takut bila Anna memejamkan mata, maka gadis itu tidak akan membuka nya lagi.


Mengingat kini keadaan Anna begitu memprihatinkan, “Kenapa kamu bisa seperti in, hiks hiks. Maafin aku Anna, maafkan aku.”


“Ka- kak .. “


I


Love


You

__ADS_1


Anna berucap tanpa suara, lalu setelah itu ia benar benar kehilangan kesadaran nya. Hingga membuat Rasa semakin panik dan khawatir,.


“Pak, cepat lah!” teriak Rasya di tengah kepanikan nya, sang supir taxi pun ikut menjadi panik dan segera menambah kecepatan mobil nya. Hingga beberapa menit kemudian, mobil taxi tiu sudah sampai di rumah sakit terdekat. Rasya segera turun tanpa membayar taxi, karena di pikiran nya saat ini hanyalah keselamatan Anna. Ia berlari memasuki loby rumah sakit dan berteriak memanggil dokter agar menyelamatkan Anna.


“Kamu harus baik baik saja, Anna. Harus,” gumam Rasya menunggu di depan ruang UGD sambil terus mengigit ujung kuku nya, kedua tangan nya saling meremas dengan kuat, kakinya tak henti menghentak hentakkan lantai untuk mengurangi rasa panik dan takut nya.


“Permisi Pak, maaf, anda belum membayar taxi,” ucap seorang supir taxi menghampiri Rasya.


Ia baru tersadar, lalu ia merogoh sakunya dan mengambil dompet untuk membayar ongkos taxi. Setelah itu ia memasukkan kembali dompet nya, dan ia teringat akan ponsel nya, ia segera menghubungi Aldi dan juga om Tian agar segera menyusul ke rumah sakit.


***


Cklek!


Tepat saat dokter membuka pintu ruang pemeriksaan, dari ujung lorong terlihat Aldi dan juga om Tian tengah berlari menuju ke arah nya.

__ADS_1


“Ba- bagaimana keadaan putri saya Dok?” tanya Om Tian dengan nafas terengah-engah.


“Sepertinya, pasien akan mengalami trauma sedikit berat karena kejadian ini. Dan untuk luka di leher nya, ia mendapat empat jahitan karena leher nya sobek. Selebihnya dia baik baik saja.” Tutur sang dokter namun tak membuat ketiga laki laki itu bernafas lega.


“Bagaimana bisa putri saya, leher nya—“ Tian sudah tidak bisa berkata kata, tubuh nya langsung luruh ke lantai meratapi keteledoran nya karena tidak bisa menjaga putri semata wayang nya.


“Leher putri anda luka, karena cekikan dan bisa jadi kuku tajam.: tutur dokter.


“Lalu, apakah kami bisa menemui nya dok?” tanya Rasya seolah menahan nafas.


“Untuk saat ini, dia belum sadar. Dia masih butuh banyak istirahat, jadi biarkan saja dulu sambil menunggu perawat memindahkan nya ke ruang rawat.”


“Baiklah Dok, terimakasih.” Kata Rasya menghela napas nya berat.


“Darimana kamu menemukan Anna? Bagaimana bisa dia sepeti ini? Apakah kamu yang melakukan nya? Katakan Rasya, katakan!” seru Aldi tanpa memperdulikan keadaan sekitar, “Kamu yang bilang bahwa kamu akan mengajaknya makan siang kan, kamu yang bersama nya, bagaimana bisa kamu membuat nya seperti ini hah!”

__ADS_1


__ADS_2