
“Kakak ... “ panggil Anna lirih saat melihat suaminya menutup pintu dengan perlahan.
“Maaf, kamu terbangun?” ucap Rasya tersenyum, lalu ia menghampiri Anna di tempat tidur, “Masih pusing?”
“Enggak, cuma badan Anna lemes banget,” gumam nya pelan. Rasya ikut naik ke tempat tidur dan berbaring tepat di samping istri kecil nya.
“Ya udah, istirahat lagi ya, maaf sudah membangunkan mu.” Rasya mengecup kening Anna dengan begitu lembut, lalu tangan nya ia ulurkan untuk mengusap usap perut Anna yang masih rata.
“Kakak ... “
“Iya Sayang, kamu mau apa hem? Mau makan? Minum? Atau ingin sesuatu? Aku cariin yah?” kata Rasya menawarkan, namun Anna hanya menggelengkan kepala nya.
“Lalu?” tanya Rasya mengerutkan dahinya.
“Anna pengen kakak,” cicit nya pelan dan hampir tak terdengar.
__ADS_1
“Ya udah istirahat ya, aku temenin disini. Aku gak akan kemana mana,” kata Rasya langsung memeluk Anna dengan begitu erat, yang mana malah membuat Anna memberengut kesal.
“Ihh, kakak!” seru nya pelan namun kesal.
“Kenapa?” Rasya menatap istrinya dengan bingung, karena menurut Anna, dirinya selalu salah.
“Anna pengen kakak!”
“Ya Sayang, aku disini, emang nya mau gimana lagi? Aku mesti gimana?” tanya Rasya benar benar bingung.
‘Sayang, jangan marah marah dong. Bicara yang jelas, kamu mau aku ngapain? Beliin makan? Mau minum? Atau harus bagaimana?”
“Kakak ngeselinn!” jerit Anna langsung memunggungi Rasya dengan kesal.
“Astaga.” Rasya mengusap wajah nya kasar, menghela napasnya berat, kini dirinya harus benar-benar extra sabar menghadapi istrinya.
__ADS_1
“Sayang ... “
“Jangan sentuh Anna! Anna kesel sama kakak!” pekik nya menepis tangan Rasya yang hendak memeluknya, namun Rasya tetap memaksa memeluk Anna dan tak menghiraukan pemberontakan nya.
“Mau main?” bisik Rasya di telinga Anna, membuat Anna langsung terdiam dan tidak menepis tangan Rasya lagi.
Sementara itu, Rasya kini hanya mampu mengulum senyum nya sambil menggelengkan kepala. Entah mengapa, dirinya harus senang atau khawatir dengan keadaan Anna.
Istrinya masih hamil muda, namun ia sangat aktif selalu mengajak nya bermain, walaupun ia selalu pelan tapi ia juga khawatir istrinya akan kelelahan, namun selama ini Anna tidak pernah memperlihatkan wajah kelelahan atau kesakitan. Kecuali saat mual di pagi hari, itu memang membuat tubuh Anna lemas dan bahkan hampir pingsan seperti beberapa hari yang lalu, namun bila malam tiba, Anna selalu berubah.
Wanita itu selalu menginginkan sentuhan dari suaminya, yang mana selalu membuat Rasya cemas namun senang. Tentu saja senang, dia merasa sebagai lelaki beruntung, karena pengalaman dari adik nya, Aldi malah sering di usir oleh Michele. Sementara dia? Malah selalu di berikan jatah oleh Anna.
“Tapi badan Anna lemes,” desis Anna sambil menggigit bibir bawah nya, tangan nya sudah ikut mencari cari sesuatu di belakang nya.
“Gapapa, biar aku yang bekerja. Kamu cukup diem, aku gak mau kamu nanti kelelahan,” bisik Rasya dan Anna hanya menganggukkan kepala nya.
__ADS_1
Dengan perlahan namun pasti dan sangat berhati hati, Rasya mulai memberikan apa yang istrinya mau sejak tadi. Sebenarnya, ia sudah paham dengan apa yang di inginkan Anna. Hanya saja, dirinya takut dan sedikit ragu, namun saat melihat Anna merajuk dan marah, akhirnya mau tak mau ia harus memberikan nya, dan sebisa mungkin ia akan melakukan nya dengan sangat lembut agar kandungan Anna tetap aman.