HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Kebimbangan Anna


__ADS_3

“Anna!” panggil Michele saat baru sampai di acara pernikahan Angga.


“Kakak!” tidak ingin merasa canggung berada di dekat Rasya dan Leon, akhirnya Anna memilih untuk mendekati Aldi dan juga Michele.


“Kamu sama siapa kesini? Aku pikir kamu kemana tadi,” kata Michele sedikit bingung, memang benar sebelum dirinya datang ke pesta itu, Aldi dan Michele sempat mampir ke rumah Anna karena Michele ingin mengajak Anna untuk menemani Rasya, namun ternyata dirinya kalah cepat.


“Sejak kapan kalian berdua sedekat itu?” tanya Aldi menatap datar pada adik dan sahabat nya.


“Al, ini cewek yang aku maksud saat itu,” jawab Leon dengan santai.


“Lalu Rara?” tanya Michele kini menatap Leon dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


“Chel, bisa gak kalau gak bahas itu.” Kata Leon seolah tak suka.


“Tapi—" Aldi langsung menahan tangan istrinya dan seolah mengisyaratkan agar Michele menghentikan ucapan nya dengan menggelengkan kepala nya.


“Anna, ayo kita ke sana.” Leon langsung menggandeng tangan Anna dan membawa nya pergi menjauh. Mood Leon langsung berubah seketika saat nama pasangan masa lalu nya di sebut oleh Michele. Dan menjauh adalah pilihan terbaik.


Sementara itu, Rasya yang sejak tadi hanya menyimak dan menatap kepergian Anna dan Leon hanya mampu menghela napas nya dengan berat. Entah mengapa, ada perasaan tidak rela saat melihat sahabat nya menggandeng tangan Anna. Gadis yang sudah ia buat sakit hati beberapa tahun yang lalu. Dirinya ingin gadis itu bahagia, namun ia juga merasa tidak rela bila melihat nya bersama pria lain. Tidak ingin berlarut, Rasya pun akhirnya memilih mendekati Angga dan memberikannya ucapan selamat sekaligus berbincang sedikit, di susul oleh Michele dan juga Aldi.


Sementara itu, Leon dan Anna kini memilih untuk duduk berdua setelah mengambil makanan dan memilih duduk di sebuah bangku yang berada di dekat kolam renang.


“I- iya kak,” jawab Anna lirih dan berusaha melepaskan genggaman tangan Leon, gadis pria itu seolah enggan untuk melepaskan nya.

__ADS_1


“Sekali lagi terimakasih. Terimakasih karena kamu sudah menghibur ku selama ini, dan sekarang terimakasih karena sudah mau menemani ku,” ujar leon dengan tulus, membuat Anna tersenyum canggung.


“Apa kamu masih menyukai nya?” tanya Leon lagi dan lagi membuat Anna terkejut.


“D- dia siapa maksud kakak?” ucap Anna balik bertanya dan seolah tidak mengerti.


Leon langsung melepaskan pegangan tangan Anna lalu berdecak kecil, “An, kamu tidak perlu membohongi ku. Aku tahu kamu dulu menyukai Rasya, apakah sampai sekarang kamu masih menyimpan perasaan itu?”


“Kak, a- aku ...”


“Anna, aku tidak menyalahkan mu bila masih mencintai dia. Tapi aku hanya ingin mengingatkan, bagaimana saat dulu, dia membuat kamu menangis, menolak mu dan menjauhi kamu. Lalu, setelah beberapa tahun, kamu sudah berhasil melupakan nya, apakah kamu masih berniat ingin membangun perasaan itu kembali” tanya Leon menatap lekat pada wajah Anna.

__ADS_1


Anna terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Leon yang baginya sangat sulit. Ia mulai mencerna dan membenarkan ucapan Leon, namun ia juga tidak bisa semudah itu untuk menyerah. Setelah keyakinan nya sempat kembali, kini lagi lagi keyakinan itu goyah.


“Anna, kita sama sama berjuang. Melupakan masa lalu memang lah tidak mudah, tapi asal kita mau berusaha, aku yakin kita bisa melalui itu semua.” Leon kembali menggenggam tangan Anna, bila tadi hanya sebelah tangan, kini keda tangan Anna sudah ia genggam. Mata mereka saling menatap seolah berbicara lewat sorot mata masing masing.


__ADS_2